
Hari ini, Padahal dia sudah membuka lembaran baru, mencoba Untuk melupakan kejadian pada malam itu, Tanpa mempedulikan rasa penasarannya siapa pria yang sudah merenggut kesuciannya malam itu.
Namun, hari ini kejadian malam itu kembali diingatkan, bahkan Dora rasanya tidak percaya dengan kenyataan bahwa yang merenggut kesuciannya adalah dosennya sendiri. Dosen yang seharusnya menjaga dan melindungi mahasiswinya saat di tempat camping.
Tak terasa sudah beberapa jam Dora berada di tempat itu. Perutnya yang sejak tadi merasakan lapar Tidak dia hiraukan lagi.
Dia lalu teringat dengan sosok Mamanya. pasti Mamanya akan mengkhawatirkannya, Jika dia pulang terlalu sore. Dora pun bergegas meninggalkan tempat itu.
***
Malam harinya, saat Dora Baru saja sampai di ruang makan wanita itu langsung duduk di tempat duduknya. Dia langsung mengambil piring lalu mengisi penuh piring itu dengan nasi.
Akibat tadi siang dia tidak makan sehingga perutnya menuntutnya untuk diisi penuh malam ini.
Di atas meja sudah tersedia berbagai macam menu makanan, ada ayam adobo kesukaan Dora, kari kambing, ikan nila asam manis. Dora bingung Malam ini makan dengan lauk apa.
Dilihatnya Antonius lahap makan nasi dengan ikan nila asam manis. Dora langsung meneguk salivanya, ada sebuah rasa yang mendorongnya untuk mencoba makanan itu.
Dora pun mengambil sepotong ikan nila itu dan memasukkan ke dalam piringnya. Melihat Dora memasukkan ikan nila asam manis ke dalam piringnya, membuat Papa Mama dan Kakaknya Dora jadi keheranan menatapnya.
Berbagai macam ekspresi yang ditunjukkan oleh ketiga orang yang ada di meja itu. Antonius yang lagi asik mengunyah makanan di mulutnya tiba-tiba langsung berhenti mengunyah saat melihat adiknya mengambil ikan untuk dia makan malam ini.
Tak jauh berbeda dengan Antonius. Papa Bernando yang sedang minum langsung berhenti meneguk air di dalam gelas itu. Sedangkan mama Nadia yang saat ini memasukkan makanan ke mulutnya, juga tangannya terhenti karena melihat Dora makan dengan lauk ikan.
"Dora Kamu serius mau makan ikan?" tanya Mama Nadia tidak percaya.
"Iya Mas, sepertinya ini enak." sahutnya enteng.
"Awas ya, kamu kalau sampai muntah di sini." ancam Antonius.
"Tumben kamu makan ikan, bukannya kamu selalu muntah mencium bau ikan? tanya papa Bernando.
Ketiga orang yang ada di meja makan itu tidak bisa fokus lagi pada makanan mereka. ketiganya sibuk melihat Dora yang begitu lahap nya makan nasi dengan lauk ikan nila asam manis.
Mama Nadia saja tidak percaya melihatnya. Dua puluh satu tahun Dia hidup bersama, Dora selama itu juga dia tidak pernah makan ikan. Ini untuk pertama kalinya dia melihat Dora makan ikan.
"Kalian kenapa sih? dari tadi ngeliatin Dora makan?" ucapnya sambil menghisap kepala ikan. Antonius bergidik melihat adiknya.
__ADS_1
Selesai makan malam, Dora menyusul orang tuanya di ruang keluarga. Dia langsung duduk di samping Mamanya.
"Pa, Dora boleh nggak pindah kampus?
"Pindah kemana Dora? kampus kamu itu sudah yang paling bagus di kota ini."sahut Bapak Bernando.
"Dora mau nyoba kuliah di kota lain Pa, Dora mau belajar jadi anak yang mandiri."
"Mau mandiri katamu? tiap pagi saja kamu selalu Mama bangunin."
"Memangnya kenapa kamu mau pindah?" tanya papa Bernando heran.
