
Malam ini Bastian tidak pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya melihat wajahnya yang terlihat lebam sehabis dipukul oleh Bimbim. Pria itu memutuskan untuk menginap di kamar pribadinya saja.
Di perjalanan menuju hotel, Bastian kepikiran dengan ucapan Bimbim, yang mengatakan dirinya memanfaatkan keadaan. Apakah dia sejahat itu pada Bimbim? pikir Bastian.
"Enggak! aku nggak memanfaatkan keadaan. ada aku ataupun tidak, Mauren juga tidak mungkin rujuk dengan Bimbim. Karena kedua orang tuanya, terutama kakek Bernando pasti akan menentangnya. Mereka tidak akan mau menyerahkan Mauren pada Bimbim lagi."gumam Bastian di dalam hati.
Jam 10.00 malam Bastian sudah sampai di lobby hotel. Maya yang kebetulan sedang mengunjungi temannya yang bekerja sebagai resepsionis terkejut melihat Bastian ke hotel dengan pakaian santainya.
Bastian mengayunkan langkahnya ke arah lift dengan wajar sedikit menunduk. Dia tidak ingin ada orang yang melihat keadaan wajahnya saat ini.
Maya yang melihat Bastian ada di hotel malam ini tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Bastian, kemudian dia bergegas menghampiri Bastian yang sebentar lagi akan sampai di lift.
"Pak Bastian!"Maya memanggil agar Bastian menghentikan langkahnya.
Bastian yang mendengar Maya memanggil bukannya menghentikan langkahnya, dia justru mempercepat langkahnya agar segera mencapai pintu. beruntung satu sampai di sana pintu lift sudah terbuka karena ada orang yang baru keluar dari lift. Bastian segera masuk ke dalam lift.
"Pak Bastian!"Maya sedikit berlari ke arah lift, dia tidak ingin pintu lift itu tertutup.
"Tolong jangan ganggu saya!"kita tidak ada urusan pekerjaan malam ini."ucap Bastian dengan nada dingin saat Maya mencoba menahan pintu agar tidak tertutup. dia berdiri dengan arah menyamping. Sehingga Maya tidak melihat bekas pukulan di pipinya.
Maya merasakan aura dingin pada diri Bastian, Dia terpaksa mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift.
Di dalam lift Bastian mengeluarkan ponselnya. Pria itu mulai mengetik pesan untuk papanya. Dia memberitahu bahwa malam ini dia tidak akan pulang ke rumah dan memilih tidur di hotel.
Setelah sampai di kamar, Bastian langsung menghubungi room boy yang biasa dia tugaskan membersihkan kamar pribadinya. pria itu meminta dibawakan kain yang sudah diisi dengan es batu. Bastian ingin mengompres lemari yang ada di pipinya.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu. Bastian bergegas membuka pintu itu.
"Maya, Untuk apa kamu ke sini?"Bastian menatap tajam ke arah Maya. di samping Maya ada juga room boy berdiri dengan wajah menunduk. kain berisi es batu yang ada di dalam baskom sudah diambil alih oleh Maya.
"Pak Bastian, wajah Bapak kenapa? biar saya bantu untuk mengompresnya."
"Maaf Pak. Bu Maya memaksa mengambil alat kompres itu,"room boy itu berkata dengan suara sedikit bergetar karena dia takut Bastian akan marah dan bahkan memecatnya.
Bastian mengambil baskom yang ada di tangan Maya. "Tinggalkan saya sendiri!"Bastian langsung menutup daun pintu kamarnya tanpa menunggu kedua orang yang ada di depan pintu melangkah pergi dari kamarnya.
__ADS_1
Di depan cermin dalam kamar mandi, Bastian mengompres wajahnya. Mimik wajahnya terlihat meringis saat dia sedikit menekan alat kompres itu.
Kring!
Kring!
Ponsel yang dia letakkan pada kasur king size-nya mendapat panggilan video dari Mauren. Bastian segera keluar dari dalam kamar mandi. dia yang biasanya selalu senang menerima telepon dari Mauren, malam ini Dia terlihat panik.
Bastian takut kalau mau renang mengetahui pertengkarannya dengan Bimbim. Bagaimana caranya dia mau menutupi lebam yang ada di wajahnya? itu yang menjadi pertimbangan Bastian mengangkat panggilan video dari Mauren malam ini.
Sebelumnya, pesan yang dikirim oleh Sarah diteruskan bimbing ke nomor mantan istrinya. Mauren yang baru saja masuk ke dalam kamarnya terkejut saat membuka pesan yang dikirimkan oleh Bimbim.
