Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 226.RESEPSI


__ADS_3

" Lihat Bim, aku dapat bunganya."


"Yang dapat bunga itu aku, bukan kamu. Sini balikan bunga aku."Atalia mencoba meraih buket bunga yang ada di tangan Sarah, tapi tidak berhasil.


"Kan posisinya mau jatuh ke tempat kamu. jadi aku nggak merebutnya dari kamu."


"Sudah Atalia, mengalah aja. Nanti aku belikan kamu buket bunga yang lebih bagus dari itu."


Mendengar itu, Sarah langsung panas mendengarnya. "Bim, belikan aku juga ya."ucap Sarah yang hanya mendapat tatapan malas dari Bimbim.


Setelah acara lempar buket bunga selesai, satu persatu tamu mulai meninggalkan ballroom. Mereka menaiki panggung, berpamitan sekaligus mengucap selamat pada kedua mempelai.


nampak Cyntia dan suaminya naik lebih dulu. kini wanita itu berhadapan dengan mantan suaminya, keduanya saling bersalaman tanpa bertegur sapa.


"Terima kasih ya, Mbak sudah datang ke acara pernikahan Bastian."ucap Moresette, yang hanya dibalas Cyntia dengan senyum terpaksa.


kini Cyntia sudah berdiri di depan Bastian, Bastian langsung memeluk mamanya, matanya sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih ya Ma, sudah datang di acara resepsi pernikahan aku dan Mauren."


"Hemm.."wanita itu berdehem.


Sekarang giliran Mauren berhadapan dengan mama Cynthia, Gadis itu ingin mencium punggung tangan Cyntia, naon wanita itu buru-buru menarik tangannya. Hal itu dilihat oleh Cornel, Richard, Dora dan kakek Bernando.


Pria yang rambutnya sudah memutih itu terlihat mengepalkan tangannya, dia mengambil tongkatnya ingin berdiri. "Papa mau ke?"tanya nyonya Nadia. Tangannya langsung memegang lengan suaminya.


"Mau nyamperin mamanya Bastian."


"Sudah, Pa. Ingat! kita lagi di ballroom, jangan bikin!"Nyonya Nadia memperingatkan.


"Selamat ya, Mauren."Atalia mencium pipi Mauren.


"Hati-hati malam ini ya."bisik Atalia di telinga Mauren, membuat Mauren mencubit pelan tangan Atalia.


"Selamat ya, bro."Bimbim memeluk Bastian.


"Maaf atas kejadian waktu itu. jaga Mauren baik-baik ya!"imbuhnya.


"Terima kasih ya, Bim. Aku senang kamu datang dan memberi restu untuk aku dan Mauren."


"Mauren, Selamat ya. maaf atas kata-kataku waktu itu."ucap Bimbim saat bersalaman dengan Maureen.


"Terima kasih,Bim. Mohon doa restunya."sahut Mauren sambil tersenyum ke arah Bimbim.

__ADS_1


Richard dan sahabatnya merasa senang saat melihat ketiga sahabat itu sudah kembali akur.


***


Malam ini, selain kedua mempelai yang menyerap di hotel, orang tua Mauren dan orang tua Bastian juga ikut menginap. Laura dan Andika tidur di kamar yang bersebelahan dengan orang tuanya.


Kamar pengantin malam ini berada di kamar pribadi Bastian yaitu presiden suite room. Bastian berjalan sambil memegang gaun pengantin yang menjuntai di lantai.


Keduanya berjalan menuju kamar pribadi Bastian.sepi, tak ada satu orang pun yang ada di lantai itu. malam ini akan menjadi milik Bastian dan Mauren.


Semakin mendekati kamar, jantung keduanya semakin berdetak lebih cepat. Di pikiran Bastian, Walaupun dia menikahi Mauren yang menurutnya sudah tidak perawan lagi, Tapi tetap saja dia merasakan grogi. Sebab ini kali pertama dia akan melakukan hubungan intim dengan seorang wanita. Terlebih wanita itu adalah orang yang sangat dicintainya.


Setelah sampai di depan pintu, Bastian merokok saku jasnya untuk mengambil card lock. Pintu kamar kini sudah terbuka lebar. menyambut kedatangan kedua mempelai.


"Ayo Sayang, kita masuk!"seru Bastian yang melihat Mauren belum juga melangkahkan kakinya, padahal pintu sudah terbuka dari tadi.


Setelah keduanya masuk, Bastian bergegas menutup pintu kamarnya.


"Sayang, kamu mau mandi atau mau langsung ganti baju?"