"Nggak apa-apa, Pa. Dora cuman mau ngerasain hidup menjadi anak kos itu, seperti apa Dora mau belajar mandiri pa."
"Kalau kamu mau belajar mandiri, di rumah ini juga bisa bangun pagi sendiri, beresin kamar sendiri, nyuci dan menyetrika baju sendiri." sahut Papa Bernando sambil terkekeh.
"Tetap saja beda Pa, Ah Papa ini nggak ngerti-ngerti juga dijelasin. Mandiri hidup sendiri itu beda dengan mandiri hidup dengan orang tua." gerutu Dora
"Ngak boleh! kamu nggak boleh pindah dari kampus itu. Kamu nggak boleh jauh dari pengawasan papa." sahut Papa Bernando dengan tegas.
"Ma..."Dora mengguncang tubuh Mamanya agar Mamanya mau membujuk Papanya.
Dora lalu terdiam. Rencananya ingin menghilang dari pria brengsek itu gagal. Kalau dia masih kuliah di kampus itu, pasti akan ketemu tiap hari. Lagi pula pria itu salah satu dosen yang mengajar di kelasnya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Richard, nampak pria itu bolak-balik ke kamar mandi.
Richard muntah-muntah di meja wastafel kamar mandi. Pria itu lalu berkumur usai muntah untuk kesekian kalinya. Richard lalu bercermin pada meja wastafel itu dilihatnya wajahnya nampak merah.
"Ada apa denganku pagi ini kenapa tiba-tiba aku mendadak muntah-muntah? perasaan tadi malam aku nggak ada makan yang aneh-aneh." tanyanya dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Richard keluar dari dalam kamarnya. Hari ini dia mengenakan setelan kemeja berwarna biru. Dia padukan dengan celana kain berwarna coklat. Pria itu lalu menuruni tangga dan masuk ke ruang makan untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Papi, Mami, aku langsung berangkat ke kampus, ya" pamitnya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Loh kamu nggak sarapan dulu, nak?" ucap Nyonya Alena.
"Perut Richard lagi nggak enak Mom dari bangun tidur mual-mual terus."sahut Richard
__ADS_1
"Sakit maag kamu itu Richard. Kalau sakit maag itu harus segera makan. Jangan malah dibiarin kosong gitu perutnya, nanti malah tambah parah nak." Nyonya Alena menasehati.
"Enggak apa-apa Mom, ini bukan maag. Aku nggak ada punya riwayat penyakit maag. Sudah dulu ya, Ma. Aku nggak kuat lama-lama di sini. Ruangan ini penuh bau makanan, bikin aku mual saja." ucap Richard sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Aneh banget anak itu. Kelakuannya persis banget kayak papi dulu waktu Mami lagi hamil dia." celetuk Tuan Nicholas.
"Hus...Papi, ini ngomong kok yang aneh-aneh." tegur Nyonya Alena.
"Hem .. kan kebiasaan deh tiap makan pasti ngobrol terus." tegur Mia.
****
Di kantin kampus saat jam istirahat, Pak Richard baru saja menghabiskan makan siangnya. Dilihatnya di meja pojok sana ada Dora sedang makan siang bersama dengan dua orang sahabatnya.
Setelah menyelesaikan minumnya, Pak Richard beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung menuju meja kasir untuk membayar makanannya.
"Berapa Bu bil, makan punya saya?
"Totalnya tiga puluh ribu Pak." sahut Ibu pemilik kantin setelah selesai memencet kalkulatornya.
"Bu, sekalian bil yang di pojok sana." Ucap pak Richard dengan suara lirih memberi kode dengan gerakan kepala saja.
Ibu pemilik kantin melihat ke arah pojok meja di ujung sana, mencari tahu siapa gerangan yang duduk di sana. "Oh mejanya Mbak Dora ya pak?
"Iya Bu."
"Bill mereka totalnya seratus lima ribu Pak."sahut pemilik kantin.
Pak Richard mengambil dompetnya dari saku celana belakangnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada pemilik Kanti.
"Terimakasih Bu."kemudian Pak Richard keluar dari kantin itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"