
Ketika kaki kedua wanita itu menapak keramik lantai bawah, Riana terus menuntun Rani ke arah depan. Tempat di mana Arga duduk menghadap pada sebuah meja kecil. Di seberang meja itu, sudah duduk Ayahnya Rani yang akan menjadi wali nikah anaknya.
Penghulu memberi isyarat kepada Arga dan ayahnya Rani agar segera menautkan tangan.
"Saudara Arga Abimanyu bin Randy Abimanyu saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya yang bernama Rani Anjani dengan emas kawin berupa seratus lima puluh gram emas, dan seperangkat alat sholat dibayar dengan tunai."kalimat ijab diucapkan oleh ayahnya Rani.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rani Anjani binti Mulyo dengan mas kawin..."
"Oek....oek...oek.."bayi yang ada dalam pangkuan Richard mengeluarkan suara emasnya. ucapan Arga pun menggantung Karena terganggu oleh suara tangisan baby Andika.
Richard celingukan ke kanan ke kiri. Tiba-tiba saja Papa dua anak itu merasa salah tingkah, karena puluhan pasang mata menatap ke arahnya. Ingin rasanya tangannya menutup mulut itu, tapi ia sadar kalau yang dia pangku itu manusia bukan boneka.
"Mas, cepat bawa Andika keluar." seru Dora
Richard bergegas berdiri dari duduknya sambil menggendong anaknya keluar dari ruangan itu. Ketika sudah sampai di teras, terdengar teriakan orang-orang di dalam sana mengucapkan kata sah dan alhamdulillah.
Bayi yang semula nangis itu kembali anteng saat sudah berada di teras.
"Dik, kamu kok niru kayak om Afrian sih?" Richard mengajak bicara bayi.
Selesai akad nikah, Rani dan Arga kembali dibawa ke dalam kamar untuk segera berganti gaun. Karena sebentar lagi acara resepsi akan dimulai.
Acara resepsi pun berjalan dengan lancar. memang konsep pernikahan yang diselenggarakan hari ini cukup sederhana sesuai dengan permintaan dari Rani. Padahal sebelumnya Arga ingin menyelenggarakan hari pernikahan mereka dengan meriah. sesuai dengan rencana yang direncanakan oleh Tuan Nicholas dan nyonya Alena, yang ingin merencanakan pernikahan Arga di sebuah ballroom hotel.
Tapi karena permintaan dari Rani, sehingga Arga pun meminta maaf kepada Tuan Nicholas dan nyonya Alena agar menyelenggarakan pesta pernikahan mereka sederhana saja, di depan rumah baru Arga. yang baru saja dibelinya dari properti milik Fernando.
***
Malam harinya, rumah tadi siang begitu ramai kini mendadak hening. Di rumah itu hanya ada Arga, Rani, dan kedua orang tua Rani. kedua orang tua Rani tidur di lantai bawah, sedangkan sepasang pengantin baru tidur di lantai atas.
Setelah selesai makan malam, keempat orang itu duduk sebentar di ruang tengah. Sekitar jam 10.00 malam, nampak kegelisahan pada diri Arga. Dan hal itu tertangkap oleh Bapak mertuanya.
Dia yang pernah merasakan deposisi Arga saat ini, sangat paham sekali. Bahwa lelaki itu ingin sekali menumpuk alu pada sebuah lesung.
__ADS_1
"Ran, kalian sebaiknya beristirahat. Bapak sama Ibu juga mau masuk ke dalam kamar."ucap ayahnya Rani.
"Iya, Pa."
Mendengar itu, Arga bersorak kegirang dalam hatinya. Dia bergegas membawa istrinya naik ke lantai atas.
Ceklek!
Arga langsung mengunci pintu kamarnya
"Kakak mau apa? ini belum terlalu malam Kak, bapak sama ibu belum tidur."saat ini tubuh wanita itu disandarkan oleh Arga di balik daun pintu kamar. Kedua telapak tangan Arga ditempelkan pada daun pintu itu agar mangsanya tidak bisa melarikan diri.
"Mereka nggak akan mengganggu kita, dulu mereka juga berada di posisi kita. Jadi mereka sangat paham. Itu karena kamar ini kedap suara, jadi kamu bebas jika nanti ingin berteriak. Arga mengatakan itu di dalam telinga Rani. Membuat darah wanita itu mulai memanas.
Arga mendekatkan wajahnya pada istrinya. Aroma wangi tubuh wanita itu menguar di Indra penciumannya, membuat libido pria itu semakin terpacu untuk segera disalurkan.
Mata Rani terpejam saat melihat wajah suaminya, mendekat tiba-tiba tangan besar dan kokoh itu langsung meraih bintang ramping istrinya.
