Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 229. KEMBALI KE NEW ZEALAND


__ADS_3

Dua hari kemudian, Bastian dan Mauren menginap di rumah Cornel. Setelah makan malam, Bastian dipanggil Papanya ke ruang kerja, sedangkan Mauren duduk di ruang tengah ditemani oleh Laura dan juga mama mertuanya.


"Ada apa, Pa?"tanya Bastian saat dia sudah duduk di depan meja kerja Papanya.


"Apa benar Kalian mau bulan madu ke New Zealand?"


"Iya,Pa."


"Kenapa tidak di negara lain saja, bukankah kalian sudah pernah ke New Zealand?"


"Aku sama Mauren sudah janji mau ke sana lagi, Pa."


"Ya sudah, kalau itu memang mau kalian."sahut Cornel


"Bastian, rasa penasaran Papa beberapa hari ini belum terjawab. Mumpung kita lagi berdua, Papa ingin bertanya apakah Mauren masih perawan saat bercerai dari Bimbim?"


Bastian terkejut mendengar pertanyaan seperti itu, menurutnya itu terlalu pribadi. Namun, karena papanya sudah banyak membantu pernikahan dia dengan Mauren, Bastian tidak keberatan untuk menjawabnya.


"Iya, Pa."saat malam pertama kemarin, istriku memang masih perawan."jawab Bastian dengan menundukkan wajahnya karena menahan malu.


Cornel tersenyum mendengar jawaban putranya. Dia senang putranya sudah menemukan sumber kebahagiaannya. Pria itu yakin, Mauren tidak akan pernah menyakiti hati Bastian.


Tiga hari sebelum berangkat ke New Zealand, Bastian dan Mauren sudah menepati rumah baru mereka. Rumah itu belum memiliki asisten rumah tangga. sebab Bastian masih ingin bebas berduaan di dalam rumah dengan istrinya, tanpa diganggu oleh orang lain. walaupun tidak ada asisten rumah tangga, rumah itu selalu bersih, sebab Bastian mendatangkan karyawan hotelnya untuk membersihkan rumahnya.


Saat ini keduanya sedang duduk berdua di ruang tengah. Posisi Bastian saat ini sedang berbaring di atas ambal tebal. Kepalanya dia letakkan pada paha istrinya. tak lama waktu berselang, Bastian kembali duduk. dia memeluk istrinya dari samping hidungnya sambil mengendus Ceruk leher istrinya.


"Mas, jangan mengganggu, aku lagi nonton drakor!"tegur Mauren, kepalanya dia jauhkan dari suaminya.


"Kamu ini sama banget kayak Laura, hobi banget nonton drakor. Daripada nonton seperti itu mending kita praktek."sahut Bastian yang melihat ke arah layar televisi. kebetulan waktu itu televisi sedang menayangkan adegan pelukan dan ciuman.


Mauren tidak merespon ucapan suaminya, dia lebih fokus pada drama yang ditontonnya. Bastian yang melihat itu menjadi gemas pada istrinya.


"Aaaa ....." pekik Mauren.


Tubuh Mauren mendadak berubah posisi. dia yang awalnya duduk, dalam hitungan detik langsung berbaring dengan posisi terlentang di atas ambal. Saat ini bangun, suaminya langsung mengungkung tubuhnya.


"Mas, kamu mau apa?"tanya Mauren penuh curiga.


"Sayang, Kita belum pernah melakukannya di tempat ini."


"Nggak, Mas. Aku nggak mau. ruang keluarga ini ruangan umum."

__ADS_1


"Sayang, di rumah ini cuman ada kita berdua. jadi tidak masalah kalau kita melakukannya di tempat ini."


"Enggak Mas! Kalau Mas mau, kita ke kamar sekarang."ucap Mauren tegas.


Bastian langsung mengangkat istrinya, membopong wanitanya menaiki tangga. ketika sudah sampai di lantai atas pria itu langsung membawa istrinya masuk ke dalam kamar.


"Mas serius mau main jam segini?"tanya Mauren saat melihat suaminya menanggalkan baju kaos dan celana pendeknya. sekarang Bastian hanya mengenakan celana boxer. Dia langsung melakukan pemanasan tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


Di halaman rumah, saat ini Dian baru saja memarkirkan anak muda itu disuruh oleh Mia mengantar kue untuk Mauren. Sudah 5 menit Dia mengetuk dan menekan bel pintu, tapi tidak dibuka oleh Mauren.


Ponsel Maureen juga tidak bisa dihubungi. akhirnya Dian memutuskan untuk pulang saja. Tapi sebelum dia membalikkan badan dari daun pintu, tangannya iseng memutar handle pintu. Ternyata pintu itu tidak dikunci.


"Apa Kakak tahu aku mau ke sini, ya? tanya Dian dalam hati. dia berpikir Mamanya sudah menghubungi Mauren untuk memberitahukan perihal kedatangannya.


