
Satu bulan kemudian, Arga dan Rani berencana besok akan pergi ke villa. keduanya ditemani oleh Nyonya Nadia dan nyonya Alena.
Mereka pergi ke villa hanya berempat saja. sebab Richard dan sahabatnya yang lain sedang sibuk mengurus istrinya masing-masing.
Kalau Richard sibuk dengan membantu istrinya mengurus anak-anak, sedangkan sahabatnya sibuk mengurus istri yang sedang hamil.
Jam 07.00 pagi mobil Arga berangkat menuju villa. Nyonya Alena sengaja ikut ke villa karena dia merasa kasihan terhadap Arga, yang ingin melamar Rani namun tidak ada orang tua yang mendampingi.
Sedangkan Nyonya Alena, dia pergi ke villa karena sudah merindukan suasana villa, yang sekitar satu tahun ini tidak pernah didatanginya lagi.
"Bu, kita langsung berangkat atau mau mampir sarapan dulu?"tanya Arga.
"Tante sudah sarapan. kalau kamu mau sarapan, mampir saja Arga,"sahut Nyonya Nadia.
"Saya sudah sarapan Bu,"jawab Arga.
"Saya juga sudah sarapan. kalau begitu langsung ke villa aja."ucap Nyonya Alena.
"Ran, Kamu sudah sarapan kan?"imbuhnya.
"Sudah Bu, sebelum menjemput ibu, aku dan kak Arga mampir ke rumah makan untuk sarapan."
Sekitar tiga jam kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Arga sudah tiba di halaman villa. Ini pertama kalinya Arga pergi ke villa.
Bu Luna sangat terkejut saat melihat ada sebuah mobil terparkir di halaman. wanita paruh baya itu terkejut melihat anaknya keluar dari mobil Arga.
"Ran, kamu kok mau ke sini nggak bilang-bilang dulu?"
"Kejutan Bu,"sahut Rani tersenyum sambil melangkah menghampiri dan memeluk Bu Luna
"Nyonya Nadia, Nyonya Alena!"siapa Bu Luna dengan sedikit menundukkan kepala. "ini siapa?"pandangan Bu Luna beralih pada Arga.
"Saya Arga Bu,"Arga memperkenalkan diri.
Respon Bu Luna biasa-biasa saja. Dia hanya tersenyum. itu karena Rani belum menceritakan pada orang tuanya, kalau dia sudah memiliki kekasih bernama Arga.
Begitu juga dengan Arga, dia tidak menceritakan pada Rani bahwa kedatangan Arga ke villa ini selain mengantar Rani juga sekalian mau melamarnya. Dia ingin memberi kejutan kepada Rani
Belum juga masuk ke dalam villa, mereka sudah dikejutkan oleh suara motor seseorang. pria tampan itu turun dari motornya sambil membawa kantong plastik berisi cemilan oleh-oleh dari kotak.
"Nak Cornelius, Kamu kapan datang?"tanya Bu Luna.
"Baru satu jam yang lalu Bu,"sahut Cornelius, ekor matanya melirik ke arah wanita cantik.
"Ini Rani, kan? tanya Cornelius.
__ADS_1
"Iya nak Cornelius. kamu masih ingat ya ternyata sama dia?"
"Masih, Bu. baru juga sekitar 4 tahun nggak ketemu masa saya lupa. cuma terlihat beda saja. Sekarang terlihat lebih cantik,"puji Cornelius.
"Kak Cornelius bukannya sekarang tinggal di kota?"tanya Rani.
"Iya, Ran. ini kan lagi weekend. Jadi pulang sebentar nengokin orang tua. Saya dengar kamu kerja di kota ya? Tapi kok kita nggak pernah ketemu ya?"
"Iya, kak aku kerja di Bernando group."
"Itu kan perusahaan Papanya Dora,"gumam Cornelius yang masih terdengar di telinga Nyonya Nadia.
"Kamu kenal sama Dora?
"Kenal, Bu. Dia teman kuliah saya."
"Eh.. kok ngobrolnya di halaman. Ayo kita masuk!"ajak Bu Luna.
"Saya mau langsung pulang saja Bu. mau istirahat dulu di rumah. saya ke sini cuman mau menyerahkan oleh-oleh ini."tolak Cornelius, tangannya menyerahkan kantong plastik pada luna.
"Ran, Kakak pulang dulu ya. Oh iya minta nomor kamu dong."imbuhnya lagi.
Rani lalu menyebutkan nomor ponselnya. dan Cornelius langsung menyimpan nomor Rani di kontak ponselnya. "Nanti Kakak chat kamu." Ucap Cornelius sebelum menaiki motornya.
Nyonya Alena dari tadi melihat perubahan pada Arga. wanita paruh baya itu lalu menghampiri Arga yang saat ini sedang duduk di kursi teras samping.
"Ada apa ya, kok kamu jadi banyak ngelamun gitu?"
Arga mencacah lamunannya. "Nggak apa-apa Bu,"elak Arga.
Nyonya Alena tersenyum, "Ibu tahu kok, pasti kamu sedang cemburu kan sama pria tadi?"tebak Nyonya Alena.
