Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 226. ML MAUREN & BASTIAN


__ADS_3

Mauren buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, dan langsung menutup pintunya, meninggalkan suaminya di depan pintu kamar mandi yang sedang menatap telapak tangan kanannya.


Mauren bersandar di balik daun pintu, Gadis itu nampak mengatur nafasnya. Setelah melepas gaun pengantinnya, Gadis itu langsung naik ke dalam bathtub. Dia berendam di sana.


"Di luar kamar, Bastian terlihat berjalan mondar-mandir, sudah setengah jam istrinya berada di dalam kamar mandi, tapi pintu kamar mandi itu belum juga dibuka.


"Sayang, masih lama nggak?"tanya Bastian setelah Dia mengetuk pintu kamar mandi itu dengan tiga kali ketukan. Pria itu sepertinya sudah tidak sabar.


Mauren yang masih berada di dalam bathtub terkejut. Dia langsung membuka matanya. "sebentar lagi Mas."dia perlahan keluar dari bathtub dan menuju kran shower. Di sana mau renang guyur tubuhnya kembali.


Sekitar 10 menit kemudian, Mauren keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan setelan piyama berwarna merah muda. rambut panjangnya yang bahasa sudah dia bungkus dengan handuk. Mauren langsung melangkah menuju meja rias. Gadis itu duduk di sana untuk menyisir dan mengeringkan rambutnya yang basah karena habis keramas.


Bastian yang dari tadi duduk di tepi ranjang beringsut melangkah ke arah meja rias. "Sini, Mas bantu mengeringkan rambut kamu."Bastian mengambil alih hair dryer yang ada di tangan istrinya. Mauren dari tadi pandangannya lurus menatap cermin, melihat suaminya melalui pantulan cermin. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas karena Bastian sangat perhatian dan memperlakukannya dengan sangat baik.


"Sudah kering, sayang."Bastian meletakkan kembali alat pengering rambut itu pada tempatnya. Dia berdiri di belakang Mauren yang masih duduk di kursi. Dipegangnya kedua pundak istrinya.


"Sayang, Boleh Mas meminta Mas malam ini nggak?"lirih Bastian ditelinga istrinya.


Mauren langsung tegang mendapat pertanyaan seperti itu.


Bastian menuntun istrinya agar berdiri dari duduknya. Kini posisi keduanya berdiri saling berhadapan.


"Boleh, sayang?"tanya Bastian sekali lagi.


Mauren menundukkan kepalanya, lalu mengangguk sekali.


Senyum cerah langsung membingkai di wajah Bastian. Dipegangnya kedua tangan istrinya, lalu diciumnya kedua tangan itu.


"Aaa .. Mas,"pekik Mauren saat merasakan tubuhnya melayang karena tiba-tiba suaminya menggendongnya, membawa menuju pembaringan yang masih bertabur dengan kelopak bunga mawar.


Bastian dan Mauren duduk saling berhadapan di tengah-tengah ranjang. Netra keduanya saling bertabrakan. Perlahan Bastian memajukan wajahnya, membenamkan alat tuturnya di rekening istrinya. mata keduanya terpejam.

__ADS_1


Bastian bergeser ke area pipi, kemudian alat tutur itu menempel di tempat yang seharusnya. Bastian dan Mauren kembali memejamkan matanya. keduanya masih sama-sama kaku karena ini merupakan hal yang pertama buat mereka.


Mauren memukul pelan dada bidang suaminya. Agar suaminya segera. Sebab gadis itu hampir kehabisan nafas.


"Manis,"lirik Bastian. Tangannya mengusap bibir wanitanya yang basah dengan ibu jari tangannya. Pasangan pengantin baru itu terlihat mengatur nafasnya.


Bastian lalu melepas baju kaos oblong yang dikenakannya. Mauren tercengang ke arah roti sobek. Bastian mengambil tangan kanan istrinya lalu dia tempelkan pada roti sobeknya. Tangan istrinya bergerak mengusap permukaannya, membuat Bastian memejamkan kedua matanya kembali, merasakan sentuhan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


Pipa Bastian sudah menegang siap untuk melakukan proses pengeboran sumur. tangannya tak tinggal diam, satu persatu Kanjeng piyama istrinya Dia pisahkan dari lubangnya. Netra pria itu beralih menatap pada piyama yang kancingnya sudah dibuka semua.


Wajah Mauren merah merona ditatap suaminya seperti itu. Baju itu perlahan base dan tanggal kan. pria itu membimbing istrinya untuk berbaring di atas hamparan kelopak bunga mawar. Alat tutur itu kembali menjalankan fungsinya. Meninggalkan beberapa tanda merah. Perlahan tangan Bastian melepas penutup bagian atas. membuat istrinya terkejut hingga menutupnya dengan kedua tangannya.