"Ternyata ini alasan kamu menolak aku untuk rujuk."pesan itu yang dikirimkan oleh Bimbim kepada Mauren.
Setelah membaca pesan itu, Mauren langsung menghubungi. Pria itu langsung menerima panggilan Mauren.
"Bim, masalah perceraian dan rujuk itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kak Bastian. Ada atau enggaknya Kak Bastian aku nggak bisa rujuk sama kamu."Mauren langsung berbicara to the point kepada Bimbim. Tidak ada kalimat salam lagi saat Bimbim menerima panggilannya
"Kenapa mesti Bastian yang kamu pilih? apa tidak ada laki-laki lain selain dia?"
"A...Aku."Mauren bingung mau menjelaskan seperti apa.
"Apa kata kamu, Bim? kamu lebih ikhlas aku dengan pak Mario dibanding dengan Kak Bastian? Memangnya Apa bedanya Kak Bastian dengan pak Mario? aku bingung sama kamu Bim, Awalnya aku mengira kamu tidak setuju aku dengan Kak Bastian karena kamu tidak rela aku dimiliki orang lain. Ternyata dugaanku salah."
Bimbim terdiam. Dia tidak sadar dengan ucapannya barusan. Dia lebih setuju Mauren dengan Mario karena memang Mario lah yang dari awal ingin menikah dengan Mauren.
"Bu.. Bukan begitu maksud aku, Mauren. aku bicara seperti itu karena awalnya kan kamu memang ingin menikah dengan pak Mario. Jadi aku lebih bisa mengalah sama dia, sebab dari awal kan kamu memang sama dia."
"Bagi aku sekarang bukan perkara Siapa yang lebih awal. Yang aku cari sekarang adalah kenyamanan."
"Jadi maksud kamu, Bastian lebih bisa memberi rasa nyaman dibandingkan aku dan Pak Mario?"
"Sudahlah Bim, aku malas membahas ini. Tidak akan ada habisnya. Kamu tidak akan pernah bisa mengerti."
Setelah memutuskan sambungan telepon selulernya, Mauren menghubungi Bastian. dia bermaksud ingin menanyakan apakah Bimbim ada mengirim foto dan video itu juga.
__ADS_1
Panggilan pertama tidak diangkat oleh Bastian. Mauren mencoba menghubungi Bastian kembali.
Di dalam layar ponselnya itu akhirnya menampilkan sosok pria yang mulai mengisi ruang hatinya.
"Assalamualaikum."Bastian mengucap salam.
"Waalaikumsalam, wajah Kakak kenapa, kok memar gitu?"
"I...Ini bekas aku jatuh di kamar mandi." kilah Bastian.
"Kakak jangan bohong sama aku. itu seperti bekas dipukul. apa ini ada hubungannya dengan foto dan video di Kanchanaburi? apa Bimbim memukul kakak?"cacar Mauren.
"Ti... Tidak."
"Terus siapa?"desak Mauren.
Bastian bergeming.
"Kakak nggak bisa jawab kan? aku tahu, yang memukul Kakak itu pasti Bimbim. Karena aku tahu, Bimbim tidak terima kita menjalin suatu hubungan."ucap Mauren yang tidak bisa dibohongi.
"Sudahlah sayang, tidak usah dipermasalahkan. Lagi pula kakak baik-baik saja."
"Tidak bisa, Kak. Ini menyangkut persahabatan kita. Aku tidak mau persahabatan Kakak dan Bimbim jadi renggang atau bermusuhan hanya gara-gara aku. apa kata orang tua kita nantinya? aku takut hal ini juga akan melebar, dan mengancam persahabatan orang tua kita juga."
"Sayang, biar ini menjadi masalah kakak saja. Kamu tidak usah ikut memikirkannya."
"Kak, menurut aku daripada hubungan persahabatan Kakak dan Bimbim hancur, lebih baik kita jalan masing-masing saja. Aku nggak pilih Bimbim dan gak pilih kakak, biar adil. Jadi persahabatan kalian tidak hancur. persahabatan orang tua kita juga aman."
"Nggak bisa Sayang. Kakak nggak bisa tanpa kamu. Tolong jangan hancurkan harapan kakak."
"Maaf Kak. Menurut aku ini yang terbaik buat kita."
"Sayang, Tolong jangan hempaskan Kakak seperti ini."
"Maaf Kak. Aku ingin sendiri dulu. lebih baik kita rehat untuk memikirkan lagi hubungan kita."
__ADS_1
Mauren memutuskan sambungan telepon selulernya. Bastian langsung menghubungi Mauren. Namun, sambungan itu tidak terhubung, sebab Mauren menonaktifkan ponselnya.
bersambung...