
Di sebuah rumah mewah tepatnya di rumah utama keluarga Bernando. Nyonya Alena menghampiri putrinya yang baru saja duduk di meja makan. Saat ini di sana hanya ada mereka berdua. Tuan Bernando dan putranya Antonius sudah berangkat ke kantor lebih awal pagi ini. Mengingat pagi ini mereka mengadakan meeting dengan beberapa investor.
"Dora, tadi malam mama sudah ngomong ke Papa soal pernikahan kamu dengan Richard."ucap wanita paruh baya itu sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi di sebelah Dora duduk.
"Terus? sahutnya enteng sambil tangannya mengambil menyendok nasi dan meletakkannya ke dalam piringnya.
"Dora, kamu ini Kok santai banget responnya? niat nikah nggak sih kamu?"
"Niat mah, aku ini santai karena aku sudah tahu hasilnya gimana. Pasti Mama berhasil membujuk papa kan?"
"Dari mana kamu tahu Dora?"
"Mama kan, memang jagonya merayu papa. Mama mampu melakukan apa saja yang penting Mama berhasil mendapatkan sesuatu dari Papa." sahut Dora sambil terkekeh.
"Kamu ini ya Dora, menganggap semuanya enteng. Kamu nggak tahu aja gimana pengorbanan Mama tadi malam.
"Dora, ada syarat yang diajukan oleh Papa.
Dora langsung menoleh ke arah mamanya raut wajahnya sekarang sudah tidak kelihatan santai lagi. "Apa syaratnya mah?
Mama juga nggak tahu. Papa nggak mau ngasih tahu juga.
"Ma misalnya Pak Richard nanti nggak ada ngajakin aku nikah, kita jangan maksa-maksa dia ya, malu!"
"Kenapa Dora?"
"Aku nggak mau kalau dia terpaksa nikahin Aku. Aku yakin sejak Aku menolaknya waktu itu, pria itu langsung berkomitmen bahwa Antara Aku dan Dia hanya sebatas Papa dan Mama Mauren saja. Tidak terikat hubungan suami istri.
"Kamu nggak usah khawatir Dora, setelah kamu berangkat Nanti, Mama akan menelpon Nyonya Alena untuk memberitahu bahwa kamu mau menikah dengan anaknya." batin Nyonya Nadia.
Beberapa menit kemudian, Dora berpamitan pada mamanya.. Setelah selesai sarapan pagi. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan di butik. Ada janji juga dengan beberapa orang customer. Walaupun begitu, dia akan mengusahakan untuk tetap menjemput putrinya.
Jam pulang sekolah sudah hampir tiba. beberapa menit sebelum bell berbunyi Dora sudah tiba di depan gerbang sekolah. dilihatnya Fernando sudah mengobrol dengan seorang wanita. Wanita Itu posisinya berdiri membelakangi Dora. Dora sedikit penasaran dengan wanita itu. karena suara wanita itu tidak asing di telinga Dora. Dora lalu berpura-pura berjalan kearah Fernando. Dia sekalian ingin melihat siapa wanita itu.
Ternyata benar kalau wanita yang sedang ngobrol bersama Fernando itu merupakan teman satu SMP-nya.
"Risma."kamu Risma kan?" tanya Dora saat berdiri tak jauh dari Kornel
"Iya, kamu siapa ya? Kok aku rasa nggak asing sama wajah kamu?
"Aku Dora teman SMP kamu dulu.
"Dora yang sering telat datang ke sekolah itu kan?" sahut wanita itu antusias.
"Iya, Memangnya ada nama Dora yang lain di sekolah dulu selain aku?
Risma lama langkah ke arah Dora dia langsung memeluk sahabatnya.
" Dora apa kabar? Kamu sudah menikah belum Dora?
Dora terdiam sebentar. Dia lalu teringat dengan perkataan Richard. Saat di mall waktu itu. "Aku sudah punya anak satu. Kalau kamu? "Ah, Saya tahu pasti kamu ke sini mau jemput anak kamu, kan?
"Mama.... mama." ucap Bimbim dan Mauren bersamaan.
__ADS_1
Dora terlalu menoleh ke arah anak yang memanggil Risma dengan sebutan mama. "Jadi Bimbim Ini anak kamu Ris? terus Kak Fernando itu mantan suami kamu?
"kening Risma berkerut. Kok mantan Dora?
"Terus apa, kan Kak Fernando itu duren?"
"Kak Fernando itu kakak ipar aku, suami dari almarhumah kakak aku.
Dora manggut-manggut
"Tapi kenapa Bimbim memanggil kamu mama?"
Risma tersenyum. Aku juga nggak tahu dia dari dulu nggak mau manggil aku onty.
"Mungkin karena dia ingin ada seseorang yang dipanggil mama."
"Iya kali Dora, kasihan juga aku melihatnya dari kecil nggak pernah merasakan kasih sayang Mamanya."
