
Terlihat Richard baru memarkirkan mobilnya di dekat gerbang sekolah. Pria itu turun dari dalam mobilnya dan langsung melangkah ke arah pintu sebelah kiri untuk membuka pintu untuk Mauren dan membantu Mauren turun dari dalam mobilnya.
Setelah menurunkan Mauren, Richard langsung berjalan kembali ke arah pintu kemudi.
Bu Rani yang juga baru datang ke sekolah langsung memarkirkan motornya di samping mobil Richard."Pak Richard!"panggil Ibu Rani.
Richard yang saat ini ingin masuk kembali ke dalam mobilnya itu, segera menoleh ke arah yang memanggil.
"Ada apa Bu?"
Ibu Rani berjalan ke arah Richard. "Begini Pak, besok di sekolah ini akan diadakan acara hari ibu."
"Terus?
"Misalnya Mama Mauren tidak bisa hadir masih bisa diwakilkan kok, oleh Bapak."
"Oh, kalau masalah itu istri saya pasti bisa hadir."
"Istri?? bukannya Pak Richard ini di KTP-nya masih lajang? batin Ibu Rani.
"Saya permisi dulu Bu, mau berangkat ke kantor." usai mengucapkan itu Richard langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Ah, iya pak hati-hati di jalan."
Keesokan harinya di sekolah Mauren jam sepuluh pagi , orang tua murid sudah mulai berdatangan ke sekolah. Mauren dari tadi menangis karena Dora belum juga datang.
"Huaaaa.... Mama....m Mama Mauren mana..... Hua aaaa....
Bu Rani yang melihat Mauren menangis itu langsung menghubungi Richard.
Kring
Kring
Kring
Suara Deringan ponsel milik Richard terdengar jelas di telinganya. Richard meraih ponselnya yang ada di saku celana. Dia melihat nomor ponsel ibu Rani yang menghubungi dirinya.
"Ibu Rani? Ada apa ya, apa sesuatu terjadi dengan Mauren? tanya Richard dalam hati sebelum mengangkat telepon itu.
Saat ini dia lagi di jalan bersama dengan sang asisten.
Richard lalu menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Ibu Rani yang ada di ujung telepon.
"Halo!"
"Halo Pak Richard, ini Mauren menangis bisa nggak bapak datang ke sekolah?
"Mauren menangis Kenapa, Bu?
"Mamanya nggak datang Pak."
"Oh iya, terima kasih ya. Kalau begitu saya akan segera ke sana."Richard selalu menutup sambungan telepon selulernya.
"Ayo kita ke sekolah Mauren." Titah Richard kepada sang asisten
"Baik Tuan."
__ADS_1
Mobil kemudian melaju ke arah sekolah Mauren
Richard lalu menghubungi Dora.
"Halo Sayang, kamu dimana?
"Maaf Pak, saya Bila ponsel Ibu ketinggalan di ruangannya.
Sementara Dora saat ini sedang di jalan, Ban mobilnya bocor. Dia sedang menunggu taksi lewat.
Di sekolah Mauren masih tetap menangis mencari Dora." Mauren, Mauren sama ibu saja ya. Ibu akan membantu Mauren. sebentar lagi papa Maureen akan ke sini. jangan nangis lagi ya." bujuk Ibu Rani.
"Nggak mau Mauren maunya sama Mama." hik.... hik.... hik.
"Mauren jangan nangis lagi. Sama ibu Rani saja. Mama aku juga nggak ada di sini. Tapi aku mau ditemani teman kita." ucap Bimbim.
Akhirnya Maureen berhenti menangis, dia mau dibantu Ibu Rani.
Sementara di jalan, saat mobil yang dikendarai oleh asisten Richard melaju ke arah sekolah Mauren, asisten Richard melihat istri bosnya berdiri di pinggir jalan.
"Itu kan istri Tuan." ucap sang asisten.
Richard yang asik dengan ponselnya lalu mengalihkan perhatian ke jalan saat mendengar ucapan sang asisten. Mobil yang dikendarai oleh asisten Richard berhenti di depan mobil Dora.
Ricard segera keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah istrinya.
"Kenapa sayang?"
"Ban mobil aku bocor mas, antar aku ke sekolah, ya."
"Keduanya lalu memasuki mobil saat ini Richard duduk di kursi kemudi dan Dora duduk di sebelahnya. Sedangkan sang asisten di suruh oleh Richard untuk mengganti ban bocor mobil istrinya, dengan ban serep. Nanti setelah selesai sang asisten akan menyusul Richard ke sekolah.
"Mas duluan masuk ke sekolah, ya. kasian Mauren Kalau kelamaan menunggu kita.
"Kenapa kita nggak barengan saja sayang.
"Aku memperbaiki riasan dulu karena tadi aku berkeringat saat menunggu taksi.