Mata Rani membeliak sempurna, ketika pertama kalinya Dia merasakan sesuatu mendarat di alat tuturnya. Naluri ke laki-lakian Arga begitu lihai memainkan daging Tak bertulang itu, menyapu barisan gigi putih milik sang istri.
Arga menatap lekat karena istrinya. Arga melepaskan kain atas miliknya. Karet yang melingkar di pinggangnya perlahan dia turunkan. Sehingga kain itu juga ikut turun sampai ke betisnya.
Rani terdiam dalam keterpakuannya. Tatapan matanya masih menatap mata kita milik suaminya. Gadis itu tidak merasa kalau kancing yang dipakainya kini sudah terlepas semua dari lubangnya. Rani baru tersadar saat kain itu jatuh di belakang tumitnya.
"Kak!"Rani langsung menyilangkan kedua tangannya wanita itu malu dan ingin membalikkan posisi badannya. Namun, lagi-lagi terhalang oleh satu tangan kekar, yang langsung menangkap gitar spanyolnya
"Kakak menginginkan kamu malam ini sayang."ucap Arga dengan suara yang mulai parah.
Ini pertama kalinya Arga memanggilnya dengan kata sayang. Sehingga membuat Rani kembali terpaku, hal itu dimanfaatkan oleh Arga untuk meloloskan karet yang melingkar di pinggang istrinya. Setelah lolos, Arga langsung pembohongnya menuju hamparan taman bunga.
Rani kembali menyenangkan tangan dan kakinya membuat kening Arga berkerut.
"Jangan malu sayang, kita sudah sah menjadi suami istri." bisiknya di telinga istrinya. Tangannya menyusup membuka pengait kain, setelah pengait itu terbuka, Arga langsung menyingkapnya.
__ADS_1
Rani terperanjat saat melihat kain itu dilempar oleh Arga ke sembarangan arah. Sontak tangan mungil itu menutupnya. Namun, pergerakan tangan itu langsung terbaca oleh Arga.
"Jangan ditutup lagi sayang. Kakak mau hinggap di sana."
Rani bungkam,tak mampu bersuara. Dia juga tak sanggup lagi membuka matanya.
Wanita itu hanya bisa memegang kepala suaminya, dengan sedikit memberi jambakan-jambakan kecil pada rambut suaminya.
Setelah puas hinggap di sana. Arga langsung meninggalkan kain yang masih tersisa. Rani menutup wajahnya saat melihat pandangan ada besar terpampang di matanya.
"Buka mata kamu Sayang, jangan takut. Kamu pasti akan menyukai ini." ucap Arga mengambil posisinya.
"Enggak Kak, Rani menggeleng. Kakinya semakin disilangkan.
"Arga segera mengubah benda silang itu, menjadi tanda ceklis. Dilihatnya kue apam berwarna merah, sangat enak jika dinikmati dengan secangkir kopi. Arga menjadi bersemangat ingin menggunakan alunya untuk menumbuk kopi dalam lesung. agar dia bisa segera menyeduh kopinya.
Butiran keringat Arga berjatuhan seiring dengan tumbukan-tumbukan pelan pada lesung itu. Kain sprei putih itu terlihat kumal karena menjadi sasaran jebakan tangan mungil Rani.
Alunan alu dalam lesung itu semakin kuat membuat kedua tangan Rani menahan pelaku penumbuk, langsung agar menghentikan aksinya.
"Aku nggak kuat, Kak." Keluh Rani.
"Kakak nggak bisa berhenti sayang, sebentar lagi!" Arga mengejutkan istrinya.
Semenit kemudian, tumbukan pada lesung itu kembali beraksi. Membuat mata wanita itu terbuka sebentar, karena merasakan lesung itu terasa retak. Lelehan air bening mengalir di sudut mata Rani. Berbeda dengan mimik wajah Arga yang saat ini sedang tersenyum.
Perlahan Arga melanjutkan tumbukannya agar biji biji kopi di dalam sana segera berubah menjadi serbuk. Lesung itu mengikuti gerakan alu, hingga akhirnya biji kopi berubah menjadi serbuk. Tak menunggu lama lagi Arga memejamkan matanya, seiring dia menyeduh kopi di lesung itu dengan air susu putih hangat.
Arga terkulai lemas di samping istrinya. matanya terpejam, sambil satu tangannya melingkar di pinggang sang istri. Dan ia melabuhkan kecupan di kening istrinya. "Thanks may wife, and i love you." ucap Arga.
"I love you too my husband." sahut Rani.
Bersambung...
__ADS_1
Sambil menunggu karya ini update kembali mampir yuk ke karya teman emak.