
Mendengar itu, Nyonya Nadia dan nyonya Alena Saling berpandangan, kemudian keduanya mengangguk tanda menyetujui permintaan Dora.
Siang harinya Dora dan Nyonya Nadia berpamitan untuk pulang. Karena Dora mendapatkan sambungan telepon seluler dari customernya.
"Mama nanti ke sini lagi ya main sama Mauren!!"
"Iya, sayang Nanti Mama ke sini lagi. pamit Dora pada putrinya, lalu dia cium pipi putrinya.
Setelah berpamitan dengan Nyonya Alena, Nyonya Nadia dan Dora menaiki mobil mereka masing-masing.
Di dalam mobil Dora kembali teringat dengan kejadian tadi malam. Dia juga teringat saat Richard mencium dirinya dengan permintaan putrinya.
Terlihat jelas di matanya bentuk yang tercetak dari boxer itu. "Belum bangun saja sudah sebesar itu bentuknya, gimana nanti kalau sudah bangun? pikir wanita itu.
Dora lalu menggeleng cepat menepis bayangan itu dari kepalanya. Belum selesai ke bayangan tadi malam, Ia juga kembali teringat dengan ciuman singkat yang diberikan oleh Richard. Kemudian orang tuanya dan orang tua Richard juga memintanya untuk menikah dengan Richard. ltu artinya cepat atau lambat dia akan melayani pria itu, mengulang kejadian saat di dalam tenda waktu itu.
***
Malam ini nyonya Alena masih menginap di rumah pribadi Richard. Setelah makan malam, Nyonya Alena mengajak Richard untuk duduk sebentar di ruang keluarga.
"Ada apa sih Mom, tumben ngajak ngobrol di sini? biasanya di meja makan ngobrolnya."
"Mami mau tanya, Kenapa kalian berdua tadi malam sama-sama terlihat seperti kurang tidur? Apa terjadi sesuatu? apa kamu nakal lagi?"tanya Nyonya Alena bertubi-tubi berjeda.
Richard terdiam sebentar berpikir menceritakan kejadian tadi malam atau tidak. Dari pada Mami berpikir macam-macam terhadapnya, Richard memutuskan lebih baik menceritakan pada Nyonya Alena.
"Mau ngapain Dora masuk ke dalam kamar kamu?
"Richard juga nggak tahu Mom, padahal kan di kamar Maureen juga ada kamar mandi dan toilet."ucap Richard membuat Nyonya Alena semakin penasaran.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah utama keluarga Bernando terlihat Nyonya Nadia berjalan ke arah kamar putrinya.
Tok ....
Tok ...
Tok ...
"Dora!!"Panggil Nyonya Nadia.
"Iya Ma masuk aja, pintunya nggak dikunci.
"Ceklek."sekali hentakan pintu kamar Dora terbuka lebar. Nyonya Nadia masuk ke kamar putrinya, dan langsung duduk di ranjang.
"Ada apa Ma?
__ADS_1
"Mama ke sini mau menanyakan gimana jawaban pertanyaan Mama tadi siang waktu di rumah Richard? jangan terlalu lama mikirnya Dora, kasihan Mauren."
"Gimana ya Ma, masalahnya sejak aku menolak pria itu. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi ngajakin aku menikah. Bahkan Sepertinya dia dingin kepada Dora.
"Maksud kamu, misal nanti Richard ngajakin kamu nikah lagi, kamu mau??"
Dora menunduk, kemudian mengangguk pelan.
Nyonya Nadia keluar dari dalam kamar Dora, sebuah senyuman terukir indah dari raut wajah wanita paruh baya itu. Wanita itu bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya. dia ingin membicarakan pernikahan Dora dan Richard pada suaminya.
Kali ini nyonya Nadia akan berjuang untuk mendapatkan restu dari suaminya. Saat sudah sampai di dalam kamar, Nyonya Nadia melihat suaminya sedang duduk selonjoran di atas ranjang dengan sebuah majalah bisnis di tangannya. Nyonya Nadia Lalu naik ke atas ranjang. Dia memijat lengan suaminya.
"Ada apa Ma? Katakan Saja. Mau beli tas branded limited edition lagi? atau bulanan yang Papa berikan itu masih kurang?"tanya pria paruh baya itu sambil menikmati pijatan istrinya, matanya masih terlihat ke arah majalah.