"Tadi di dalam ibu dengar, katanya pria itu rumahnya dekat dengan saudaranya Bu Luna, dulu Rani sekolah tinggal di rumahnya saudaranya Bu Luna. Rani kan dulu tinggal di rumah tantenya saat SMP sampai kuliah,"imbuh Nyonya Alena
"Terus kenapa sekarang dia ada di desa ini juga Bu?"
"Sejak nenek Cornelius meninggal, orang tuanya kembali pindah ke sini. karena di sini banyak perkebunan peninggalan nenek Cornelius. Begitu cerita dari Luna."tutur Nyonya Alena menjelaskan.
Obrolan keduanya berhenti saat Rani datang menghampiri. wanita itu baru saja selesai membantu ibunya menyiapkan makan siang. "Bu Alena, Kak Arga, Ayo kita makan dulu. makanannya sudah siap."ajak Rani.
"Ayo Arga, kita makan!"ajak Nyonya Alena, sambil beranjak berdiri dari duduknya.
"Nggak usah terlalu dipikirkan, Malam ini kita ikat beraninya dengan cincin yang kamu bawa itu."bisik Nyonya Alena.
Malam harinya, selepas makan malam, Nyonya Nadia yang sudah mengetahui rencana Nyonya Alena dan Arga, dia mengajak Rani dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tengah.
__ADS_1
Kedua orang tua Rani langsung masuk ke ruangan itu, dan duduk di depan Nyonya Nadia majikannya.
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Nyonya Nadia duduk berdampingan dengan Nyonya Alena. Di samping Nyonya Alena ada Arga duduk. Rani duduk di seberang Arga. sedangkan kedua orang tua Rani, mereka duduk berdampingan dengan putrinya.
"Ada apa ya Bu, kami dipanggil ke sini?"tanya Bu Luna.
Nyonya Nadia tersenyum lalu menatap ke arah besannya. Nyonya Alena yang paham akan tatapan itu langsung menegakkan sedikit badannya.
"Begini bu, maksud kedatangan saya dan Arga ke sini adalah ingin melamar Rani. Saya di sini mewakili orang tua Arga, sebab kedua orang tuanya sudah lama meninggal, sejak Arga masih kecil. Saudara dari ayahnya juga sudah meninggal, karena mengalami kecelakaan suatu mobil beberapa tahun yang lalu. Jadi dia sekarang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Saya sudah menganggapnya seperti Putra saya sendiri. Sehingga saya yang ingin melamar Rani menjadi istri dari Putra angkat saya Arga."
Mata Rani sedikit terbelalak. dia terkejut mendapati dirinya dilamar oleh Arga malam ini. Wanita itu menatap penuh tanya ke arah kekasihnya. Arga yang ditatap hanya tersenyum simpul ke arah Rani.
"Melamar? maksudnya Rani dan Arga ini sepasang kekasih?"tanya Bu Luna terkejut.
"Iya Bu,"jawab Nyonya Alena.
"Rani nggak ada cerita ya Bu?"tanya Nyonya Nadia.
"Nggak ada nyonya, dia nggak ada cerita. Rani memang anaknya sedikit tertutup."
"Jadi gimana bu soal lamaran Arga? Saya sudah lama mengenalnya Nak Arga, Dia pria baik, sudah saya anggap seperti anak saya sendiri."
Bu Luna dan suaminya saling melempar pandang. "Kalau masalah itu kami serahkan sama anak kami saja Bu. jika Rani setuju, maka kami juga setuju."sahut ayahnya Rani.
"Kamu gimana, Ran? mau nggak jadi istri Arga?"tanya Nyonya Nadia.
Rani lalu menatap ke arah Arga yang saat ini sedang menatapnya penuh harap. "Mau, Saya mau Bu."jawab Rani yakin. Kemudian dia menunduk dengan wajah bersemu merah.
Arga seketika tersenyum cerah. Nyonya Alena lalu menatap darah Arga sambil menadahkan telapak tangannya. "Mana cincinnya Arga?
Arga merasa aku jaketnya. dia menyerahkan kota kecil berlapiskan beludru berwarna merah ke telapak tangan kanan.
Nyonya Alena lalu membuka kotak cincin itu. "Rani sini tangan kamu!"Nyonya Alena menadahkan tangan kirinya. Kemudian Rani meletakkan tangan kirinya ke telapak tangan Nyonya Alena.
Dalam hitungan detik, cincin itu sudah diselipkan oleh Nyonya Alena ke jari manis tangan kiri Rani.
"cincin ini sebagai tanda kamu sudah diikat oleh Arga. Jadi, kamu harus menjaga jarak dengan lawan jenis."pesan Nyonya Alena pada Rani. Kemudian tatapannya beralih ke Arga.
"Kamu juga Arga. harus jaga jarak juga dengan lawan jenis!"imbuh wanita paruh baya itu.
Bersambung ....
sambil menunggu karya ini kembali, silakan mampir ke karya baru emak. "Divorce on the wedding day."
Terima kasih.
__ADS_1