Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 90. BERUSAHA MENDAPATKAN RESTU


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah mertuanya, Richard hari ini berkunjung ke rumah utama keluarga Nicholas. Dora dan Mauren pun ikut ke rumah utama keluarga Nicholas. Hari ini Richard ingin membantu Afrian meyakinkan Tuan Nicholas.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mobil yang dikendarai oleh Richard sudah terparkir di halaman rumah utama keluarga Nicholas.


Mauren yang sudah turun dari mobil Papanya itu langsung berlari ke teras rumah. Bocah kecil itu langsung mendorong pintu rumah yang tidak dikunci itu.


Dia langsung melangkah ke ruang tengah. Namun, di sana tidak ada siapa-siapa. Richard dan Dora mengikuti langkah putrinya di belakang, langsung menghampiri salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Nicholas yang kebetulan baru turun dari lantai atas.


"Eh Tuan muda Richard dan non Dora. Maaf ya, Tuan. Tadi Bibi nggak dengar kalian datang." ucap p asisten rumah tangga itu kepada Dora dan Richard.


"Nggak apa-apa Bi, santai aja. Papa sama Mama ada nggak?" tanya Richard kepada asisten rumah tangga itu.


"Ada Tuan, Nyonya Dan Tuan ada di gazebo dekat kolam renang.


"Terima kasih ya, Bi."


"Ayo sayang, kita ke gazebo." Richard merangkul pinggang istrinya. Ketiganya lalu melangkah ke arah pintu samping rumah.


"Oma!!!! Teriak Mauren saat dia melihat Oma Alena duduk di gajebo dari kejauhan, bocah kecil itu lalu berlari ke arah gazebo.


"Mauren, hati-hati." Richard memperingatkan putrinya.


"Mauren!! Nyonya Alena langsung menghampiri cucunya.


"Ayo duduk sini."ajak Nyonya Alena saat melihat Putra dan menantunya sudah berada di depan gazebo. Dora dan Richard Lalu naik ke gazebo itu.


Tak berselang lama, salah satu asisten rumah tangga datang membawakan nampan berisi beberapa gelas jus.


"Mia dimana?" tanya Richard karena di tempat itu hanya ada Tuan Nicholas dan nyonya Alena saja.


"Ada di kamarnya. Selesai sarapan tadi dia langsung masuk kembali ke dalam kamarnya." sahut Nyonya Alena.


Richard lalu menatap Tuan Nicholas. "Ini pasti gara-gara Papa."tuduh Richard.


"Kok kamu nyalahin papa, Memangnya ada apa Richard?" tanya Nyonya Alena.


"Mia sama Afrian itu kan, baru pacaran beberapa hari yang lalu. Tapi Papa malah melarang mereka untuk dekat.


Nyonya Alena dan Dora tentu saja terkejut, karena suami mereka masing-masing sebelumnya tidak ada memberitahukan Afrian menjalin sesuatu hubungan.


"Pasti Afrian mengadu sama kamu, ya?"


"Bukan mengadu, hanya saja dia meminta untuk menjelaskan kesalahpahaman saja."


"Kesalahpahaman Bagaimana?" tanya Nyonya Alena.


Richard lalu menjelaskan seperti apa yang diceritakan Afrian.

__ADS_1


"Yah....Mama yakin kalau Afrian itu pria yang baik. kalau Papa takut mereka akan berbuat macam-macam, Kenapa tidak kita nikahkan saja mereka secepatnya."tutur Nyonya Alena.


"Iya, Pa. Aku juga berani menjamin kalau Afrian itu pria baik. Aku sudah lama berteman dengannya."


Tuan Nicholas terdiam.


"Papa tahu sendiri kan, Mia sekarang sudah berusia dua puluh enam tahun, teman-temannya juga sudah banyak yang menikah.


Pria paruh baya itu masih enggan untuk menjawab. Dia masih menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil nanti.


"Nantilah papa akan pikirkan dulu."


"Butik kamu gimana Dora? kata mama kamu, besok akan dibuka lagi, ya?" tanya Nyonya Alena.


"Iya Ma, rencananya besok akan dibuka. Tapi aku nggak dibolehin Mas Richard untuk seharian di butik."


"Apa yang dikatakan Richard itu benar Nak, kondisi kamu kan sekarang sedang hamil muda. Jadi kamu nggak boleh capek."


"Tuh kan sayang, benar apa kata Mama." Richard merasa senang karena Mamanya mendukung aturan yang dia buat untuk istrinya.


Di sela-sela obrolan itu, Richard mengirim pesan pada Afrian.


"Aku sudah ngomong ke Papa. Papa akan mempertimbangkan. Jadi selanjutnya tinggal kamu sendiri yang berjuang.