"Aku, mau mandi mas."sahut Mauren gugup.


"Mas mandi saja duluan, Aku mau membersihkan make up dulu."Mauren melangkah ke arah meja rias.


"Sayang, Mas ke kamar mandi dulu ya."pamit Bastian meninggalkan Mauren yang sedang membersihkan wajahnya dari make up.


Sementara di tempat lain, setelah menghantarkan Atalia ke rumah, Bimbim langsung melajukan mobilnya ke rumah kedua orang tuanya. Malam ini dia tidak ingin tidur di rumahnya, sebab Dia tidak ingin mengingat Mauren ada di kamar itu.


Apalagi malam ini adalah malam pertama mantan istrinya bersama Bastian. Yang sudah bisa dipastikan Bimbim, malam ini Bastian pasti akan meminta haknya kepada Mauren.


Setelah membersihkan diri, Bimbim langsung naik menuju pembaringan. Malam ini dia tidak bisa memejamkan matanya. saat memejamkan matanya, Dia teringat dengan Morin saat berada dalam kamar pengantin. moment saat Mauren mengikat matanya dengan dasi pun kembali terlintas di kepalanya.


Bimbim beringsut turun dari pembaringannya. pria itu melangkah menuju lemari pendingin yang ada di dalam kamarnya. Dia mengambil minuman kaleng dan membawanya ke balkon.


Tak jauh berbeda dengan Bimbim, Mario juga malam ini tidak bisa tidur. Ini kali keduanya Dia merasakan hal seperti ini. dulu saat Mauren menikah dengan Bimbim pun, Mario tidak bisa memejamkan matanya.


Bayang-bayang adegan ranjang terlintas di kepalanya, yang mana Maureen dikungkung oleh dua orang pria secara bergantian.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunan pria. Mario beringsut menuruni ranjangnya.

__ADS_1


"Ada perlu apa Kamu jam segini mengetuk pintu kamar kakak?"


"Sang Adik bukannya menjawab, Gadis itu mendorong daun pintu kamar dan langsung masuk ke kamar kakak nya.


"Aku tidak bisa tidur Kak."sahut adik perempuan dari Mario Setelah dia duduk di ranjang Mario bagian tepinya.


"Kenapa?"


Gadis itu kembali terisak. " Kak, Aku Masih kepikiran dengan Kak Bastian. aku masih belum bisa melupakannya."


"Kamu ini, pacaran aja enggak tapi sampai segitunya."


"Kakak kenapa tadi nggak ke sana?"


"Ngapain Kakak ke sana? yang ada nanti kakak akan jadi bahan olokan orang-orang."jawab Mario.


" Kembali ke kamar kamu, kakak ingin tidur."Mario menarik tangan sang adik agar keluar dari kamarnya.


Sementara di tempat lain, di kamar presiden suite room, tampak Bastian keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan selembar kain handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Handuk itu melingkar dari pinggang sampai bagian lutut saja.


Mauren yang mendengar pintu kamar mandi terbuka, perhatiannya teralihkan pada sosok pria tampan yang sekarang menjadi suaminya. Gadis itu tidak bisa memalingkan wajahnya saat melihat bulan roti sobek berwarna putih dengan butiran-butiran air di bagian permukaannya, membuat jantung Mauren memompa lebih cepat.


"Sayang ,ayo cepat mandi. Ini sudah terlalu malam."Bastian melangkah ke arah Mauren.


"I...i ..Iya, Mas"Mauren sedikit gugup.


"Kamu kenapa Melihat emas seperti itu?"tanya Bastian. Pria itu kini sudah berada di depan istrinya.


"Eng... enggak apa-apa mas."


Mauren selalu menarik tangan Bastian akan mengikutinya ke arah kamar mandi. satu tangan Gadis itu sudah membawa paper bag berisi piyama dan dalaman, serta perlengkapan mandinya.


"Mas, bantu aku buka resleting gaunku!"seru Mauren dia sudah berdiri di depan kamar mandi yang pintunya sudah dibuka.


"Mas nggak usah tutup mata lagi ya, Sayang. nanti resletingnya macet lagi seperti tadi siang."ucap Bastian beralasan. Mauren hanya memberi jawaban dengan anggukan kepala.


Tangan Bastian langsung memegang kepala resleting. Tangan itu nampak gemetar saat menurunkan silindernya. Bastian kembali meneguk kasar, saat bagian punggung sudah terbuka.


"Mas, jangan diraba!"pekik Mauren.


"Hah.. Maaf sayang."Bastian tidak sadar tangannya mengusap punggung yang putih mulus itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2