Dian lalu masuk ke dalam rumah sambil mencari keberadaan Kakak sepupunya. Ruang dapur, ruang tengah, teras samping, tapi dia tidak melihat keberadaan Mauren


Dian lalu memutuskan untuk naik ke atas.


Di dalam kamar, pakaian Bastian dan Mauren nampak berserakan di lantai. Tubuh polos keduanya sudah ditutup oleh selimut tebal. setelah puas melakukan pendakian, gini Bastian siap menyelam. Alat untuk menyelam sudah siap dari tadi.


"Kak... kakak...! Kak Mauren!"teriak Dian sambil menaiki tangga.


"Kamu nggak menutup pintu depan ya, sayang?"


Bastian bergegas menuruni ranjang dan berlari menutup pintu dalam keadaan polos. Mauren segera memakai kembali bajunya, dia ingin menemui Dian, sedangkan Bastian pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi usai mengunci pintu kamar.


"Ada apa Dian, kok kamu langsung masuk ke rumah kakak."


"Kakak kok jam segini tidur?"aku pencet bel dari tadi nggak dibuka. Pintu depan gak dikunci, jadi aku masuk saja."


"Tumben kamu ke sini nyariin Kakak?"


"Aku disuruh mama mengatur ini untuk kakak."Dian menyerahkan kantong plastik berisi kotak kue.


"Aku pamit pulang Kak, mau main bola sama teman."pamit diam sambil menyalami Mauren.


***


Hari Minggu pagi, Bastian dan Mauren pergi ke bandara diantar oleh orang tua mereka. sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Bastian, Hari Ini Mereka pergi ke New Zealand. ini yang kedua kalinya Dora dan Richard melepas kepergian putrinya. keduanya berharap, kejadian beberapa bulan yang lalu tidak terulang kembali.


"Kalau sudah sampai di sana kasih kabar ya, Nak."pesan Dora saat memeluk putrinya.

__ADS_1


Moresette juga melakukan hal yang sama. "Kalau Bastian nakal, bilang sama mama, ya!"


Maureen hanya tersenyum mengangguk. dalam hatinya membenarkan, sekarang Bastian memang nakal terhadapnya. Setiap dia nonton drama atau ingin mendesain baju, suaminya selalu saja mengganggunya, dan itu pasti berakhir di atas ranjang.


"Baik-baik di sana ya. Jangan kecewakan papa."Cornel menepuk pundak putranya.


"Iya, Pa."Bastian mengangguk. Kami berangkat dulu."


"Mauren, jangan lupa oleh-oleh beri kami cucu."teriak Dora saat anak dan menantunya sudah melangkah meninggalkannya.


Sore harinya, Bimbim pergi ke mall mengantar adiknya untuk perawatan. Saat ini dia sedang berada di sebuah cafe shop. tak lama setelah pelayan mengantar pesanan kopi Bimbim, di ambang pintu ada seorang pria tampan berdiri mencari meja yang masih kosong.


"Boleh saya duduk di sini?"tanya Mario pada Bimbim yang lagi asik dengan ponselnya.


Bimbim mendongakkan kepalanya."pak Mario?"silakan Pak."


"Tumben kamu nongkrong sendirian?"tanya Mario basa-basi.


"Saya ke mall mengantar adik, Mereka lagi perawatan. Daripada bosan menunggu di sana, Lebih baik saya nongkrong di sini sambil ngopi."


"Waktu acara nikah kemarin kamu datang, nggak?"


Bimbim menggeleng. "waktu acara nikah saya nggak datang. Saya hanya datang saat acara resepsi saja."sahut Bimbim.


"Bapak diundang mereka, ngak?"


"Di undang, cuma saya malas datang. Saya pikir kamu nggak akan datang ke acara mereka."


Bimbim tersenyum tipis. "Mereka sahabat saya sejak kecil Pak. Saya merestui mereka. Bastian itu lelaki yang baik, dia pantas untuk mendapatkan Mauren."


"Saya lihat di sosial media story Mauren, mereka Hari ini pergi ke New Zealand ya?"


"Iya, Pak. katanya Mereka mau bulan madu di sana."


Mario tersenyum tipis. "meskipun sekarang Bastian yang menikah dengan Mauren, tetap saja kamu yang jadi pemenangnya ya, Bim."


Kening Bimbim berkerut. "pemenang? maksudnya, pak?"


"Ya, kamu pemenangnya, kan kamu yang lebih dulu mendapatkan Mauren."


Sekarang Bimbim paham arah pembicaraan Mario. "Bukan saya pemenangnya Pak, tapi Bastian. Meskipun sebelumnya Mauren menikah dengan saya, tapi sekalipun saya tidak pernah menyentuhnya."sahut Bimbim

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2