Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 200. TERLALU AGRESIF


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada Mauren, Bastian keluar dari toko milik Omanya Mauren. Saat sudah berada di luar toko, Bastian membuang nafas kasar. Pasalnya dia harus bertemu lagi dengan adiknya Mario. Dia mengira kalau wanita itu sudah pulang sejak Bastian mengusirnya secara halus, Ternyata Gadis itu justru berdiri di samping mobil Bastian.


"Astagfirullah, mau apa lagi sih adiknya pak Mario?"keluh Bastian dalam hati.


"Kak Bastian!"teriak wanita itu memanggil Bastian.


Bastian mengayunkan langkahnya ke arah Selena. Sebab Gadis itu berdiri di samping pintu kemudi mobilnya.


"Ada apa?"Bastian menunjukkan wajah dinginnya. Dia mulai merasa jengah dengan sikap Selena.


"Kak, Kita ke cafe dulu yuk!"


"Maaf, saya tidak bisa. Karena saya harus segera pulang."


"Sebentar saja kak."Selena memaksa.


"Tidak bisa. Saya harus segera membawa pesanan Mama saya."tolak Bastian lagi.


"Permisi! imbuh pria itu, menyuruh Selena menjauh dari mobilnya. Sebab dia ingin masuk.


Selena terpaksa melangkah ke kanan. "Kak, lain kali mau ya!"bujuk Selena penuh harap.


"Maaf saya tidak bisa."tolak Bastian dengan tegas, dia tidak mau memberi harapan pada gadis itu. Bastian lalu masuk ke dalam mobilnya.


Wajah Selena langsung cemberut, karena Bastian menolak ajakannya. Perlahan Bastian menjalankan mobilnya, meninggalkan Selena yang masih terpaku di tempat itu.


Di dalam toko, Mauren dari tadi memperhatikan interaksi Bastian dengan Selena. Gadis itu melihat Bastian tidak begitu mempedulikan Selena. Karena terlihat saat Bastian menjalankan mobilnya, pria itu tidak membuka kaca jendela. Mauren juga melihat wajah Selena yang cemberut. Itu artinya Selena dikecewakan oleh pria itu.


***


Malam harinya, Moresette saat ini sedang sibuk menata makanan di halaman samping dekat dengan kolam renang. Wanita itu dibantu oleh asisten rumah tangganya. rencananya Malam ini acara mereka menggunakan konsep makan malam, di luar ruangan.


Di sebuah Gazebo ada alat panggang, koki di restoran cornel sudah menyiapkan semua bahan dan bumbu untuk acara malam ini. Jadi mereka tinggal memanggang saja.


Sementara di rumah Richard, saat ini Dora sedang merias wajahnya di depan meja rias. sedangkan Richard Dia sedang mengenalkan setelan kemeja nya dipadukan dengan celana jeans.

__ADS_1


"Sayang, Mauren dan Andika mau ikut nggak?"


"Aku nggak tahu Mas. tadi sore aku tanya mereka, jawabnya lihat nanti."sahut Dora


"Coba selesai dandan ini kamu ke kamar Mauren, nanti aku yang ke kamar Andika."


"Iya,Mas. nanti habis ini aku ke kamar Mauren."


Selesai merias wajahnya, Dora gegas keluar kamar, dia langsung mengetuk pintu kamar putrinya yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Mauren!"Panggil Dora sambil tangannya mengetuk daun pintu kamar putrinya.


"Iya,Ma. langsung masuk aja, pintunya tidak dikunci kok."sahut Mauren.


Dora membuka pintu kamar, dia mendapati putrinya masih tiduran di ranjang sambil di sosial media miliknya.


"Mauren! kamu kok belum siap, nak? kamu tidak ikut ke rumahnya Om Cornel?"tanya Dora sambil berjalan menghampiri Mauren.


"Aku nggak ikut, Ma. matanya menatap sebentar ke arah mamanya.


"Nggak apa-apa Ma. aku mau istirahat saja di rumah."


"Ya sudah, mama sama papa ke rumah Om Cornel dulu. Kamu baik-baik di rumah ya,"pesan Dora pada putrinya sebelum dirinya keluar dari kamar Maureen.


Ketika Dora keluar dari kamar Mauren, Richard juga keluar dari kamar Andika."gimana Mas?