Mendengar itu hati Dora seperti ada yang mencubit. Karena Mauren juga dibesarkan tanpa kasih sayang mamanya.
"Mama pulang." rengek Bimbim
"Bentar ya Bim, Mama minta nomor ponsel teman mama dulu." ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya. Dia mencatat nomor ponsel Dora di layar ponselnya.
"Oke Dora, nanti aku hubungi kamu." ucapnya sambil berjalan menoleh ke belakang karena tangannya sudah ditarik oleh Bimbim.
Melihat Risma dan Bimbim sudah memasuki mobilnya, Dora lalu menuntun Mauren ke arah mobilnya. Saat dia sudah duduk di kursi kemudi, Dora melihat penampilan putrinya hari ini rambutnya yang dikuncir 2. Dia berpikir pasti ibu Rani yang mengucir rambut Maureen.
"Rambut Maureen Siapa yang mengusir Ibu Rani Ya?
"Terus siapa?
"Papa."
"Ternyata Pak Richard benar-benar pintar mengurus Mauren dengan baik." Puji Dora dalam hati sambil tersenyum tipis.
Malam harinya di rumah Richard, di sana sedang kedatangan Mia dan nyonya Alena.
Nyonya Alena tadi siang sudah mendapat kabar dari Nyonya Nadia bahwa Dora bersedia menjadi istri putranya.
Saat ini mereka sedang berada di lantai bawah lebih tepatnya di ruang keluarga.
"Ada apa Mom tumben malam-malam datang ke sini? biasanya kalau ada yang mau disampaikan Mami cuman mengabari lewat telepon saja."tanya Richard penasaran melihat kedatangan Nyonya Alena dan adiknya.
Mami sengaja datang ke sini karena kabar yang mami bawa ini bukan kabar biasa. Ini spesial."
"Spesial Apa itu? Mia mau nikah ya?
"Apaan ih, kakak. Yang pantas duluan kawin, itu kakak. lihat Kakak sudah tua tapi nggak nikah-nikah." gerutu Mia.
"Richard, Mami ke sini mau menyampaikan pesan dari Nyonya Nadia. Katanya Dora sudah bersedia menikah dengan kamu." ucap Nyonya Alena kepada putranya.
Richard selalu menegakkan duduknya
__ADS_1
"Apa Mom? benaran Mom?" tanya Richard antusias dengan mata berbinar.
"Iya, beneran Makanya besok kamu nggak usah kerja. Lebih baik kamu beli cincin untuk melamar Dora besok malam."
"Iya Mom." sahutnya cepat.
besok biar Mia menemani kamu untuk memberi cincin untuk Dora.
Sementara di tempat lain tepatnya di rumah utama keluarga Bernando terlihat Dora sudah berada di dalam kamar. Dora baru saja mengambil ponselnya di atas nakas dia ingin mengobrol dengan teman-temannya di grup.
Dora menambahkan Risma.
welcome Risma Dora memberikan sambutan kepada Risma menjadi teman grup pertemanannya.
Sedangkan Dora sejak tadi sudah tidak menyinggung obrolan di grup. Sebab dia mendapatkan pesan dari Papanya Mauren. sejak Dia memutuskan untuk menikah dengan Richard dia tidak pernah mengabaikan chat dari pria itu lagi
Keesokan harinya Richard benar-benar tidak masuk kerja siang ini. Dia pergi bersama dengan Mia ke toko perhiasan di mall untuk membeli cincin. Sedangkan Mauren sekarang ada di butik. Anak kecil itu sengaja tidak diajak oleh Richard, karena dia tidak ingin Dora bertanya macam-macam padanya. Jadi hari ini Richard seperti biasa menjemput Mauren di saat jam pulang kerja.
Rasanya waktu hari ini begitu cepat berlalu mobil Richard terus saja memasuki halaman butik. Setelah turun dari dalam mobilnya, Richard langsung masuk ke dalam butik. pegawai Dora yang sudah mengetahui siapa Richard itu, dia hanya menyapa Richard dengan senyuman saja.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!!" teriak Dora saat ini dia sedang sibuk di meja kerja. Sedangkan Mauren disibukan dengan berbagai macam mainan anak perempuan yang baru saja dibelikan oleh Dora untuknya.
"Papa!!!" Mauren langsung beranjak dari duduknya menghampiri Papanya
"Mauren lagi main apa, sayang?"
"Mauren main masak-masakan, Pa." sahut Mauren tangannya kembali sibuk dengan mainannya.
Richard lalu beranjak dari duduknya. Pria itu lalu mengambil duduk di kursi depan meja kerja Dora.
"Dora."
"Hem... sahutnya tanpa melihat karari chat karena dia sibuk membuat desain baju pesanan customernya.
"Dora, Malam ini saya ingin mengajak kamu makan malam."
Dora lalu meletakkan pensil di atas meja kerja, dan mengalihkan perhatiannya pada Richard.
"Makan malam? tumben Bapak ngajakin saya makan malam?
Richard selalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN