Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 223. SAH!!


__ADS_3

Pagi ini Mauren kembali dinikahkan oleh wali hakim. Suasana mendadak hening dan menegangkan saat mereka melihat Bastian berjabat tangan dengan Pak penghulu.


"Saudara Bastian bin Cornelius saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Maureen Bernando bintik Dora Bernando yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkan dengan engkau, dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."Pak penghulu mengucap ijab kabulnya sambil menghentakkan tangan Bastian.


"Saya terima nikah dan kawinnya Mauren binti Dora Bernando dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."Bastian menyahut ucapan itu dengan lancar.


"Bagaimana para saksi?"tanya Pak penghulu.


"Sah ...sah ...sah.."tahun kedua saksi diikuti oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Alhamdulillah,"Bastian dan Mauren mengusap kedua telapak tangannya pada wajah. Setelah itu keduanya saling berpandangan sambil melempar senyum.


Nampak Pak penghulu menyuruh pada Mauren agar mencium punggung tangan suaminya. Mauren pun langsung mencium punggung tangan Bastian. kemudian dilanjutkan dengan kecupan Bastian di kening Mauren, mata keduanya terpejam. keduanya sama-sama bersyukur dalam hati, karena sudah sampai pada titik ini. Ini pertama kalinya Bastian mencium Mauren. jantung pria itu berdetak lebih cepat, dia merasa gugup saat melakukan itu.


"Baru mencium kening saja, bagaimana dengan yang lainnya nanti malam?"ucap Bastian dalam hati. otaknya sudah mulai traveling pada adegan dewasa di atas pemberian panas.


"Sayang, Kakak sangat bahagia sekali hari ini."bisik Bastian setelah mengecup kening Mauren. istrinya hanya membalas dengan senyuman.


"Sudah, jangan pandang-pandangan terus!"tegur kakek Bernando, dan itu langsung memutus pandangan keduanya.


Setelah acara nikah selesai, semua tamu dipersilakan untuk mengambil makanan yang sudah disediakan pada meja prasmanan yang ada di halaman rumah. hari ini yang bertugas menjaga prasmanan adalah tiga orang gadis cantik, yaitu Diana, Laura, dan Nesya.


Setelah acara sesi foto selesai, Dora bergabung dengan para sahabat dan kerabatnya.


"Bimbim ke mana Amor, kok aku dari tadi belum melihatnya?"


"Aku sudah mengajaknya ke sini, tapi dia tidak bisa datang."


Dora mengangkut paham, dia tahu apa alasan Bimbim tidak datang.


"Rani, anak kamu yang satunya mana?"


"Ada di luar kak. Katanya dia mau duduk di Gazebo saja."sahut Rani.


"Kalian jangan di sini saja, Ayo cepat ambil makanan!"seru Dora.


"Nesya!"Dora memanggil keponakannya.


"Coba kamu tanya Mauren, apa dia dan suaminya mau makan? Kalau dia mau makan, langsung saja suruh ke ruang makan, Di sana juga ada makanan."

__ADS_1


Nesya mengangguk, lalu dia pergi ke arah pasangan pengantin baru.


Setelah sebagian tamu pulang, Mauren membawa suaminya ke ruang makan. Di meja makan itu penuh dengan aneka hidangan yang sama seperti di meja prasmanan.


Bastian mengambil piring, tapi langsung direbut oleh Mauren. "Biar aku saja mas."


"Apa sayang, kamu baru saja panggil kakak apa?"


"Mas,"sahut Mauren, tangannya sambil mengaut nasi ke dalam piring suaminya.


"Mas suka dengan panggilan itu."Bastian tersenyum ke arah istrinya.


"Aku disuruh mama mengganti panggilan saat sudah menikah. makanya aku ngikutin Mama yang memanggil Papa dengan sebutan Mas."


"Hmmm.... Mas nggak akan merubah panggilan sayang ke kamu. Mas akan selalu memanggil kamu dengan sebutan sayang."


"Mas, kita ke hotel jam 04.00 sore ya? nanti mas mau pulang dulu atau tetap di sini?"


Bastian mengerutkan keningnya. "kok pertanyaannya begitu sayang? Memangnya mas tidak boleh di sini?


"Boleh. Siapa tahu saja Mas mau mengambil baju atau barang pribadi."


