Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 160. DI HOTEL


__ADS_3

Tok tok tok.....


Morata mengetuk pintu kamar kakaknya


"Masuk!"seru Mario dengan dada sedikit ditinggikan agar orang yang di luar kamarnya mendengar seruannya.


Morata lalu membuka pintu kamar Mario dengan tangan kirinya. sedangkan tangan kanannya membawa makanan kesukaan pria itu. Morata berjalan menghampiri ranjang kakaknya, dan duduk di tepi ranjang itu.


"Kak, ini aku bawakan makanan kesukaan kakak. dimakan ya!"dari tadi siang Kakak belum makan. nanti gimana Kakak mau minum obat Kalau perut Kakak nggak diisi apa-apa?


Mario menggeleng. "Kakak lagi nggak ingin makan."


"Kalau kakak nggak mau makan ini, aku bawa roti saja ya. yang penting bisa untuk mengisi perut kakak."tawar Morata.


Mario Tak tega menolak tawaran adiknya. adiknya itu begitu perhatian terhadapnya. pria itu kemudian mengangguk Morata tersenyum seketika. garis itu langsung berinsut keluar dari kamar kakaknya.


Beberapa menit kemudian, Morata kembali lagi dengan membawa piring berisi beberapa jenis roti. Mario mengambil sebungkus roti.


"Kak, aku punya ponsel yang tidak aku pakai, Siapa tahu Kakak mau pakai itu dulu sementara Kakak belum membeli ponsel yang baru."


"Tidak usah, Kakak memang sengaja belum mau mengaktifkan nomor kakak. pasti malam ini banyak pesan yang dikirim oleh teman-teman kakak, yang menanyakan Kenapa bukan kakak yang bersanding di pelaminan dengan Mauren.


Morata bergeming, dia merasa iba dengan nasib percintaan kakaknya yang berakhir tragis seperti ini.


***


Sarah hampir tidak percaya kalau pria yang bersanding dengan Bimbim adalah pria pujaan hatinya. "Kenapa jadi Bimbim yang nikah dengan Maureen? bukannya harusnya Pak Mario yang menikah dengan Mauren? Ah brengsek kamu!!! Sarah mengumpat dalam hati.


Beberapa saat kemudian wanita itu tersenyum culas, pesan yang dia kirim pada Aulia langsung centang biru. Tak perlu aku turun tangan cukup Aulia saja yang akan bertindak."batin Sarah.


Di pelaminan Mauren memaksakan senyumnya saat bersalaman dengan para tamu yang ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya. sampai akhirnya giliran dia bersalaman dengan Sarah.


Awalnya Mauren sempat heran kepada Sarah bisa hadir di acara resepsi pernikahannya, sebab dia tidak mengundang saran dan juga Arini.


Namun, saat Papanya Sarah berbicara dengan papanya, Mauren sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa Papanya Sarah adalah rekan kerja Papanya.

__ADS_1


"Selamat ya Mauren, sebentar lagi Aulia akan menghajar kamu."bisik Sarah di telinga Mauren. selanjutnya Sarah memberi ucapan selamat juga dengan Bimbim.


Setelah mengucapkan itu, Sarah dan Papanya turun dari panggung pelaminan. Mauren jadi kepikiran dengan ucapan Sarah barusan. sebenarnya Mauren ingin membicarakannya dengan Bimbim namun tak putus-putusnya naik tepung panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai, serta sekalian berpamitan untuk pulang.


Sementara di tempat lain tepatnya di rumah Aulia, saat ini wanita itu sedang menangis tergugu di dalam kamarnya. Dia syok saat melihat kiriman foto dari Sarah. foto yang memperlihatkan moren dan Bimbim sedang berdiri di panggung pelaminan dengan memakai pakaian pengantin.


"Ternyata kamu sudah membohongi aku Bim. kamu bilang lagi nggak enak badan. ternyata itu alasan kamu saja. Kenapa kamu menikahi Gadis itu Bim? bukankah kamu pernah bilang bahwa kamu dan dia hanya bersahabat, selamanya akan tetap jadi sahabat?"ucapnya kesal.


Aulia berbicara sendiri di dalam kamar kosnya . Ingin rasanya Dia pergi ke hotel itu sekarang juga maki-maki Mauren dan juga Bimbim. Tapi apa daya, dia hanyalah seorang gadis dari kalangan menengah ke bawah. yang sudah pasti di tempat itu nanti akan diremehkan oleh orang-orang terutama orang tua Mauren dan orang tua Bimbim.


"Jadi ini ya bin tadi sore kamu beralasan tidak enak badan? ternyata kamu malam ini mau enak-enakan dengan Mauren."