"Jangan ditutup, sayang. Mas mau ini."


"A... aku malu Mas."


"Jangan malu, sayang. kita sekarang sudah sah menjadi suami istri. Mas berhak melihat semua yang ada pada diri kamu, begitu juga sebaliknya."Bastian menyingkirkan tangan istrinya yang membentuk silang.


Sesaat kemudian Bastian membenamkan wajahnya di sana. Membuat Mauren memegang kepala itu dengan sedikit menjambak rambut suaminya. sebuah jam bahkan kecil, akibat sensasi yang dirasakannya.


mata Mauren membulat sempurna saat melihat adik kecil milik sang suami. Tanpa dia sadari, dia merapatkan kedua kakinya, karena tak sanggup membayangkan pipa itu sebentar lagi akan melakukan pengeboran. Bastian meraih selimut sebelum memulai pengeboran.


"Mas mulai ya, sayang?"tanya Bastian yang hanya dijawab istrinya dengan anggukan.


Bastian lalu memposisikan pipa pada lubang yang ingin dia bor. Sesaat kemudian, pipa itu mulai menjalankan fungsinya. Mauren mengeratkan terang bulannya pada punggung suaminya, Tak jarang kuku-kukunya mencakar di punggung kokoh itu, akibat rasa sakit yang dirasakannya.


"Kenapa susah sekali? Apa karena Mauren baru satu kali melakukannya?"tanya Bastian dalam hati, dia masih berusaha melakukan pengeboran.


Matanya yang awalnya terpejam kini terbuka. dilihatnya istrinya meringis.


"Argh ..Sa...sakit. pelan-pelan Mas." desis Mauren

__ADS_1


Kening Mauren berkerut. Harusnya tidak seperti ini, Bimbim kan sudah membuat jalannya. pikir Bastian.


"Sayang, kamu kenapa? apa Mas hentikan saja?"Bastian ingin beringsut, tapi dicegah oleh istrinya.


"Lanjutkan saja Mas."Mauren tidak mau melepaskan rangkulannya pada punggung Koko suaminya.


Bastian lalu mengusahakan pengeboran lagi. butiran keringat mulai menetes di pelipisnya. Bastian terus memaksa masuk pipanya lebih dalam lagi, karena sumur yang dia bor harus sampai ketemu mata airnya.


"Arghhh..." pekik Mauren. kukunya yang lumayan panjang sedikit menancap pada punggung suaminya.


Bastian membelalakkan matanya. Dia merasa membelah sesuatu di dalam sana. Sesaat setelahnya, Dia merasakan sumur itu mulai mengeluarkan sedikit air. Bastian yang penasaran, dia menarik separo pipa miliknya. pipa yang awalnya berwarna putih itu berubah menjadi merah. Bastian putar perangah, matanya yang awalnya menipis kini membeliak, dia tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. Bukankah Bimbim sudah melakukannya?


"Sayang,Ka...Kamu masih Pe...perawan?"tanya Bastian terkejut.


Pria itu melihat kristal dengan mengalir di kedua sudut mata istrinya.


Mauren mengganggu. "Iya, Mas."


Bastian terkejut, ini kejutan sekali baginya. Bastian langsung menghujani ciuman di wajah istrinya.


"Terima kasih sayang, Terima kasih kamu sudah memberikan kejutan ini untuk Mas."


Kamar mewah menjadi saksi pergulatan panas, kedua insan yang baru saja pertama kali merenggut indahnya surga dunia. Malam ini d3$@han sudut keduanya saling bersahutan. Keringat mengalir dengan begitu bebasnya. Bastian dengan semangat melakukan pengeboran manualnya. Mauren mengerutkan rangkulannya pada punggung suaminya saat dia ingin mencapai puncak nirwana. Begitu juga dengan Bastian, dia semakin dalam membenamkan pipanya.


Kedua matanya terpejam seiring pipa itu menemukan sumber mata airnya, hingga akhirnya pipa itu menyemburkan air ke dalam bendungan yang mampu menampung air selama 9 bulan.


Tak ingin tubuhnya menimpa istrinya, Bastian yang sudah terkulai lemas itu langsung menjatuhkan dirinya di samping istrinya.


Terlihat sepasang pengantin baru itu mengatur nafas yang masih memburu. Bastian mengambil tisu malah keringat pada wajah istrinya.


"Terima kasih sayang, sudah memberikan mahkota kamu untuk Mas."Bastian membenamkan ciumannya di kening istrinya.

__ADS_1


Mauren yang sudah kelelahan itu hanya bisa mengangguk dan kedua matanya terpejam.


Bersambung.


__ADS_2