Sekitar 20 menit kemudian Mauren dan Bastian sudah selesai dengan aktivitas makannya. Saat keluar dari ruang makan, di ruang tengah hanya ada orang tua Dora dan orang tua Richard saja. sedangkan Richard dan istrinya, mereka duduk di Gazebo menemani sahabatnya.


"Bastian, ke sini kamu!"seru kakek Bernando.


Suami dari cucunya itu mendekat. "Ada apa, kek?" Bastian duduk di depan sang kakek.


"Sekarang kamu sudah menjadi suami dari Mauren. Saya titipkan Mauren pada kamu. jaga dia dengan baik, sayangi dan cintai dia. kalau sampai kamu berbuat seperti Bimbim itu, saya nggak akan segan-segan untuk membuat perhitungan sama kamu."nasehat penuh ancaman baru saja diucapkan oleh pria tua itu.


"Pa, kalau niatnya memberi nasehat itu ngomongnya yang baik. Jangan seperti itu, pakai ngancam segala!"Omel banyak Nadia. orang tua Richard yang sudah tahu dengan watak besarnya itu hanya menggelengkan kepala sekilas.


"Wajar kalau aku ngomong seperti itu. Karena dulu aku tidak pernah ngomong seperti itu pada Bimbim. Makanya dia bersikap seperti itu pada cucu kita."


Nyonya Nadia menggelengkan kepalanya. dia selalu kalah jika berdebat dengan suaminya.


"Bastian, jangan diambil hati ya omongan kakek. dia memang seperti itu. kalau kamu sudah lama mengenalnya, pasti akan menganggap itu sesuatu yang biasa."


"Iya, Nek."

__ADS_1


***


Setelah semua sahabat dan keluarga pulang ke rumah masing-masing, Mauren mengajak Bastian ke dalam kamarnya. kedua orang tua Bastian dan Laura baru saja pulang, mereka meninggalkan sebuah koper milik Bastian di rumah Richard.


Pintu kamar ditutup dan dikunci oleh Bastian. pria itu meletakkan kopernya di dekat meja rias.


Mauren menghampiri suaminya. "Mas tolong bantu buka resleting kebaya aku. Tapi mata Mas ditutup ya."


"Memangnya kenapa kalau dibuka sayang?"tanya Bastian dengan kening sedikit berkerut.


"Belum saatnya loh, Mas."


Bastian menggeleng sambil tersenyum, dia meraih kepala resleting itu. kemudian memejamkan matanya, saat resleting baru diturunkan separuh, tiba-tiba resleting itu macet. spontan Bastian membuka matanya.


Glek!


Bastian mana kasar salivanya saat melihat punggung putih mulus milik istrinya.


"Sudah belum Mas, kok berhenti."


"Resletingnya macet, sayang."


"Aduh, gimana ini, Mama ada di mana ya?"Mauren langsung berbalik menghadap suaminya. Dilihatnya Bastian masih menutup kedua matanya.


"Buka mata, Mas!"


Bastian membuka kedua matanya. dilihatnya istrinya sudah memegang ponselnya.


"Aduh, kok mama nggak ngangkat telepon sih."


Bastian menghampiri Mauren. "sayang, Kenapa mesti minta bantuan mama? kan di sini sudah ada Mas. Bastian menatap lekat wajah Mauren, andai tidak ada resepsi malam ini pasti istrinya sudah dia bawa ke pembaringan panas.


Manik mata keduanya kembali bertabrakan. kedua tangan Bastian terulur ke punggung istrinya. Dia menarik sedikit Kak atas resleting itu, lalu menurunkannya secara perlahan hingga sampai mentok ke pinggang. setelah itu, Bastian mengecup kening istrinya untuk yang kedua kalinya.


Merasakan punggungnya sudah terbuka, Mauren berjalan mundur ke arah kamar mandi. di dalam kamar mandi dia sudah menyiapkan baju yang akan dia pakai. baju itu sudah mau diletakkan tadi subuh, saat dia mandi.


Melihat sikap istrinya yang masih malu-malu seperti itu, Bastian tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia Lalu melangkah ke arah ranjang. Tidak ada hamparan kelopak bunga mawar di sana. hanya ada ranjang yang ditutupi oleh reaksi prei berwarna putih. Bastian duduk di pinggiran ranjang itu sembari menunggu istrinya selesai mandi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2