"Siap!! Terima kasih kakak ipar!" balas Afrian.


Karena jarak yang mereka tempuh itu lumayan jauh dari perusahaan Tuan Nicholas.


Mobil Tuan Nicholas sudah sampai di lokasi proyek, setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam. Terlihat Mia juga ikut keluar dari mobil tua Nicholas.


Wanita itu mengenakan celana panjang berbahan jeans, kemeja berwarna biru dan dia juga menggunakan helm di bagian kepala.


Mia mendampingi Tuan Nicholas melihat-lihat pembangunan perumahan yang sudah rampung sekitar 60 persen itu.


Setelah sekitar satu jam berada di tempat itu, Tuan Nicholas dan Mia kemudian berpamitan dengan manajer proyek. Keduanya ingin segera pulang kembali ke perusahaan setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Tuan Nicholas langsung menjalankan mobilnya.


"Kita makan siang di sekitar sini saja, gimana Mia?"tanya Tuan Nicholas saat mereka sudah berkendara selama sekitar 30 menit.


"Terserah papa aja." sahut Mia, perhatiannya sekarang ini fokus terhadap ponselnya yang ada di tangannya. Wanita itu dari tadi saling berbalas pesan dengan Afrian.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Tuan Nicholas tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Loh kenapa mobilnya, Pa. Kok berhenti? ia kaget karena mobil itu berhenti di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk.


"Papa nggak tahu Mia, mesin mobilnya mati sendiri."ucap Tuan Nicholas cemas.


Tuan Nicholas selalu mencoba menstater beberapa kali, nama mesin mobil itu tetap tidak mau menyala.

__ADS_1


"Mia coba kamu duduk di kursi kemudi, papa akan dorong mobil ini agar posisinya tidak berada di tengah jalan!


Setelah mengucapkan itu, Tuan Nicholas dan Mia keluar dari mobilnya. Mia duduk di kursi kemudi dengan sekuat tenaga Tuan Nicholas mendorong. Beruntung jalanan di sana permukaannya halus, karena jalanan itu baru saja diperbaiki.


"Gimana Pa? apa Papa bisa memperbaiki?" tanya Mia saat mereka sudah berada di tepi jalan.


"Coba kamu telepon Arga atau Richard!"sahut Tuan Nicholas. Pria paruh baya itu memang tidak tahu sama sekali tentang mesin mobil.


"Kenapa telepon mereka Pa, percuma. Paling mereka juga seperti papa."sahut Mia


Tuan Nicholas lalu terdiam, dalam hati pria paruh baya itu membenarkan ucapan putrinya.


"Lebih baik aku telepon Kak Afrian aja."ucap Dora lalu dia langsung menghubungi kekasihnya. Tak menunggu lama sambungan itu langsung terhubung.


"Halo Sayang." sapa Afrian.


"Assalamualaikum." Mia memberi salam.


"Waalaikumsalam, kamu sudah di kantor, ya?


"Belum Kak. Aku dan Papa masih di jalan. mobil kami mogok. Kakak bisa ke sini nggak, benerin mobil Papa.


"Bisa bisa ." sahutnya spontan tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Mia coba berikan ponsel kamu pada papa, kakak ingin bicara."


Mia menyerahkan ponselnya pada Tuan Nicholas. Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya. "Pa, Kak Afrian ingin bicara.


Tuan Nicholas Lalu mengambil ponsel Mia lalu ditempelkannya di telinga. "Halo." ucap Tuan Nicholas


"Halo, Om! bisa bantu kirimkan foto lampu indikatornya? ucap Afrian dengan ramah.


"Iya sebentar."


Sambungan telepon itu ditutup Tuan Nicholas. Kemudian pria paruh baya itu masuk kembali ke dalam mobil. Dia foto lampu indikator sesuai dengan permintaan Afrian. Setelah itu, dia menyuruhnya mengirim foto tersebut pada Afrian.


"Sepsedetik kemudian, foto tersebut sudah diterima oleh Afrian. Terlihat sudut bibir pria itu terangkat ke atas. Sebenarnya dia bisa saja memberi petunjuk pada Tuan Nicholas untuk memperbaiki mobil itu sendiri.


Tapi karena saat ini dia sedang menjalankan misi untuk mendapatkan Restu, maka dia akan datang ke sana bersama dua orang karyawannya.


Setelah menerima foto itu, Afrian lalu meminta Mia dan ayahnya agar menunggunya datang ke tempat itu. Pria itu langsung mengambil kunci mobilnya dan menyuruh anak buahnya membawa peralatan untuk memperbaiki mobil calon mertuanya itu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2