Setelah itu Aulia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Nampak sekali kegelisahan dalam dirinya menantikan pesan balasan dari Bimbim.


Kembali lagi kebal hotel, sebagian kamu sudah mulai meninggalkan tempat itu. termasuk orang tua Dora dan orang tua Richard, mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Mia, Afrian dan anak-anaknya juga bersiap untuk pulang ke rumah.


Moresette sedari tadi celingukan mencari keberadaan putranya. "Bastian di mana ya? kok sedari tadi dia nggak kelihatan di ballroom? tanyanya dengan suara lirih. Dan itu didengar oleh suaminya.


"Mungkin dia ketiduran di ruangan sayang,"Cornel menyahut.


"Jadi, Kan aku sudah janji sama Amor dan Dora, jadi baginya kita bisa sarapan bareng," sahut Moresette, yang hanya dibalas anggukan oleh Cornel.


Setelah semua kamu sudah meninggalkan baru, kedua mempelai beserta para sahabat dari Dora dan Richard juga bersiap untuk meninggalkan ballroom atau juga.


Nampak Mauren sedikit kesusahan berjalan karena gaun pengantinnya yang begitu merak dan panjang.


"Bimbim coba kamu mengangkat gaunnya yang terseret di lantai itu!"seru Amor


Bimbim yang tidak peka itu langsung menuruti perintah mama sambungnya.


Tak jauh dari Bandung itu ada lift yang lumayan besar kapasitasnya, buat sekitar 10 orang. mereka semua masuk ke dalam lift secara bersamaan. cornel sudah mempersiapkan kamar untuk sahabat-sahabatnya di lantai yang sama dengan kamar pengantin.


"Mauren, Bimbim pintu yang paling ujung itu kamar kalian. koper kalian sudah ada di dalam kamar."ucap Cornel.


"Iya Om, terima kasih."sahut Mauren, sedangkan Bimbim hanya mengangguk saja dan melangkah di belakang istrinya sambil memegang gaun pengantin maut agar tidak menjuntai di lantai.

__ADS_1


"Semoga mereka langgeng ya,"ucap Dora pada Amor.


"Amin ..."sahut Amor dan semua orang yang ada di sana.


Setelah keduanya masuk ke dalam kamar, Bimbim langsung menutup pintu kamar. Mauren langsung melangkah ke arah meja rias untuk melepas berbagai aksesoris yang ia kenakan di bagian kepalanya.


"Bimbim aku duluan mandi ya."


"Iya jangan lama-lama aku juga ingin mandi. Aku ingin cepat-cepat istirahat."capek sekali rasanya hari ini."


Segera memejamkan matanya, karena hari esok merupakan hari yang berat untuknya. rencananya besok dia ingin menceritakan semua pada Aulia.


Setelah hiasan di bagian kepala sudah dilepas semua, bersiap melepaskan gaun pengantinnya. Gadis itu merasa kesusahan membuka resleting gaun yang panjangnya sampai ke bagian punggung belakang.


Mauren selalu melangkah ke arah kopernya, dia ingin mengambil dasi milik Papanya. setelah mendapat barang itu, dengan menenteng dasi berwarna hitam di tangannya.


Pria yang sedang memakai dasi kupu-kupu itu mengerutkan keningnya. "untuk apa mau rendah sih itu?"


"Untuk mengikat mata kamu bin, karena aku butuh bantuan kamu untuk menurunkan resleting gaunku."


Mauren yang sejak sore tadi memakai gaun itu sudah membayangkan bahwa dia pasti akan kesusahan saat menurunkan resletingnya sendiri. maka dari itu dia langsung masuk ke kamar Papanya untuk mengambil dasi, yang akan digunakan untuk mengikat mata dinding agar pria itu tidak melihat punggungnya.


Kedua tangan Mauren terangkat naik, ke arah kepala Bimbim. dia langsung mengikat dasi itu tepat menutup Mata Bimbim. kemudian dia berdiri membelakangi Bimbim.


"Bim, cepat buka resleting kawanku!"seru Mauren.


Tangan Bimbim sedikit bergetar, perlahan dia meraba tubuh yang ada di hadapannya, mencari resleting gaun istrinya.


"Bim, itu pinggang aku!"pekik Moran yang terkejut bagian pinggangnya ada yang menyentuh.


"Aku nggak bisa melihat kepala resletingnya Mauren."


Mauren lalu menoleh ke arah kanan. tangan kanannya menangkap lengan Bimbim. lalu mengarahkan ke bagian punggung atas. setelah menemukan resleting itu, lalu menarik sampai paling bawah. Mauren yang merasa gaun bagian punggungnya terbuka, dia langsung melangkah cepat menuju kamar mandi.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2