Richard akhirnya turun lebih dulu. Dia langsung melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah. Saat sudah sampai di sana, ternyata anaknya sudah tidak menangis lagi. Saat ini Maureen sedang dibantu oleh ibu Rani.
"Papa!!"teriak Mauren saat dia sudah melihat Papanya dengan jarak tidak terlalu jauh.
"Pak Richard mari sini pak, kita bantuin Mauren!"Bu Rani menyuruh Richard mendekat ke arahnya.
Namun, Richard enggan mendekat. Dia takut istrinya nanti akan cemburu melihatnya dekat dengan ibu Rani. Bakalan susah nanti dia minta jatah menyelam untuk adik kecilnya.
"Papa ke sini! pinta Mauren.
Richard tidak bergerak. Pria itu masih diam di tempat. Tidak berani maju melangkah sedikitpun, dia ingin menunggu istrinya datang.
"Pak Richard, ayo ke sini pak. Biar cepat selesai." ujar Ibu Rani sambil tersenyum ke arah Richard.
Beberapa saat kemudian, Dora datang dan langsung merangkul lengan Richard."Ayo Mas kita bantuin anak kita."
Richard dan Dora lalu berjalan menuju ke arah Mauren. "Permisi Bu, biar saya dan suami saya saja yang membantu Mauren."usir Dora secara halus.
"Mama, Papa." ucap bocah kecil itu dengan mata berbinar.
__ADS_1
Ibu Rani terpaksa menjauh dari tempat Mauren. Kini tempatnya sudah diisi oleh Dora dan Richard. Kini Dora dan Richard membantu Putri mereka untuk membuat sesuatu yang unik di hari Ibu ini.
Dora terlalu mencontohkan pada Mauren cara membuat kue yang dimaksud oleh Maureen.
Setelah semuanya selesai dibentuk, Sekarang tiba saatnya kemarin menyuapi makanan untuk orang tuanya. Richard pun juga disuapi oleh putrinya.
Ibu Rani yang berada di ujung ruangan, menatap tidak suka pada pasangan pengantin baru itu.
"Ris, Tolong bantu fotoin Kami bertiga dong." pintar Dora pada sahabatnya, Dora menyerahkan ponsel suaminya.
Risma lalu mengambil ponsel itu, kemudian Dora dan suaminya berpose sama-sama mencium pipi Mauren.
Mauren begitu sangat bahagia diperlakukan seperti itu oleh kedua orang tuanya. Ibu Rani yang melihat itu mengepalkan tangannya begitu erat.
Dia tahu kalau Mamanya Mauren sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi nya. membuat dirinya semakin geram menahan emosi.
Setelah selesai acara, Dora Tak sedikitpun melepaskan rangkulan tangannya dari Richard. Dia seolah-olah ingin menunjukkan pada ibu Rani kalau dirinya adalah pemilik Richard seutuhnya.
"Sayang mas dan asisten langsung pulang ke kantor. Mobil kamu bannya sudah diganti oleh asisten."ucap Richard saat mereka berjalan ke arah luar gerbang sekolah.
"Iya Mas, aku dan Mauren juga habis ini mau langsung ke butik.
***
Di sebuah gedung pencakar langit tepatnya di perusahaan milik Tuan Nicholas. Tepatnya di ruang kerja Mia. Wanita itu sedang menulis pesan untuk Afrian. Namun,beberapa kali dia hapus. Dia ingin sekali menanyakan mobilnya pada Afrian. Namun, dia malas untuk mulai berkomunikasi dengan pria itu.
sedangkan di bengkel Afrian. Mobil Mia sudah beberapa hari yang lalu selesai diperbaiki.
"Bos, mobil ini kenapa sampai sekarang belum diambil oleh pemiliknya?apa Bos belum memberitahu kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki?" tanya anak buah Afrian.
"Aku memang sengaja tidak memberitahunya. karena aku ingin dia sendiri yang menghubungi aku dan menanyakan perihal mobilnya itu."sahut Afrian dengan senyum sumringah.
Beberapa menit setelah Afrian mengatakan itu, sebuah notifikasi pesan masuk dari Mia.
"Sudah selesai belum?"pesan Whatsapp yang dikirimkan oleh Mia.
Afrian tersenyum. "Akhirnya kirim chat juga dia."batin Richard.
"Sudah. Nanti sore saat kamu pulang kerja kakak angkat antar mobil ke kantor."karena dia tidak membalas, jadi Afrian anggap Mia setuju.
Jam lima sore Tuan Nicholas keluar dari dalam ruangannya. Pria Paruh itu berjalan menuju ruang kerja putrinya.
Tok ...
Tok ...
Tok....
"Masuk." teriak Mia
Tuan Nicholas lalu membuka pintu ruangan itu. "Mia ayo kita pulang sekarang!"ucap pria paruh baya itu di depan pintu ruang kerjanya.
"Papa duluan saja, aku lagi menunggu Kak Afrian Katanya dia mau mengantar mobilku sore ini." sahut Mia
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN