Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 237.SIAPA CARLOS


__ADS_3

Satu jam sebelumnya, Carlos yang , hampir terjatuh didorong oleh Bastian langsung ke ballroom hotel. Pria itu langsung menghampiri Atalia yang sedang menikmati makanannya.


"Hai, kamu Atalia, kan?"Carlos duduk di kursi tempat Mauren duduk saat di ballroom.


"Iya, ada apa Carlos?


"Apa benar Maureen sudah menikah dengan Bastian?"tanya Carlos to the point, sebab Dia masih ingat dengan wajah Bastian. Pria yang sering bersama Mauren waktu sekolah.


"Iya, Dari mana kamu tahu?"


"Barusan aku lihat Mauren dibawa Bastian memasuki lift."


"Yang benar kamu?"tanya Atalia terkejut. keasyikan menikmati makanan, dia sampai lupa dengan sahabatnya yang sudah lama pergi ke toilet, tapi tak kunjung kembali.


Atalia bergegas mengambil ponselnya dalam tas. Dia ingin menghubungi Mauren, ingin tahu kenapa Maureen mendadak ikut suaminya tanpa pamit dengannya. Apa Mauren sakit? itu yang ada di dalam benak Atalia saat ini.


Tiga kali dia mencoba melakukan panggilan, tapi tidak ada jawaban dari Mauren.


Sementara di ruang kerja, setelah sambungan telepon diputus, Herlan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia bergegas berdiri dari sofa yang ada di ruangan Bastian.


"Maya lebih baik kita segera keluar dari sini."


"Kenapa, Pak?


"Ada hal yang harus saya urus."


"Saya lebih baik di sini saja menunggu Pak Bastian."


"TIDAK bisa, kamu juga harus keluar dari ruangan Pak Bastian."sahut Herlan. nada suaranya terdengar tegas, membuat orang yang mendengarnya takut membantah.


Maya terpaksa beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang kerja Bastian.


Nampak Herlan berdiri di depan pintu lift. Pria itu rencananya ingin pergi ke ruang CCTV terlebih dahulu sebelum menemui Atalia di ballroom hotel.


"Pak Herlan mau ke mana?"tanya Maya saat dia ikut masuk ke dalam lift yang sama dengan Herlan .


"Ke ruang CCTV."


Maya bergeming setelah mendengar jawaban Herlan.


Setelah sampai di ruang CCTV, Herlan langsung menyerahkan sebuah flash disk pada karyawan yang bertugas menjaga CCTV.

__ADS_1


"Tolong kirim rekaman hari ini ke sini!"


"Baik, pak Herlan."


Selesai dengan urusan CCTV, Herlan pergi ke ballroom hotel. dilihatnya di sana ada gadis yang tadi datang bersama istri sahabatnya. Gadis itu berdiri di samping pintu luar ballroom sambil meletakkan ponselnya di telinga.


"Selamat malam, Mbak. saya diminta Pak Bastian untuk mengantar Mbak pulang, sebab istrinya pak Bastian Malam ini tidur di hotel."


Kening Atalia berkerut, dia mengingat lelaki ini adalah pria yang tadi di teras menyambut kedatangan Bastian. Saat itu Atalia juga melihat Bastian menyerahkan kunci mobil pada lelaki ini.


"Apa betul sekarang teman saya lagi bersama suaminya?"


"Iya, Mbak."


"Kenapa dia tidak memberitahu saya langsung Kalau dia mau menginap di sini. waktu itu Dia pamit sama saya cuman mau ke toilet saja. Saya telepon berkali-kali juga tidak diangkat."


"Mungkin ponsel istri Pak Bastian dalam keadaanmu dari silent Mbak. mari Mbak saya antarkan sekarang."


Atalia terpaksa mengikuti Herlan melangkah ke arah lift. Dipikirannya daripada dia pulang ikut dengan taksi yang dia tidak kenal siapa sopirnya, lebih baik pulang dengan lelaki ini saja yang akan dia tahu ini adalah karyawannya Bastian.


