
Di perjalanan menuju rumah sakit, Antonius memikirkan Bagaimana jika nanti Papanya tidak merestuinya? sebenarnya, jika disuruh memilih, karena posisi dua orang itu sama pentingnya dalam hidupnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Antonius langsung melangkah masuk ke loby rumah sakit. Tangannya sambil menenteng beberapa paper bag dan kantong plastik berisi pakaian dan makanan.
Nampak Antonius mengetuk pintu ruangan sebelum dia masuk ke dalam. Tuan Bernando yang sedang ngobrol dengan istrinya, atensinya jadi teralihkan pada putranya yang baru saja membuka pintu.
"Kamu datang sendirian ya?"
"Iya Pa memang mau datang sama siapa lagi? sama Dora? papa kan tahu dia punya anak bayi,"sahut Antonius.
"Papa kira kamu datang dengan Riana dan orang tuanya."
"Mereka sudah pulang, sebenarnya mereka mau jenguk Papa sebelum pulang, tapi takut kalau Papa tidak suka dengan kedatangan mereka dan papa akan kembali Anfal."ucap Andika dengan nada Sendu.
****
Dua minggu kemudian, sebuah mobil berwarna metalik memasuki pekarangan luas yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Ya, hari ini Antonius dan orang tuanya sedang berada di rumah kedua orang tua Riana.
__ADS_1
Tuan Bernando dan nyonya Nadia turun dari mobil, disusul oleh Antonius yang keluar dari pintu kemudi.
Nyonya Nadia menggandeng tangan suaminya yang terlihat ragu melangkah ke teras. "Ayo Pa, gak usah merasa malu. Antonius juga sudah mengatakan pada Riana dan orang tuanya bahwa kita akan datang ke sini hari ini."
ceklek!
Pintu rumah terbuka. Riana keluar bersama kedua orang tuanya.
Tuan Bernando menundukkan wajahnya, dia merasa malu menatap ke arah kedua orang tua Riana.
"Waalaikumsalam. Mari masuk Bu!"mamanya Riana mengajak kedua orang tua Antonius masuk ke dalam rumah.
Antonius lebih dulu naik ke teras, disusul oleh Nyonya Alena yang menarik lengan suaminya agar mengikuti langkahnya.
ketiganya masuk mengikuti langkah si pemilik rumah yang langsung membawa mereka ke ruang tengah. Mereka duduk di lesehan di ruang tengah. Sebab sofa di ruang tamu tidak cukup untuk dipakai duduk enam orang.
Di ruang tengah itu mereka hanya ditemani oleh Papanya Riana saja. Sebab Riana dan ibunya sedang berada di dapur untuk membuatkan minuman dan menata kue di piring.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, nampak Riana keluar dari dapur dengan membawa sebuah nampan. Di atasnya ada enam buah cangkir berisi minuman teh hangat. mamanya Riana juga keluar dari dapur membawa dua piring berisi kue bolu pandan dan puding.
Dua macam kue itu olahan tangan Riana sendiri. Riana mempunyai keahlian membuat kue. Karena di panti asuhan dia sering membantu mama dan Papanya membuat kue jika ada acara di sana. Karena mamanya pernah bekerja di toko kue Nyonya Alena selama beberapa bulan. jadi tidak, wanita paruh baya itu sedikit memiliki keahlian dalam membuat berbagai macam kue.
Riana meletakkan nampan di lantai, lalu satu per satu cangkir berisi teh itu dia letakkan di depan tamunya. Tak ketinggalan, mamanya Riana juga meletakkan dua buah piring berisi kue di depan tiga orang tamunya.
"Silakan diminum Pak, Bu, nak Antonius. sekalian dicicipi juga kuenya. ini kue olahan Riana sendiri."
"Wah pintar sekali ya, Riana bikin kue,"Puji Nyonya Nadia. Yang dipuji wajahnya nampak bersemu merah.
Suasana ruangan itu kembali hening. Nyonya Alena menyenggol dengan Tuan Bernando, agar suaminya segera membuka suara. dari tadi Tuan Bernando dan Papanya Riana belum ada bertegur sapa.
"Ma... maksud kedatangan kami ke sini, terutama saya, minta maaf kepada bapak sekeluarga atas kata-kata penolakan saya dua minggu yang lalu terhadap Riana. andai saja Dari awal saya tahu kalau Riana ini adalah anak bapak dan ibu, Saya pasti akan langsung merestui Antonius menikah dengan Riana."tutur pria paruh baya itu.
Tadi malam Papanya Riana dan istrinya berunding. Sebenarnya Papanya Riana marah pada Tuan Bernando. Karena pria paruh baya itu terlalu memandang rendah terhadap anaknya. Sudah bisa ditebak bahwa Tuan Bernando ini sangat memilih orangnya.
bersambung...
__ADS_1