Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 211. BERHARAP


__ADS_3

"Bastian, tiga hari lagi hotel kita mau ada acara ulang tahun hotel. Kamu tahu sendiri kan, hotel ini didirikan tepat di hari ulang tahun kamu. Jadi kamu harus siap-siap. Semua acara Sudah Bapak atur. Kamu hanya persiapkan diri saja. Jangan murung seperti ini saat hari ulang tahun nanti. Siapa tahu Mauren akan datang. Dan memberi kejutan untuk kamu. Semangat ya! Papa yakin, Mauren akan kembali lagi pada kamu." Cornel berdiri dari duduknya. "Papa pulang dulu."


"Iya, Pa."Bastian melangkah mengikuti Papanya. Mengantar Papanya sampai ke depan pintu.


Sepeninggalan Papanya, Bastian duduk termenung. dia hampir saja lupa jika dirinya 3 hari lagi berulang tahun. Semoga apa yang dikatakan oleh Papanya benar, Mauren akan datang saat hari ulang tahunnya.


***


Sementara di tempat lain, saat ini Mauren masih berkutat di depan monitor laptopnya. hari ini dia tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Dia kepikiran dengan Bastian yang 3 hari lagi akan berulang tahun.


Tok tok tok..


Pintu ruangan Mauren diketuk.


"Masuk!"seru Mauren.


"Mauren, hari ini kamu dapat kiriman bunga lagi."Atalia masuk ke dalam ruangan sambil membawa buket bunga mawar putih.


Mauren menghilang nafas panjang. ini buket bunga yang sudah entah tidak terhitung lagi, Atalia? Mauren kembali fokus pada laptopnya.


"Iya, tapi kali ini ada sedikit yang berbeda. biasanya buketnya nggak ada tulisannya. Kali ini ada tulisannya."


Mendengar ucapan Atalia, Mauren langsung mengalihkan perhatiannya pada buket dia Lalu mengambil alih buket bunga itu dan langsung melihat ke arah kartu ucapan yang bertuliskan. "Maafin Kakak ya. Aku sangat merindukanmu.'


Kedua sudut bibirnya tanpa dia sadari naik ke atas. Gadis itu tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Kalau sudah begini, Bagaimana bisa dia menolak pesona Bastian.


Sebelum jam pulang kantor, Mauren memutuskan untuk pergi ke mall. Gadis itu pergi hanya seorang diri tanpa ditemani oleh Atalia.


Ketika sudah sampai di mall, langsung naik ke lantai 3 melalui tangga eskalator. tak jauh dari tangga itu dia bertemu dengan Arini dan Sarah yang baru bertemu dengan klien di sebuah kafe yang ada di Mall itu juga.


"Aduh, kasihan ke mall sendirian. Pasti lagi berantem dengan suaminya ya, Bu?"Makanya kalau sudah punya suami Jangan selingkuh. repot loh kalau ketahuan."sindir Sarah.


Mauren mengerutkan keningnya menatap kedua gadis yang ada di depannya. "Siapa yang selingkuh? jangan asal nuduh orang ya!"sahut Mauren geram.

__ADS_1


"Heh, Mauren! kami tidak menuduh. kami melihat dengan mata dan kepala kami sendiri kamu jalan bergandengan tangan dengan Bastian. Terus juga, kami melihat tangan kamu dicium oleh Bastian."timpal Arini.


"Kalian pikir Aku nggak tahu kalau kalian juga ada di Kanchanaburi. Aku juga melihat Sarah jatuh, gara-gara jalan nggak pakai mata. bahkan orang yang ditabraknya sampai marah-marah."sahut Maureen tak mau kalah.


"Aku tahu kok, Kalian kan yang kirim foto dan video itu ke Bimbim? hahaha Untuk apaan? biar aku bertengkar dengan Bimbim? perlu kalian ketahui, biar kalian tidak bilang aku selingkuh lagi. Sudah beberapa bulan aku dan Bimbim bercerai secara resmi. jadi ke depannya kalau aku mau jalan sama siapapun itu, kalian gak usah terlalu kepo seperti kemarin."imbuh Mauren, lalu dia berlalu pergi meninggalkan kedua garis itu yang sedang melongok karena terkejut mendengar penuturan Mauren barusan.


