Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 43. OKEZONE


__ADS_3

Hari Minggu ini Mall terlihat sangat ramai pengunjung, Richard yang sudah sampai di parkiran Mall langsung menggendong putrinya.


"Papa turunin Mauren!!! Mauren mau jalan sendiri saja. Maureen sudah besar."ucap Mauren dengan nada has suara bocah kecil.


"Iya sayang, nanti ya saat kita sudah sampai di teras Mall."


Beberapa saat kemudian Richard dan putrinya sudah sampai di teras Mall. Richard lalu menurunkan putrinya dari gendongannya dan langsung memegang erat tangan putrinya.


Saat sudah berada di dalam mall, Richard langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Dia langsung mencari kontak Cornel. Sesudah menemukannya Richard langsung menghubungi Cornel.


Kring ...


Kring ...


Kring...


"Halo, kamu di mana Richard? tanya Cornel saat mengangkat telepon Richard.


"Ini aku baru masuk mall, kalian di mana?


"Kami ada di Okezone, kamu langsung saja susul kami ke sini!!!"


"Oke."sahut Richard singkat dan panggilan langsung terputus.


Richard langsung menuntun putrinya ke arah lift.


"Papa, kita mau ke mana?


"Kita naik lift dulu ya, sayang."


"Tapi Mauren mau naik itu Pa." tunjukkan pada tanggal eskalator."


"Nanti saja pulangnya ya, sayang. Bimbim dan Bastian sudah lama menunggu kita di Okezone."Richard memberi pengertian pada putrinya.


Mauren mengangguk dan mengikuti Richard masuk ke dalam lift saat pintu itu sudah terbuka.


Ting! pintu lift terbuka di lantai Lima. Richard dan putrinya melangkah keluar dari lift itu. pria itu langsung menuntun putrinya ke arah lokasi Okezone.


"Mauren!!! teriak Bimbim anak dari Fernando saat melihat Mauren dan Papanya sedang berjalan mendekati lokasi Okezone.

__ADS_1


Maureen langsung ingin berlari mendekati Bimbim. Namun, tangannya dipegang erat oleh Richard.


"Pa, Mauren menoleh ke arah Papanya meminta tangannya dilepaskan.


"Jalan saja Sayang, ngak usah lari-lari, nanti kamu jatuh." ujar Richard


"Iya Pa."


"Mauren, kita naik mobil itu yuk." ajak Bimbim anak Fernando. Saat Mauren sudah berada di tempat itu.


"Mauren, kita main pukul tikus aja." ajak Bastian.


Mauren jadi bingung mau main apa dia. Dia Lalu menoleh ke arah Papanya.


"Mauren main mobilan dulu ya Bastian, setelah itu baru main pukul tikus sama Bastian." Richard memberi pengertian pada Bastian agar tidak kecewa dan Bastian pun mengangguk senang.


Kini ketiga orang tua anak itu, ikut bergabung duduk di dekat Afrian. Namun, sesekali mata mereka tetap mengawasi anak mereka.


"Nggak menyangka ya, dulu kita yang berteman sekarang anak kita juga berteman. Cornel memulai obrolan.


"Iya, tapi ada satu lagi yang kurang nih. perjaka kita belum punya anak." sindir Fernando.


"Kalian sekarang Apa bedanya sama aku??? Kalian bertiga juga jomblo." sahut Afrian.


"Kamu kapan dok nyari Ibu baru buat Bimbim?


"Aku belum tahu, sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikan posisi almarhumah di hatiku."ucapnya sedih saat kembali teringat pengorbanan istrinya yang meninggal saat melahirkan Bimbim.


"Tapi kan, kasihan Bimbim do, dia sejak bayi belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu."sahut Afrian.


"Aku takut Afrian, anakku nanti mendapat perlakuan yang tidak baik dari ibu sambungnya."


"Kalau kamu Cornel, kapan mau cari pengganti ibunya Bastian? masa kalah sama mantan, dia saja sekarang sudah punya anak dengan suami barunya . ucap Afrian.


"Dia wajar sudah nikah duluan, dari aku. Kan dia nikah dengan pria selingkuhannya itu."sahut Cornel.


"Nah kalau kamu Richard bagaimana? sudah hampir Lima tahun kamu menunggu Dora. Tapi wanita itu sampai sekarang nggak ada kabarnya." ucap Afrian.


"iya nih si Richard, setia boleh tapi kalau sudah terbukti ada status hubungan. Nah, kamu sama Dora Kan dari dulu nggak ada hubungan status pacar sama dia. Malah membenci kamu. Jadi buat apa kamu menunggu yang tidak pasti. Lebih baik cari yang baru saja. Masih banyak wanita cantik di luar sana yang mengantri sama pria tampan dan mapan seperti kamu."sahut Cornel.

__ADS_1


"Aku sama seperti Fernando. Nggak ada wanita yang bisa menggantikan posisi dia di hati aku."ucap Richard yang langsung teringat dengan Dora.


Obrolan keempat pria itu berhenti saat Mauren berlari menghampiri Papanya.


"Papa aaa!!!!Huaaaa.... Bimbim pa uaaaa ..."Mauren menangis.


"Mauren Kamu kenapa menangis sayang?"ucap Richard seketika merasa khawatir.


"Kartu Mauren diambil Bimbim Pa. hiks.... hiks.. hiks.... hik."


"Nah kan, setiap Mauren menangis pasti Bimbim penyebabnya. Ha....ha.....ha." ucap Cornel.


Fernando berdiri. "Pasti kartu Bimbim habis saldonya." ucapnya lalu berjalan menghampiri putranya.


Sekitar satu jam kemudian Bimbim dan Bastian mengajak orang tuanya pulang, karena mereka sudah lelah. Sedangkan Mauren dia masih ingin jalan-jalan.


"Richard, aku mau balik sekarang ya. Kamu nggak apa-apa kan jalan berdua sama Mauren?" tanya Afrian


"Nggak apa-apa." sahut Richard.


Sepeninggalan ketiga orang temannya Richard mengikuti kemana langkah kaki putrinya. Mauren menarik tangan Papanya memasuki sebuah toko mainan.


"Pa, Mauren mau beli ini." tunjuknya pada boneka Doraemon


"Mauren, Di rumah sudah ada banyak boneka seperti itu. lebih baik kamu beli yang lain saja ya sayang."


Mauren menunduk sambil menggeleng.


Richard lalu menghela nafasnya. "Ya sudah, sekarang Kamu pilih saja boneka yang ukuran apa?" Richard mengalah pada putrinya.


Mauren langsung tersenyum. Mauren mau yang besar Pa.


"Iya, kita ambil yang besar." sahut Richard memenuhi keinginan putrinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE EMAK YANG LAIN


__ADS_2