
Di ruang bersalin, terlihat Dora ditemani oleh asisten rumah tangga. Nyonya Alena lebih dulu masuk menghampiri Sang Putri.
"Sayang!!!"Panggil nyonya Nadia saat Nyonya Nadia sudah masuk ke dalam ruangan itu.
"Ma, perut Dora sakit banget."keluh Dora sambil meringis kesakitan.
"Iya, sayang. Melahirkan memang seperti itu. kamu yang kuat ya. Mama akan mendampingi kamu. Nyonya Nadia menguatkan anaknya. Dia berusaha untuk menenangkan Dora. memberikan motivasi dan dorongan agar Dora semakin semangat.
"Nona Dora, Ayo kita ke ranjang dulu, dokter mau memeriksa pembukaan Jalan lahir."ucap salah seorang perawat itu sambil menuntun Dora ke arah ranjang.
Dora menoleh ke arah Nyonya Nadia. Dora takut Ma, aduh Dora.
"Ayo Sayang, tidak apa-apa jangan takut. Kamu pasti bisa. Kamu anak Mama yang kuat."Nyonya Nadia menyemangati putrinya.
Setelah berbaring, dokter lalu melekukkan kaki Dora dan mulai memeriksa. "Ini baru pembukaan tiga."ucap dokter itu sambil melepaskan kembali sarung tangannya.
"Masih lama ya Ma?"Dora meringis kesakitan sambil menoleh ke arah Nyonya Nadia.
"Enggak sayang sabar ya." ucap Nyonya Nadia menenangkan
Waktu terus berlalu, beberapa jam kemudian pembukaan Jalan lahir sudah sempurna.
Dora yang sebelumnya sudah diajari dokter itu, langsung melakukannya dan mulai mengatur nafasnya.
"Ayo Dora, lakukan sekarang!"perintah sang dokter
"Arghhhh ....!"teriak Dora tangannya mencengkram kuat lengan Nyonya Alena dan juga branker tempatnya saat ini berbaring melakukan persalinan.
"Ayo Sayang, lagi Sayang, dorong yang kuat!! Nyonya Nadia menyemangati putrinya.
Dora berusaha mengatur nafas ya lagi. Kemudian ia mengejan sesuai dengan instruksi sang dokter.
"Arghhhh.....!!! nafas Dora ngos-ngosan.
__ADS_1
"Ayo Dora, sedikit lagi. mengejannya jangan setengah-setengah. Kamu harus melakukannya dengan nafas panjang.
Mendengar instruksi sang dokter. Dora melakukan hal yang sama.
"Arghhhh...."
Teriak Dora panjang. Tak sia-sia gini suara tangisan bayi menggema di ruangan bersalin.
Oek... Oek....Oek
"Alhamdulillah, bayinya perempuan."ucap dokter itu lalu dia menyerahkan bayi itu pada perawat untuk segera dibersihkan.
Nyonya Nadia tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah anak kamu seorang perempuan sayang, pasti cantik seperti kamu."ucap wanita paruh baya itu sambil menyeka keringat putrinya.
Dora tersenyum tipis. Tidak sia-sia perjuangannya harus meninggalkan kota kelahirannya, hanya untuk mempertahankan anaknya. Sekalipun awalnya Dora tidak menginginkan kehadirannya.
Tapi Dora tidak bisa memungkiri, mungkin ini sudah takdir. Hingga Allah membuat teguran untuknya, agar lebih baik kedepannya.
****
Sejak Richard mengambil alih tampuk kepemimpinan perusahaan keluarga Nicholas, sejak itu juga perusahaan milik Tuan Nicholas mengalami kemajuan pesat.
Sekarang Richard gila kerja, dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja sampai larut malam.
Hal ini dilakukan hanya semata-mata untuk mengalihkan perhatiannya dari Dora. Karena sampai sekarang orang-orang suruhannya belum mendapatkan informasi mengenai keberadaan Dora.
Sebab sejak Dora dan nyonya Nadia pergi dari rumah, sejak itu pula Tuan Bernando dan Antonius tidak pernah bertemu dengan Dora dan juga Nyonya Nadia lagi.
Kedua pria itu khawatir jejak mereka akan diikuti oleh orang suruhan dari Richard. karena dua pria itu tahu Richard pasti tidak akan tinggal diam. Jika mereka di posisi Richard, mereka pasti akan menyuruh orang juga untuk memata-matai mereka.
"Tuan, ini sudah jam 11.00 malam. Apa tidak sebaiknya pekerjaan ini dilanjutkan besok saja."ucap asisten pribadi Richard yang sudah sangat ingin sekali pulang ke rumah.
__ADS_1
"Kamu kalau capek lebih baik pulang saja duluan, saya nggak apa-apa ditinggal sendiri." sahut Richard yang matanya tetap menatap ke arah laptop.
"Tidak, Tuan. Saya akan tetap menunggu dan menemani Tuan di kantor.
Sekitar satu jam kemudian Richard pulang ke rumahnya. Setelah sampai di rumah pria itu langsung membersihkan tubuhnya. Dia langsung masuk ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, pria itu keluar dari dalam kamar mandi. Dan langsung melangkah menuju walk in closet untuk mengambil pakaian tidurnya.
"Dora, Kenapa seharian ini aku terus kepikiran kamu? apa yang terjadi sesuatu kepadamu? apa kamu baik-baik saja disana? tanya Richard dalam hati.
Saat ini Richard sudah berada di atas tempat tidurnya, dengan posisi terlentang. Kedua tangannya dia lipat ke belakang kepalanya untuk dijadikan bantal, matanya menatap langit-langit kamarnya.
"Kemana lagi aku harus mencari kamu Dora. semua usaha sudah aku lakukan, tapi tidak membuahkan hasil. sebenci itukah kamu kepadaku Dora? batin Richard bertanya kemudian pria itu memejamkan matanya.
****
Sekitar Empat bulan kemudian terlihat Dora sedang mengemasi barang-barangnya. Rencananya dia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tepatnya di California
"Apa masih terasa sakit sayang? tanya Nyonya Nadia sembari memperhatikan gunung kembar milik Dora.
"Sudah enggak lagi Ma."
"Kamu serius Dora, mau meninggalkan anak kamu ini?"tanya wanita paruh baya itu sambil membantu memegang botol dot anaknya Dora.
"Iya Ma, nanti Dora akan kembali kok. Dora akan mengambil kembali anak ini."
"Andai saja Papa mau mengizinkan Mama pasti akan merawat sendiri anak kamu."ucap Nyonya Nadia
"Sudah lah Ma, Dora nggak mau kalau mama sampai bertengkar dengan papa gara-gara anak Dora."ucap Dora sambil terus mengemasi barang-barangnya masuk ke dalam tas dan kopernya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN