
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Risma. Pagi ini Risma baru saja terbangun dari tidurnya. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi. Karena perutnya terasa mual yang begitu mengguncang perutnya.
"Hoek ... Hoek ..."Risma berulang kali memuntahkan isi dalam perutnya. wajahnya sudah terlihat pucat. Terlihat Risma berkumur-kumur usai memuntahkan cairan yang ada di perutnya itu.
Risma lalu menatap cermin yang ada di meja wastafel itu. Tatapannya terpaku di sana beberapa saat. Wanita itu seperti memikirkan sesuatu. Raut wajahnya itu berubah seketika, sangat jelas sekali gurat kekhawatiran di sana.
Risma langsung berjalan menuju meja nakas yang ada di samping tempat tidur. Diambilnya kalender yang ada di meja nakas. Risma langsung duduk di ranjangnya. dia menatap jelly kalender itu, ternyata tamu bulanan Risma sudah telat beberapa minggu dari tanggal seharusnya.
Risma pun langsung bergegas mengganti baju, dia pergi ke apotek terdekat untuk membeli tespek dengan menggunakan motor matic miliknya.
Untuk meyakinkan hatinya yang gundah gulana. Wanita itu membeli tespek, dan setelah membayarnya Nisa langsung pulang kembali ke rumah.
Wanita itu langsung masuk ke dalam kamarnya, karena dia ingin sekali mengetahui hasilnya. Semoga saja tidak hamil, harapnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Nisa keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah gontai. dia duduk di tepi ranjang, air matanya tidak berhenti mengalir sejak dia menangis di dalam kamar mandi.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Risma.
"Risma!!! Ayo makan Nak."mamanya Risma memanggil putrinya.
Risma langsung menghentikan tangisnya, dia mengusap air matanya."
"Iya, Ma. sebentar lagi aku ke bawah."jawab Risma dari dalam kamar, suaranya sedikit serak.
Risma beranjak dari tempat duduknya dan langsung bergegas mandi. Saat menyabun tubuhnya dia tetap perutnya yang masih terlihat rata itu.
Risma memukul-mukul perutnya. "Kenapa kamu ada di perutku?!! kenapa??!!
Setelah selesai mandi, bisa langsung memoles sedikit wajahnya dengan make up, dengan tujuan agar dia tidak kelihatan seperti harus menangis.
saat Risma memasuki ruang makan, kedua orang tua serta adiknya belum menyelesaikan makannya. Risma lalu menarik kursi tempat di mana biasanya dia duduk. Perut Risma terasa bergejolak saat mencium ikan yang masih panas itu mengeluarkan Indra penciumannya.
"Hoek....Hoek..."Risma tidak bisa menahan rasa mual. wanita itu bergegas berdiri dari duduknya dan dengan setengah berlari dia masuk ke toilet yang ada di dapur.
Mama dan Papanya Risma saling berpandangan. ada tanda tanya di dalam hati pasangan paruh baya itu. Terutama mamanya Risma, yang sudah mempunyai anak tiga. tentu saja dia sudah sangat berpengalaman mengenai kehamilan.
Tapi Mamanya Risma memilih untuk diam terlebih dahulu tanpa bertanya sama sekali kepada Risma. karena suaminya masih berada di rumah.
Ketika Risma keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dapur, Risma tidak bisa melanjutkan makannya karena perutnya kembali terasa mual.
Wanita itu kembali berlari ke kamar mandi. tampak gurat kekhawatiran pada wajah wanita yang sudah melahirkan Risma. wanita paruh baya itu yakin kalau saat ini Risma sedang hamil.
Setelah Risma keluar dari dalam kamar mandi, wanita itu tidak menghampiri meja makan lagi. Dia pamit untuk kembali masuk ke dalam kamarnya di lantai atas.
Mamanya Risma menatap ke arah suaminya, kemudian langsung beranjak dari duduknya. "Mama mau ke kamar Risma dulu."pamit mamanya Risma pada suaminya.
__ADS_1
Mamanya Risma mengetuk pintu kamar Risma. "Risma buka pintu!! teriak mamanya Risma.
Mamanya Risma memutar handle pintu kamar putrinya. Namun pintu kamar itu terkunci.
"Risma!!! buka pintu!! teriak mamanya Risma
Kemudian Risma membuka pintu kamarnya, mamanya Risma langsung mendorong daun pintu kamar, dia ingin masuk ke dalam kamar putrinya. Dilihatnya rambut panjang putrinya berantakan. Mulai dari mata, hidung dan bibir terlihat memerah. Tak bisa ditutupi kalau wanita itu habis menangis.
"Risma, kamu kenapa? jawab yang jujur sama mama, apa Kamu hamil?"tanya mamanya Risma to the point saat sudah menutup pintu kamar putrinya.
"Hiks...Hiks.."Risma terisak sambil menundukkan wajahnya.
"Risma, jawab!!! mamanya Risma mulai meninggikan suaranya, karena dia merasa geram dengan putrinya, ditanya bukannya menjawab tapi malah terisak. Risma menganggukkan kepalanya.
"Siapa yang menghamilimu Risma?!!! kedua tangan itu sedikit mengguncang bahu putrinya.
"Rehan Ma, hik hik hik..."
"Kenapa Risma, Kenapa kamu berbuat seperti itu!!! di mana harga diri kamu sebagai seorang wanita?!!! omel mamanya Risma
Sebuah tamparan mendarat di titik kanan Risma. wanita paruh baya itu tidak sadar telah menampar putrinya.
"Hik..hik... hik maafin aku Ma, aku khilaf."Risma menunduk sambil memegang pipi kanannya yang terasa kebas.
"Sekarang cepat ganti baju kamu!! kita ke rumah Rehan sekarang."
"Apa?!! bisa-bisanya kamu putus dengan lelaki yang sudah merenggut mahkotamu!!"geram mamanya Risma.
"Dia ketahuanku selingkuh Ma. makanya dia aku putusin saat itu juga."
"Tapi kamu harus kembali sama dia Risma, dia harus bertanggung jawab sama anak yang kamu kandung."
Risma menggeleng. "Enggak ma, aku nggak mau nikah dengannya. Aku nggak mau punya suami yang nggak setia."
"Terus gimana nasib anak kamu Risma?!! kamu jangan bikin malu keluarga kita. pokoknya kamu harus secepatnya menikah!!
"Ma, aku minta tolong. Mama coba ngomong sama Omanya Bimbim. Fernando menikahi aku agar bisa menutupi kehamilanku."
"Apa kamu gila Risma?!! Fernando bukan ayah dari bayi yang kamu kandung. lagi pula baru kemarin dia menikah. pokoknya kita harus temui Raihan sore ini, saat dia pulang dari kantornya!!"tegas mamanya Risma.
Risma akhirnya terpaksa menuruti perkataan mamanya. Dia tidak berani lagi membantah. sebab Dia sudah melakukan kesalahan besar, mencoreng nama baik keluarga.
Sore harinya, menjelang pulang kantor, Risma dan ibunya sudah melajukan mobilnya ke arah apartemen milik Raihan.
"Risma lebih baik kita menunggu di depan pintu apartemennya saja."usul mamanya Risma.
__ADS_1
Risma tidak menyahut, dia hanya mengikuti mamanya keluar dari mobil. nampak sekali Risma malas bertemu dengan pria itu.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai lima. Terlihat keduanya keluar dari lift itu dan berjalan di koridor lantai lima.
"Kamarnya Yang mana?
"Di ujung sana Ma."
"Sepertinya kamu sering dibawa Raihan ke sini, buktinya satpam dan resepsionis saja menyapa kamu."
Risma terdiam. Dalam hati membenarkan bahwa dirinya memang sering dibawa Raihan ke apartemen pria itu. Bahkan dia sudah melakukan perbuatan terlarang itu sebanyak beberapa kali di apartemen itu.
Kini keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar Raihan. Sebenarnya Risma bisa membuka pintu apartemen itu. Namun, dia sadar diri, bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Raihan.
Tak menunggu waktu lama, terlihat Raihan yang baru saja keluar dari pintu lift itu berjalan di koridor apartemen. pria itu berjalan sambil merangkul dengan seorang wanita. Dari kejauhan Risma mengenali pria itu. Dilihatnya Raihan sesekali mencium pipi wanita yang berjalan di sampingnya.
"Mau apa kamu ke sini? bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!"tanya Raihan dengan tatapan malas kerah Risma, tangannya masih merangkul pinggang wanita di sampingnya.
"Jadi kamu yang namanya Raihan?!! Dengar ya, Risma sekarang hamil karena perbuatan kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab!!"wanita paruh baya itu bicara dengan tegas, sorot matanya menatap Raihan.
"Apa?!! tanggung jawab? tante yakin kalau itu anak saya? bisa saja kan itu anak Fernando. karena Risma juga dekat dengan pria itu.
Plak!!!
Risma mendaratkan tangannya di pipi pria tampan itu. Rehan menikah sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Ma, Ayo kita segera pergi dari sini."Risma menarik lengan mamanya.
"Dengar ya Raihan, Kalau kamu tidak bertanggung jawab saya akan mengadukan kepada orang tua kamu!! tangan mamanya Risma menunjuk ke arah wajah Raihan.
Setelah sampai di basement Risma dan Mamanya Risma segera masuk ke dalam mobil. "Ma, lebih baik kita ke rumah Oma Bimbim saja sekarang. Aku tidak apa-apa menjadi istri kedua dari Kak Fernando. yang penting anak ini punya seorang bapak.
"Risma, kamu sadar nggak sama apa yang kamu katakan?!!
"Jadi aku harus gimana lagi ma? aku terpaksa ngelakuin ini. Mama bantuin aku ya bilang ke Omanya diam dia mamam bujuk tak Fernando buat nikahin Aku untuk jadi istri keduanya. Misalnya dia keberatan Mama bilang saja begitu anak ini lahir Kak Fernando bisa menceraikan aku."
Hening, mamanya Risma berpikir. kalau Risma tidak menikah nama baik keluarganya pasti akan tercoreng. "Baiklah, kita coba ke sana sekarang."jawab mamanya Risma pasrah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN