Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 162. MENENANGKAN DIRI


__ADS_3

Mauren terperangah melihat Cafe minimalis yang ada di sana. yang mana di depannya ada 10 buah meja berbentuk bundar yang dikelilingi oleh 4 buah kursi. Di sisi sebelah kiri ada beberapa sofa panjang di sana dan tempat duduk lesehan.


Lampu-lampu penerangan yang ada di tempat itu cukup banyak, sehingga suasana di sana cukup terang. Mini cafe yang view kota 360° itu sangat memanjakan mata. Apalagi saat senja, banyak para tamu nongkrong untuk melihat sunset.


"Bagus banget Kak di sini."Puji Mauren mengagumi tempat hidup.


Bastian tersenyum,"kamu suka?"


"Suka banget Kak. Kakak kenapa nggak pernah mengajak aku ke sini!


Bastian menggaruk kepalanya yang tak gatal. "hotel ini baru didirikan sekitar satu setengah tahun yang lalu. Kakak Mau mengajak kamu ke sini, tapi takut ada yang cemburu."


"Maksudnya Kakak takut kalau pacar Kakak cemburu?"tanya Gadis itu dengan kening berkerut.


"Bukan Mauren. Kakak belum pernah pacaran. kakak hanya takut Pak Mario cemburu sama kakak."


****


Sekitar 45 menit Bimbim berada di depan pos Aulia. akhirnya Gadis itu keluar dari kamar kosnya untuk menemui kekasihnya. Bimbim melihat itu langsung memeluk Aulia.


"Sayang maafkan aku."Bimbim mengajak beberapa kali pucuk kepala Aulia.


Aulia melepaskan diri dari dekapan Bimbim. "Kamu jahat Bim."Aulia memukul-mukul dada bidang itu. "tega banget kamu sama aku. tiba-tiba kamu meninggalkan aku dan menikah dengan Maureen,"Ibu Gadis itu sambil tergugu.


"Aku bukan bermaksud membohongi kamu sayang. rencananya besok aku akan menceritakan ini sama kamu."


"Ya sudah, ceritakan saja sekarang, nggak perlu menunggu besok!"Aulia menyahut dengan Ketus.


Bimbim pun menceritakan semua pada Aulia. agar Gadis itu tidak salah paham terhadapnya.


"Kamu kan sudah nolongin dia biar nggak malu saat acara nikah. kalau begitu ceraikan Saja dia malam ini!"seru Aulia.


"Nggak semudah itu sayang. orang tua aku dan orang tua mau mereka bersahabat sejak mereka masih sekolah. sekarang papa dengan sahabat-sahabat yang sudah seperti keluarga. Jadi aku tidak bisa semudah itu berpisah dengan Mauren. tidak bisa secepatnya kamu."


"Terus kapan kamu bisa mencarikan dia? Kalau kelamaan pasti akan tumbuh perasaan cinta di antara kalian. apalagi kalau kalian melakukan itu."

__ADS_1


"Enggak! aku nggak ada ngelakuin itu dengan Maureen sayang, percayalah."


"Iya, belum itu karena ke sini kan?"


"Ngak! tadi aku rencananya mau langsung tidur. Aku harap kamu bisa bersabar sayang. tunggu sampai saat yang tepat. Baru aku bisa melepas Mauren.


"Tapi kamu harus janji sama aku."


"Janji? janji apa?"


"Kamu harus janji jangan pernah ngelakuin itu dengan Mauren."


"Iya, Aku janji sayang."Bimbim kembali memeluk Aulia di teras kos.


"Kamu tidur ya! ini sudah malam banget, aku harus pulang."imbuhnya


Aulia hanya mengangguk pelan. hatinya masih merasa berat menjalani hubungan yang dia tidak tahu akan seperti apa nanti akhirnya.


Setelah memastikan Aulia baik-baik saja, akhirnya Bimbim kembali masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil lelaki itu termenung, bagaimana nanti ke depannya dia menjalani rumah tangganya dengan Mauren. sedangkan dia tidak mau kehilangan Aulia.


"Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah mini cafe yang ada di atas hotel, Mauren duduk selonjoran di tempat duduk lesehan. wanita itu bersandar di sana. tatapan matanya terlihat kosong, dia seperti sedang melamun. Bastian yang melihat itu menjadi serba Salah. ingin sekali pria itu menghiburnya. namun dia berpikir mau orang pasti ingin menenangkan diri.


Pria itu mendekat karena Mauren. "pakai jaket ini Mauren."Bastian menyerahkan jaketnya pada Mauren.


