
Setelah membisikkan kalimat menenangkan, Cornel mulai melakukan serangan pada markas lawan. Dia tidak mempedulikan kuku-kuku panjang lawan, menggores dan melukai punggungnya.
Perjuangan Colonel kali itu begitu menguras energi, keringat yang mengalir di pelipisnya, menandakan perjuangan lelaki itu dengan begitu gigih, memaksa masuk ke markas lawan.
Moresette sampai saat ini belum mampu untuk move on dari ketegangannya. Mata Moresette terpejam beberapa saat. Saat lawan mulai mendesak dan mendobrak ingin masuk ke markas utama.
"Tahan sayang, sebentar lagi. Tinggal beberapa senti lagi."kembali Cornel membisikkan kalimat menenangkan di telinga istrinya.
Setelah lawan mulai terkecoh oleh kalimat itu, cornel menambahkan sedikit tenaganya agar markas lawan berhasil dia dobrak dalam hitungan detik.
"Argh .... kenapa sakit banget, Mas?"butiran bening mengalir dari ekor matanya.
Rembesan cairan berwarna merah mengalir hangat di pintu markas.
Cornel mengecup kening istrinya. "Terima kasih sayang, kamu sudah menjaganya untukku."ucap Cornel bangga karena menjadi yang pertama untuk Moresette.
Cornel menghentikan serangannya sebentar. memberi kesempatan lawan untuk mengisi amunisi.
"Mas, mohon tetap bertahan. Mas harus menuntaskannya sayang." bisiknya di telinga Moresette.
Ketika lawan sudah mulai tenang, Cornel kembali melancarkan serangannya. menembaki musuh-musuh di dalam sana.
Teriakan dari lawan terdengar merdu di telinga Cornel. Membuat Cornel semakin semangat menggempur markas utama.
Tembakan brutal dari penjajah membuat Moresette mengerutkan rangkulannya pada punggung lawan. Tak tahan dengan serangan itu, Moresette langsung melemparkan granat ke arah lawan.
Cornel yang terkena ledakan bom itu, matanya terpejam merasakan dirinya di babat habis dalam di dalam sana. Hal itu membuat Cornel membalas serangan itu.
Dia semakin bersemangat mengobrak-abrik musuh di dalam markas. Hal itu membuat lawan kewalahan rancuan Demi rancuan yang keluar dari mulut lawan itu, terdengar mengalun indah di telinga Cornel.
Hal itu menjadi bukti, bahwa Cornel adalah seorang pejuang yang tangguh. Serangan itu tak bisa bertahan lama, sebab kini hanya bisa senjata pamungkas saja yang akan menaklukkan lawannya, dan dapat membuat lawan cedera selama sembilan bulan.
Dengan penuh semangat, akhirnya cornel memberondol lawan dengan peluru, berupa cairan kental berwarna putih, yang masuk ke ruang rahasia di dalam markas itu.
"Cup!"
Sebuah kecupan dikenal Moresette yang basah oleh keringat. Cornel terkulai lemas, bersama tongkat satu yang ikut melemas. Dia menjatuhkan tubuh di samping istrinya sambil tersenyum dengan kedua matanya tertutup.
__ADS_1
****
Plak!
Richard memukul lengan Kornel. "Cornel, disuruh cerita malah melamun."
Cornel kembali tersadar dari lamunannya.
Ngelamunin apa sih, Cornel?" pasti kamu kembali teringat saat belah duren, ya?
"Husst ...diam, kedengaran istriku nanti dia ngambek sama aku." Cornel memperingatkan.
"Jadi gimana Cornel, Bastian gangguin kamu nggak?
"Enggak malam pertama aku aman."Bastian gak mengganggu kilah Cornel.
Andai saja temannya tahu dia sampai berurusan dengan polisi waktu itu, pasti ketiga temannya itu akan menertawakannya. dan itu bisa menjadi bahan ledekan seumur hidupnya.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dora disibukkan oleh Richard dan dua anaknya.
"Masya Allah, gantengnya anak Mama." Puji Dora saat memakai baju kecil berwarna putih.
"Dede Andika yang anteng, ya. Mama mau ngurus bayi besar dulu."pesan Dora pada bayi kecilnya.
Dora lalu menatap ke sisi ranjang sebelah kanan, masih ada pakaian suaminya. "Mas kok celananya belum dipakai? sungut Dora
"Mas, kan nunggu antrian sayang."sahut Richard sambil nyengir.
"Ayo pakai celananya, Mas. Nanti aku bantu memakaikan bajunya!
Sembari menunggu suaminya memakai celana, Dora merapikan hijabnya yang tadi sempat ditarik oleh putranya saat ujung pashminanya menjuntai di dekat tangan bayi mungil itu.
Richard memegang pinggang Dora saat wanita yang membantu mengancing baju Kokonya.
"Sepuluh hari lagi ya, Sayang." Richard menyatukan keningnya ke kening istrinya.
__ADS_1
"Kita lihat ya, Mas. Aku takut jahitannya akan terbuka. Dulu saat Mauren lahir, kamu belum jadi suami aku. Jadi luka di bawah sana, bisa sembuh sempurna saat kita menikah."
"Jangan bilang kamu menyuruh aku puasa selama lima tahun kayak Mauren kemarin."
"Enggak, udah Mas ayo, kita turun. Orang-orang pasti sudah menunggu kita di bawah sana.
Richard lalu menggendong putranya.
"Mauren mana sayang? Richard membuka pintu kamar putrinya. Dia tidak melihat Mauren di kamar itu
Maureen sudah di bawah, Mas. Tadi aku suruh dia menyusul Oma dan neneknya.
Di tepi jalan depan rumah Richard, nampak dua buah bus, baru saja berhenti di sana. Antonius sudah datang lima belas menit yang lalu itu langsung menghampiri bus. Dia ingin membantu anak-anak turun. Tuan Nicholas juga tak tinggal diam. Pria paruh baya itu juga turut membantu.
Nyonya Alena berjalan menghampiri suaminya. Wanita paruh baya itu membantu mengarahkan anak-anak yang dibawa usia sepuluh tahun, agar duduk di halaman bergabung dengan Mauren, Bimbim, dan juga Bastian.
Sedangkan anak-anak di atas sepuluh tahun dan laki-laki dewasa. Diminta untuk segera masuk ke dalam rumah, karena sebentar lagi acara akan segera dimulai.
Terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran dibawakan oleh salah satu anak panti asuhan. Di halaman rumah, tampaknya Mia sedikit kewalahan menenangkan anak-anak.
Pasalnya kali ini dia sendirian. Amor dan Moresette tidak bisa membantu seperti dulu. Sebab itu kedua wanita itu sedang merasakan mual. Terlebih Amor dia tidak bisa mencium Aroma makanan yang keluar dari meja prasmanan.
"Amor, Moresette, lebih baik kalian masuk ke dalam! ucap Nyonya Nadia
"Enggak Tante, kami lebih baik di gazebo saja. di sini enak, masih ada udara segar. Kalau di dalam, pasti dan penuh dengan aroma parfum." sahut Morissette.
"Ya sudah, kalau begitu Tante mau kembali ke dalam dulu."pamit Mama Nadia.
Hari ini yang menjaga meja prasmanan adalah Rani dan dua orang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Richard. Rani yang melihat Mia kewalahan menenangkan anak-anak. Dia berjalan ke arah kumpulan anak-anak.
Wanita itu membantu Mia menenangkan anak-anak panti. Terutama Mauren, Bimbim, dan Bastian yang sebenarnya mereka adalah biang rusuh di halaman itu.
Di dalam ruangan, setelah acara potongan rambut dan lainnya selesai, baby Andhika tiba-tiba menangis kencang. Richard lalu berdiri dan menghampiri istrinya. Pria itu paham kalau putranya ingin minum susu murni dari Mamanya.
"Ma aku tinggal ke dalam dulu ya, mau menyusui baby Andika."pamit Dora. Wanita itu melangkah ke kamar tamu.
Satu persatu tamu mulai keluar untuk mengambil makanan di meja prasmanan yang ada di halaman. Rani kembali kemeja prasmanan membantu asisten rumah tangga Richard melayani para tamu yang mengambil makanan.
__ADS_1
"Tante Mia,Mauren lapar." Mauren meminta makanan.
Bersambung....