
Bastian seketika teringat dengan ucapan Dora. Netranya beralih pada jam yang melingkar di tangannya.
"Sayang, Sekarang sudah jam 09.00 malam. Kakak akan mengantar kamu pulang sekarang."
"Iya,kak."
Bastian kembali mengenal tantangannya pada tangan Mauren. Mereka berjalan ke arah pintu Cafe. di sana sudah ada Herlan dengan setia menunggu bosnya selesai dengan misinya.
"Herlan, parkir kan sekarang mobilku di depan teras!"
"Iya,Pak "Herlan bergegas masuk ke dalam lift lebih dulu. sedangkan Bastian dan Mauren, keduanya memasuki pintu lift yang satunya lagi.
Di lobby, Maya masih saja betah di sana. Dia masih tidak percaya kalau yang digandeng Bastian itu adalah kekasih Bastian.
Ting!!
Pintu lift terbuka, Herlan keluar dari dalam lift. Maya dan salah satu sahabatnya yang bertugas sebagai resepsionis melihat dari kejauhan. Tak lama berselang, Mauren dan Bastian juga keluar dengan tangan saling bertautan. Keduanya saling melempar senyum. Membuat beberapa wanita yang ada di lobi itu menjadi iri terhadap Mauren.
Bastian yang biasanya jarang sekali tersenyum, malam ini wajah pria itu selalu membingkai senyum. Bastian tidak peduli pada beberapa pasang mata yang melihatnya dari kejauhan.
"Kak, aku malu dilihatin sama orang-orang."
"Nggak usah malu. Nanti kamu juga akan terbiasa melihat mereka."Bastian melepaskan tahu tantangannya pada tangan Mauren. kini tangan itu meraih pinggang ramping Mauren. membuat Maya yang melihatnya semakin kepanasan seperti cacing kepanasan. Bastian memang sengaja melakukan itu. Sebab dia ingin gadis-gadis yang selama ini cari perhatian dengannya tahu kalau dia sudah memiliki kekasih. Dan mulai malam ini berhenti mengejarnya.
Di halaman Hotel, Herlan sudah membukakan pintu untuk Mauren. Bastian menuntun Mauren untuk duduk di kursi samping kemudi.
"Terima kasih Herlan. Sekarang kamu sudah boleh pulang,"ucap Bastian saat menutup pintu mobil.
***
Setelah mengantarkan Mauren, Bastian langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Papanya. Jalanan Malam ini terasa lenggang, sehingga Bastian bisa sedikit melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan.
Cornel dan Moresette saat ini masih berada di ruang tengah. Mereka ingin menunggu kepulangan Bastian. Cornel penasaran Apakah malam ini lamaran anaknya pada Mauren akan diterima oleh Mauren. Jika diterima, Cornel akan secepatnya datang ke rumah Richard untuk melamar anak sahabatnya.
"Mas, sudah jam 10.00 Bastian kok belum pulang, apa dia tidur di hotel?"
"Enggak. Katanya malam ini dia akan tidur di rumah ini. Kamu kalau sudah mengantuk tidur saja duluan. Aku nggak apa-apa menunggu Bastian sendirian."
"Iya, Mas. aku ke atas dulu ya,"pamit Moresette.
__ADS_1
Tak lama berselang, Setelah mereset naik ke lantai atas, terdengar bunyi mobil di halaman rumah. Cornel yang tidak ingin mengganggu asisten rumah tangganya istirahat, dia berinisiatif membuka pintu untuk putranya.
Cornel berdiri di ambang pintu, dia melihat Bastian keluar dari mobil dengan wajah cerah. Sepertinya Mauren menerima lamaran putranya malam ini, pikirnya.
"Papa, kok belum tidur?"
"Papa lagi nungguin kamu."
"Kok nungguin, kan nanti ada Bibi yang membukakan pintu!"
"Papa nggak bisa tidur kalau Papa dengar cerita dari kamu."
Cornel menyuruh Bastian agar duduk sebentar di ruang tengah. Padahal sebenarnya Bastian ingin langsung ke kamarnya.
"Bagaimana Bastian, diterima nggak?
Bastian tersenyum sambil mengangguk. "Diterima pa, dua bulan lagi kami akan menikah."
"Kok kamu sudah nentuin waktunya. Kita kan belum melamar Mauren secara resmi. orang tuanya dan keluarga besarnya juga kita belum tahu setuju atau enggak."
Kebahagiaan Bastian malam ini langsung berkurang saat mendengar perkataan Cornel. dia hanya merasa yakin pada kedua orang tua Mauren saja. Mengenai keluarga besarnya, Bastian hanya tahu Kakek Bernando saja yang setuju dengan dirinya.
"Sekarang kamu boleh naik ke atas dan istirahatlah."
***
Saat ini benda berbentuk bulat yang ada di dinding kamar Mauren menunjukkan angka 11 malam. itu artinya sudah 1 jam lebih Mauren berada dikamar, tapi dia belum juga berhasil terbang ke alam mimpi. Mauren tidak bisa tidur. Gadis itu kepikiran dengan ucapan Bastian yang mengatakan dua bulan lagi mereka akan menikah. Secepat itu kah? tanya Mauren dalam benaknya. padahal permasalahannya dengan Bimbim saja belum kelar.
Tak jauh berbeda dengan Mauren, Bastian juga belum bisa memejamkan matanya. efek dari rasa bahagia yang dirasakan malam ini. Bastian lalu mengambil ponselnya. Dia mencoba mengirim pesan singkat untuk sang kekasih.
"Sayang, sudah tidur ya?"
Bastian terkejut pesan yang dikirim olehnya langsung dibaca oleh Mauren. Tak lama setelahnya, notifikasi pesan balasan masuk di ponsel Bastian. Dengan penuh semangat pria itu membukanya."
"Belum Kak."balas Mauren
Bastian langsung melakukan pengelolaan video pada Mauren. Mauren yang saat ini sedang mengenakan tanktop langsung menaikkan selimut setinggi leher.
Saat panggilan itu terhubung, Bastian mendapatkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang? Lagi kedinginan?"
"Iya kak."
"Kenapa nggak dikecilkan atau dimatikan aja?"
"Sudah dikecilin Kak, aku terbiasa tidur pakai AC. makanya ac-nya nggak bisa aku matikan, pengap rasanya.
"Sayang, kemungkinan hari Minggu kakak akan ke rumah kamu untuk melamar. Jadi hari Sabtu saja kita ke rumah yang baru Kakak beli."
"Iya, Kak."
"Sayang, besok kan kamu harus kerja. nanti kesiangan bangunnya Kalau jam segini belum tidur. Tidur sekarang ya. pejamkan mata kamu, lama-lama nanti akan tertidur juga."
"Iya, Kak. aku matikan dulu ya teleponnya."
"Jangan! ponselnya kamu letakkan aja di samping. Kakak mau lihat kamu tidur."
Mauren menuruti Apa yang diperintahkan oleh Bastian.
Ingin sekali Bastian mendekap tubuh gadisnya. Membenamkan Gadis itu ke dalam pelukannya. Tidur berdua sambil memeluk Mauren adalah salah satu impian Bastian.
***
Di sebuah kamar hotel yang jauh dari perkotaan, saat ini dua orang manusia sedang melakukan pergumulan panas. beberapa kali d3$@han terdengar di dalam kamar itu. Hingga akhirnya sampai pada inti permainan. Ujung tombak itu mulai diarahkan. membuat garis itu meringis kesakitan.
"Akh ....sakit, pelan-pelan Om!"tangannya mendorong dada pria itu.
Wanita itu merintih kesakitan saat pria yang dipanggilnya Om itu memulai permainan.
"Ternyata sesuai dengan apa yang kamu katakan. Tidak rugi saya membayar kamu mahal-mahal."ucap pria itu jangan terus memaksa masuk.
"Pelan-pelan, Om!"Ini pertama kalinya buat aku,"pinta Gadis itu dengan suara lirih.
Tak lama waktu berselang, akhirnya butiran kristal bening keluar dari ekor mata gadis itu. lelehan bening itu membasahi kedua pipinya. Hilang sudah sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Kini tak ada lagi rintihan kesakitan. Suara d3$@han saling bersahutan memenuhi isi ruangan kamar hotel itu.
"Ah Om, Ahh..."wanita itu tak kuat menahan suara nakalnya. Om yang dilihatnya seumur Papanya itu ternyata tenaganya masih sangat begitu kuat untuk memimpin permainan.
Peluh keduanya mengalir mengelilingi tempo permainan. Usia yang tak lagi muda itu membuat pria itu tak bisa bertahan lebih lama lagi. Dia akhirnya menuntaskan permainan, dan terkulai lemas di samping wanita yang baru saja dia buka segelnya. Om itu tersenyum puas menatap gadis yang dilihatnya tidak berdaya karena menahan rasa perih pada bagian inti tubuhnya.
__ADS_1
bersambung...