Gadis itu menggeleng."Nggak usah Kak, jaketnya buat kakak aja."tolak Mauren.


"Enggak Mauren. kamu saja yang pakai. kakak tidak kedinginan,"kilah Bastian.


Akhirnya mau memakai jaket itu. aroma parfum menenangkan dari jaket itu membuat ke Indra penciumannya. Membuat Maureen menghirupnya menjadi sedikit lebih rileks dan tenang.


"Mauren, Jadi bagaimana langkah kamu ke depannya bersama Bimbim?"


"Aku sendiri masih bingung kak. bahkan sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau aku sudah menjadi istri Bimbim. aku berharap semua ini hanya mimpi. jadi saat aku bangun pagi besok, semuanya akan kembali seperti semula.


Bastian bergeming. dalam hatinya berkata andai saja Maureen yang menikah dengannya pasti dia tidak akan meninggalkan Mauren sendirian di dalam kamar, minimal dia akan mengajak orang ngobrol seperti ini.

__ADS_1


Bastian melihat benda bulat melingkar di pergelangan tangannya. ternyata jarum pendek menunjukkan ke angka 2 dini hari. "sudah larut malam Mauren, lebih baik kamu kembali ke kamar dan langsung beristirahat."


Mauren terpaksa mengiyakan, garis itu menjebak mungkin Bastian sudah mengantuk. Keduanya lalu beranjak berdiri lalu beranjak dari tempat itu.


Ting...


Ting...


Dua pintu lift terbuka hampir bersamaan. hanya selisih hitungan detik saja. Terlihat Bimbim keluar dari dalam lift. disusun oleh Mauren dan Bastian, keduanya juga keluar dari pintu lift berbeda.


Bimbim terperangah ketika melihat Mauren dan Bastian keluar dari lift juga.


"Bimbim!"Sapa Mauren.


"Kalian dari mana jam segini?"tanya Bimbim.


Tak hanya Bimbim saja yang terkejut. Mauren dan Bastian juga terkejut saat melihat Bimbim baru keluar dari lift sebelah.


Bimbim mengerutkan keningnya menatap kerah dua orang yang ada di depannya, yang baru saja keluar dari lift jam 02.00 dini hari.


"Kami dari mini cafe di lantai paling atas. aku hanya menemani orang saja karena Mauren kamu tinggalkan sendirian di kamar,"jawab Bastian. Dia sedikit merasa tidak enak karena sudah berduaan dengan istri orang.


"Aku terpaksa meninggalkan Mauren karena aku baru saja mendapat pesan dari Aulia. Dia marah saat tahu aku menikah dengan Mauren. maka dari itulah aku ke tempat kosnya malam ini, untuk menjelaskan kejadian yang terjadi tadi siang. Sebab aku tidak mau Aulia salah paham terhadapku. aku takut Aulia melakukan yang tidak tidak, makanya aku nekat malam-malam menemuinya."tutur Bimbim menjelaskan.


Mendengar itu, Mauren menjadi tidak enak pada Bimbim. "Bim, Maaf ya. gara-gara kamu nolongin aku, hubungan kamu dan Aulia menjadi seperti ini."Mauren merasa bersalah pada Bimbim dan juga Aulia.


"Iya Mauren. Mungkin memang sudah jalannya harus seperti ini."sahurnya dengan suara lirih. nampak sekali gurat kesedihan terpancar dari pria itu.


Bastian bingung mau bicara apa. Dia pun akhirnya memilih untuk pamit meninggalkan dua sahabatnya. "Mauren, karena sudah ada Bimbim, Kakak mengantar kamu sampai sini aja ya?"


Mauren mengangguk. "Iya kak. Terima kasih ya Sudah menemani aku di mini cafe."ucap Mauren sambil melepaskan jaket milik Bastian yang masih dikenakannya. "ini Kak jaketnya. Terima kasih ya."Mauren menyerahkan jaket itu pada Bastian.


"Iya."Bastian menerima jaket itu. diam-diam hanya memperhatikan interaksi dua orang yang ada di hadapannya.


Mauren dan Bimbim lalu berjalan menuju kamar pengantin mereka. Pandangan Bastian tidak lepas dari keduanya. Pria itu kembali masuk lift saat Mauren dan Bimbim sudah masuk ke dalam kamar pengantin.

__ADS_1


Bastian malam ini tidak jadi pulang ke rumah seperti rencananya saat dia melihat dinding keluar dari hotel. pria itu memutuskan untuk tidur di hotel malam ini.


bersambung...


__ADS_2