"Enggak Pa, Mama lagi nggak pengen beli apa-apa."sahutnya tepat di daun telinga suaminya. sambil ditiup-tiupnya bagian belakang telinga suaminya.
Pria paruh baya itu perlahan melepas kacamata dan menutup majalahnya, kemudian ia meletakkan kacamata dan majalah itu di atas nakas. "Mama ada apa sih, Nggak biasanya seperti ini?"tanya Tuan Bernando penuh curiga.
"Papa ... Mama mau menikah kan."
"Menikah? Memangnya dia sudah ada calonnya?
Nyonya Nadia mengangguk.
"Siapa Ma?
"Pria itu lagi??"geram tuan Bernando.
"Memangnya kenapa dengan Richard Pa? menurut Mama dia laki-laki yang baik. Setia, bertanggung jawab, mapan, dan pintar mengurus anak. Apa kurangnya dia Pa??"
Tuan Bernando terdiam.
"Dora saja sudah memaafkannya, tapi kenapa Papa tidak?"lanjut Nyonya Nadia.
"Tapi kalau Dora nikah sama pria itu, apa kata orang-orang tentang Mauren?
"Lebih malu mana dengan anak kita nikah dengan orang lain, terus esok harinya langsung diceraikan karena sudah tidak suci lagi?"
Nyonya Nadia kembali memijat suaminya. "Pa, kalau Papa mau mengkhawatirkan masalah kehormatan keluarga kita, rasa Mama itu hal yang mudah. Katakan saja pada orang-orang bahwa anak kita sudah menikah di California.
Hening sesaat, Tuan Bernando berpikir. "Baiklah, papa akan merestui mereka Tapi ada syaratnya."
Nyonya Nadia langsung menegakkan badannya.
"Apa syaratnya Pa?"Mama bersedia kok malam ini yang pegang kemudi."
__ADS_1
"Itu syarat yang kedua Ma."
"Apaaaa!! Memangnya syarat pertama apa Pa!"tanya Nyonya Nadia, di dalam hati wanita paruh baya itu berharap semoga suaminya tidak mempersulit calon menantunya.
"Untuk syaratnya yang kedua masih papa rahasiakan. Syaratnya akan Papa sebutkan saat mereka datang ke rumah ini melamar Dora."
"Ah Papaaaa"rengek manjanya Nadia, sambil menggoyang-goyang lengan suaminya.
"Sudah stop, Papa mau nagih syarat kedua dulu."Tuan Bernando langsung membuang sarung dan boxernya.
****
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Terlihat seorang pria tampan bertubuh kekar sedang mengucir dua rambut putrinya.
posisi mereka sedang di depan meja rias.
"Selesai."ucap Richard setelah berhasil mengucir dua rambut putrinya.
Mauren lalu melihat hasil karya bapaknya pada cermin rias di depannya.
"Papa, kuncirnya miring."
"Sudahlah Mauren, ini sudah yang ketiga kalinya Papa menguncir rambut kamu. Kalau yang ini dilepas lagi karetnya, kamu dan papa akan terlambat ke sekolah dan ke kantor."bujuk Richard pada putrinya.
"Nanti Mauren minta kuncir dua sama ibu Rani aja di sekolah."
"Eh, Jangan Mauren!!! sahut Richard cepat. dia takut kalau Dora melihat itu, Dia akan marah pada dirinya.
"Ya, sudah Sini papa ulangi lagi kuncirnya."Richard lalu melepas karet rambut Maureen lagi.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Richard berhasil mengusir rambut putrinya dengan ketinggian yang sama, walaupun tidak menggunakan alat waterpass.
Suara Bell sekolah berbunyi tepat mobil Richard sampai di depan gerbang sekolah. Richard bergegas turun dari dalam mobilnya dan melebarkan langkah berjalan ke samping kiri mobilnya. Karena ingin cepat-cepat menurunkan putrinya. Setelah turun dari dalam mobil Papanya, moren langsung berlari ke arah gerbang sekolah.
"Mauren Jangan lari!!"teriak Richard.
"Kata Papa saat pulang sekolah aja ya nggak boleh lari."sahut Mauren tanpa menoleh ke arah Papanya, dia masih berlari di halaman sekolah. Richard yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN "DI BULLY KARNA OBESITAS"
__ADS_1