"Arini, kamu dengar apa yang dikatakan oleh Maureen tadi?*


"Katanya dia sudah bercerai dari Bimbim, dan itu pun sudah beberapa bulan, artinya kemarin Mauren lagi pacaran dengan."


"Iya, itu artinya Bimbim sekarang duren dong."sahut Sarah dengan mata berbinar.


****


Mauren saat ini sedang memilih jam tangan pria, menurutnya cocok untuk dipakai oleh Bastian. Walaupun dia belum tahu apakah nanti kado itu akan diserahkan atau akan disimpan saja. yang ada dalam pikiran Mauren saat ini, Yang penting dia membeli dulu kado itu. Mau diserahkan atau tidak, itu perkara belakangan.


Setelah melakukan pembayaran, Mauren keluar sambil menenteng paper bag kecil yang memuat kotak jam tangan yang baru dibeli. Wanita itu memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. sebab Dia tidak ingin orang tuanya mengkhawatirkan dirinya jika pergi sendirian.


Kring!!


"Kak Bastian, ngapain ya dia nelpon?"ucapnya lirih.


Mauren sedikit ragu mengangkat telepon dari Bastian. Sebab, sudah satu bulan ini Mauren tidak ada komunikasi dengan pria itu. Padahal Bastian hampir setiap hari menghubunginya. namun dia tidak merespon. Mauren hanya menjaga jarak saja. Agar persahabatan antara Bimbim dan Bastian secepatnya membaik.


Mauren menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Bastian.


"Assalamualaikum, Sayang. Alhamdulillah akhirnya kamu mau mengangkat telepon dari kakak."


"Waalaikumsalam."


"Kamu lagi di mana sayang? kok rame?


"lagi di mall."

__ADS_1


"Di mall? sama siapa, sayang?"


"Sendiri, sudah dulu ya Kak, Aku mau pulang."


"Iya, hati-hati di jalan sayang."sambungan telepon seluler itu langsung diputus oleh Mauren.


Di kamar hotel, senyum yang hampir satu bulan ini tidak terlihat, sore ini mulai merekah. itu karena Mauren mau menerima sambungan teleponnya. Bastian berharap, ini adalah awal yang baik untuk kelangsungan hubungannya dengan Mauren.


Tiga hari kemudian,


malam ini tepat jam 07.00 malam akan diadakan acara perayaan ulang tahun hotel yang ke-5 tahun di ballroom hotel. Nampak para tamu undangan sudah berdatangan.


Maya malam ini hadir mengenakan gaun pesta yang sedikit seksi. sebab bagian depan baju Gadis itu menampakkan belahan dadanya yang sedikit menyembul sempurna. membuat mata pria hidung belang menatap lapar jika melihatnya. Maya melangkah ke arah Bastian. wanita itu seolah ingin tebar pesona terhadap pria itu.


"Pak Bastian, Bapak mau minum apa? biar saya ambilkan."


Bastian tidak menjawab pertanyaan Maya. matanya pun tidak menatap darah gadis itu. sebab dari kejauhan tadi Bastian sudah melihat Maya yang mengenakan pakaian seperti itu, membuat Bastian semakin ingin menghindari gadis itu.


Maya semakin mendekati Bastian, Helen yang melihat itu tidak tinggal diam. Dia langsung mengusir Maya agar menjauh dari Bastian.


Dari awal kedatangan Maya, Moresette memantau gerak-gerik Maya.


"Apa cewek model seperti itu yang dulu ingin Kakak jadikan menantu di keluarga kita?"gerak-geriknya saja seperti wanita murahan."ucap Moresette lirih pada suaminya.


"Aku kan biasa melihat dia pakai baju kerja dan baju santai. Baru kali ini aku melihat dia memakai baju seperti itu."


"Sangat jauh sekali bedanya dengan Mauren. Dia mau acara apapun, pakaiannya selalu sopan."


"Mauren datang nggak kira-kira malam ini?"tanya Cornel.


"Kalau nggak datang, kasihan anak kita."imbuh Cornel, tatapan matanya beralih ke arah putranya yang berdiri tidak jauh darinya.


"Belum tahu Mas. Kita tunggu saja Dora dan suaminya. Kalau mau ren datang, pasti bareng sama orang tuanya."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2