Richard menggelengkan kepalanya. "Andika nggak mau ikut. Dia lagi banyak tugas sekolah."sahut Richard.


"Ya sudah Pa, biar dia sama Mauren di rumah."


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah Cornel. Bastian dan adiknya sudah duduk di Gazebo samping rumahnya. Di gajebo itu juga ada Dian dan Dania, dan juga anak kembar Amor. Sedangkan para orang tua, duduk di kursi meja makan, ada juga yang duduk di lesehan. karena Kornel juga menggelar ambal di atas rerumputan yang sebelumnya sudah dilapis dengan tikar.


"Bimbim mana Amor? Kenapa nggak ikut?"


"Dia ada di rumah sendiri. katanya, dia belum tahu bisa datang apa nggak malam ini."sahut Amor

__ADS_1


Di halaman depan, terlihat sebuah mobil berwarna metalik baru saja parkir. Dora dan Richard langsung turun dan melangkah ke arah halaman samping. Bastian yang melihat orang tua Mauren datang langsung menegakkan duduknya. tatapannya fokus pada dua orang yang baru datang.


"Mauren mana ya?"tanya Bastian di dalam hati. Karena dia sudah menunggu kehadiran Mauren di sana.


Bastian lalu menjauh dari gazebo. dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana pendeknya. Pria itu berjalan ke arah kolam renang sambil menempelkan ponselnya pada daun telinganya.


"Assalamualaikum, Kak."sapa Maurin dari ujung telepon.


"Mauren, Kamu kenapa nggak ikut acara makan malam?"tanya Bastian di dalam sambungan telepon selulernya.


"Ikut kok Kak, Ini lagi di jalan." sahut Mauren. tak lama setelah kepergian orang tuanya, Mauren berubah pikiran.


Bastian tersenyum mendengarnya. "Baiklah Mauren, kakak matikan dulu sambungan teleponnya. Kamu hati-hati di jalan ya, ingat ada kakak yang menunggumu di sini."ucap Bastian di dalam sambungan telepon selulernya.


Mauren hanya tersenyum ketika sambungan telepon itu sudah terputus. Bastian langsung mengayunkan langkahnya menuju teras depan. dia menunggu Mauren sambil memainkan ponselnya. Pria itu mencoba browsing untuk mencari cara melamar seorang wanita.


Ting!!!


Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel milik Bastian. Terlihat nomor asing yang menghubungi dirinya.


Bastian menautkan kedua alisnya. sebab Dia tidak mengenali nomor itu tak ingin penasaran lebih lama, Bastian langsung membuka pesan itu.


"Selamat malam. Kakak lagi ngapain?"


"Pesan dari siapa ini?"Bastian bergumam sambil mengingat-ingat. Dia Lalu memeriksa riwayat panggilan di ponselnya. ternyata benar dugaannya, pesan ke layer ponselnya adalah Selena. tadi sore Bastian lupa menyimpan nomor ponsel wanita itu. makanya pria itu bingung saat mendapat pesan dari nomor yang tidak ada dalam daftar kontaknya.


Setelah membaca, Bastian enggan membalas pesan dari Selena. sebab Bastian tahu, bahwa Selena sedang mengejar dirinya. Maka dari itulah, Bastian tidak ingin membalas pesan itu. dia tidak mau memberi harapan pada adik pak Mario. Pria itu berharap, semoga Selena berhenti mengejarnya. Dia tidak peduli selama akan marah padanya.


Bagi Bastian itu semua tidaklah penting. yang terpenting baginya kini hanyalah Mauren. dia lebih menyukai gadis seperti Mauren dibandingkan seperti Selena, yang mana menurutnya Selena itu terlalu agresif. Bastian tidak suka pada gadis yang mengejar-ngejar pria seperti Selena dan juga Maya. maka dari itulah dia ingin menjaga jarak dari orang-orang seperti itu.


Apalagi, Bastian sudah sangat lama mencintai Maureen. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, setelah dirinya sudah kecewa dua kali dan dia tidak ingin kecewa yang ketiga kalinya.


Sehingga, Bastian benar-benar menjaga jarak kepada setiap wanita. Karena takut, itu menjadi masalah untuknya telat ingin mendekati Mauren.


bersambung...m

__ADS_1


__ADS_2