***


"Arghh..."Mauren meringis sakit saat beringsut dari ranjang. Dia kembali teringat dengan kejadian tadi malam, di mana dia dan suaminya kembali bergumul panas di ranjang ini.


"Kenapa ini rasanya sakit banget, beda dari biasanya?"tanya Mauren dalam hati. Dia berjalan perlahan ke arah kamar mandi. wanita itu langsung mandi di dalam. Selesai mandi, dia membuka kulkas siapa tahu ada yang bisa dimakan pikirnya. Ternyata di dalam sana hanya ada buah dan minuman kaleng.


Mauren lalu melangkah ke arah meja makan, roti tawar yang sejak tadi dia lihat saat pertama masuk ke ruang makan kini dioles dengan selai nanas. Wanita itu duduk di sana sambil meminum air putih.


Bastian yang melihat istrinya tidak ada di ranjang bergegas beringsut dari pembaringan. Dia langsung melangkah keluar kamar saat tak menemukan istrinya di kamar mandi.


"Sayang, ternyata kamu di sini?"Bastian menghampiri istrinya yang sedang makan roti.


"Aku lapar mas. Tadi malam aku belum sempat makan."


"Kamu ingin makan apa, sayang? jam segini biasanya koki restoran hotel sedang memasak makanan."


"Nasi goreng saja, Mas."


"Sebentar ya, Mas telepon kepala kokinya dulu."Bastian kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.


Tak lama waktu berselang, pria itu kembali lagi menghampiri istrinya. Dia duduk di kursi samping istrinya. Bastian juga mengambil roti dengan mengolesnya dengan selai. Tadi malam dia juga belum makan malam.

__ADS_1


"Sayang, tadi malam siapa lelaki yang bersama kamu di depan pintu lift?"


Mauren menghentikan gerakan mulutnya Yang mengunyah roti. Wanita itu mengingat-ingat kejadian tadi malam. "Itu Carlos, teman aku waktu SMA."


"Carlos?"Bastian kembali mengingat-ingat masa SMA-nya dulu. Saat SMA banyak murid laki-laki yang mendekati Mauren.


"Pantas wajahnya terlihat tidak asing,"ucap Bastian lirih.


"Dulu rasanya Dia pernah memberi kamu coklat saat Valentine, kan?


"Iya Mas, tapi coklatnya diambil sama Bimbim."sahut Maureen terkekeh saat mengingat Bimbim merebut coklatnya.


"Kenapa tadi malam dia ada bersama kamu sayang?"


"Aku juga nggak tahu, Mas. Saat aku keluar dari toilet dia ada di depan ruang toilet. aku tidak mempedulikannya, tapi dia terus mengikuti aku hingga ke lift."


"Sayang, Apa kamu tahu tadi malam kamu mengkonsumsi obat perangsang?"


Mauren menggeleng. "Pantas tadi malam aku rasa ingin berhubungan intim dengan kamu Mas."


"Di ballroom Kamu makan atau minum apa?"


"Aku belum sempat Makan mas, hanya minum saja, tidak lama setelah itu aku ke toilet karena tubuhku mulai merasa tidak enak"


"Siapa yang memberi kamu, minuman sayang?"


"Sepertinya pula yang di hotel ini. Dia seorang laki-laki."sahut Mauren.


"Mas aku baru ingat dengan Atalia, di mana dia tadi malam?"


"Kamu tenang saja, tadi malam Herlan sudah mengantarnya ke rumah."


Maureen kini sudah bisa menghela nafas lega.


Sekitar 15 menit Bastian menelepon, terdengar bunyi bel. "Sepertinya makanan kita sudah datang sayang."Bastian beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah pintu luar.


Bastian melihat dua orang pegawai hotel membawakan menu makanan yang ia pesan sebelumnya. Tanpa, menu pembuka dan nasi goreng sudah dihantar oleh dua orang pegawai hotel. Dan makanan itu sudah siap disantap oleh tuannya.


"Ayo sayang kita makan, Mas juga sudah sangat lapar karena Mas juga tadi malam belum makan."ujar Bastian yang langsung dibalas senyuman dari istrinya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2