
Sepeninggalan Richard, terlihat Dora berusaha mengatur Daru nafasnya akibat menahan sebuah rasa yang tidak dia mengerti itu apa. Tak berselang lama setelah Richard keluar, Dora juga ikut keluar dari dalam kamar itu. Dia langsung membuka kamar Mauren dan cepat-cepat menutup pintu kamar sekaligus menguncinya.
Setelah itu Dora langsung naik ke atas ranjang, dia menarik selimut lebar milik Mauren. Lalu setelahnya dia memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian mata Dora kembali terbuka, karena saat dia terkejam, bukan langsung tertidur, melainkan muncul bayangan Richard memakai celana boxer.
Tak jauh berbeda dengan Dora, Richard yang berada di dalam kamar bawah juga tidak bisa memejamkan matanya. Andai saja Dora itu istrinya, pasti sudah dilahapnya habis tubuh wanita yang masih berbentuk gitar Spanyol itu.
"Aku harus segera menghalalkan kamu Dora ."batin Richard.
Keesokan paginya, kondisi Mauren sudah membaik, namun Mauren tidak diperbolehkan Richard masuk sekolah. Karena kondisinya belum 100% pulih.
"Mauren mau makan di sini atau di meja makan?"tanya Dora.
"Meja makan Ma."
"Ya sudah, ayo sini Mama gendong."
Mauren langsung berdiri di atas ranjangnya, kemudian Dora menggendong putrinya keluar kamar. Saat sudah sampai di luar kamar, terlihat lirik cat baru keluar dari dalam kamarnya.
"Mauren Mau dibawa Ke mana Dora? tanya Richard yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya.
"Mauren mau sarapan di meja makan katanya."sahut Dora tanpa menatap melawan bicaranya.
"Sini biar saya saja yang menggendongnya, Dora."Richard mengambil alih Mauren dari tangan Dora.
"Ayo Dora kita sarapan, Mami pasti sudah menunggu di bawah."
Wanita itu diam, namun langkah kakinya mengikuti Richard.
Di ruang makan, terlihat Nyonya Alena baru saja selesai menata menu makan sarapan pagi di meja makan yang dibantu oleh asisten rumah tangga di rumah Richard.
"Jadi pria ini memiliki dua pelayan?"batin Dora saat dia baru saja sampai di ruang makan.
"Eh Nak Dora, ayo sini Nak duduk."ucap Nyonya Alena.
"Iya Bu."
Dora lalu mengambil tempat duduk di samping Mauren. karena dia ingin menyuapi putrinya. jadi posisi duduk Maureen dihimpit oleh Papa dan Mamanya. di seberang Mereka terlihat Nyonya Alena duduk sambil tersenyum memandang ke arah keluarga kecil ilegal itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, salah satu asisten rumah tangga berjalan dari arah luar. "Tuan, di teras ada tamu namanya Nyonya Nadia."
Mendengar nama Mamanya disebut, Dora langsung menegakkan kepalanya. dia ingin beranjak dari duduknya. Namun, dicegah oleh Nyonya Alena.
"Biar Mami saja yang keluar."Nyonya Alena beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah ruang tamu.
Saat sudah sampai di depan pintu, nyonya Alena lalu mempersilahkan Nyonya Nadia masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaan Mauren Bu?"tanya jangan nyonya Nadia kepada Nyonya Alena.
"Alhamdulillah sudah baikan Bu, suhu badan Mauren sudah kembali normal. ayo bu kita ke ruang makan. Di sana ada Mereka lagi sarapan."
"Aduh saya jadi malu, ke sini malah numpang Makan."
"Nggak usah malu Bu, kan sebentar lagi kita bakalan jadi besan."ucap Nyonya Alena saat membawa Nyonya Nadia ke ruang makan.
Saat di ruang makan, Nyonya Nadia mengambil tempat duduk di samping Nyonya Alena.
Kini kedua wanita paruh baya itu menatap pada anak mereka yang duduk di seberang.
"Dora, kok wajah kamu kelihatan kusam seperti itu? tanya Nyonya Nadia.
Nyonya Alena lalu menatap ke arah Dora. " Iya Dora, apa kamu tadi malam kurang tidur?"tanya Nyonya Alena.
Dora dan Richard lalu saling melirik. keduanya sama-sama terdiam.
Nyonya Alena paham, pasti ada sesuatu yang terjadi tadi malam. dia nanti akan bertanya kembali kepada anaknya.
Selesai sarapan mereka segera keluar dari ruang makan. Richard langsung berlalu naik ke lantai atas untuk mengambil tas kerjanya. Tak berselang lama, pria itu lalu turun kembali sambil menenteng tas kerjanya.
"Mom, tante saya pamit berangkat kerja dulu."pamit Richard pada dua wanita paruh baya yang ada di sana.
"Dora, saya ke kantor dulu ya "
Dora hanya mengangguk. Richard lalu mencium putrinya sebelum melangkah. "Mauren, Kamu jangan terlalu banyak mainnya Karena kamu belum pulih total. "ucap Richard kepada Mauren.
"Iya pa."
Eh, tapi tunggu dulu Pa, kok cuman Mauren saja yang dicium? Mama juga dong."ucap Mauren yang mampu membuat Dora membulatkan matanya.
__ADS_1
Richard terakhirnya apa yang dikatakan oleh putrinya.
"Ayo dong Papa, katanya sayang sama Mama! tapi kalau mau pergi kerja kenapa Mama tidak dicium sama seperti Mauren? Mama kan mamanya Mauren." ucap bocah kecil itu protes.
Richard menatap Dora.
"Ayo Pa, cium Mama."kembali Mauren mau minta kepada Richard untuk segera mencium Dora sebelum Richard pergi ke kantor.
Richard kembali menatap Dora, kemudian sekilas ia melirik ke arah Nyonya Nadia dan juga Nyonya Alena. Nyonya Nadia hanya mengedipkan matanya memberi kode kalau Richard tidak masalah, memenuhi keinginan putrinya.
Perlahan Richard maju, kemudian ia kembali menatap Dora yang hanya dia mematung tanpa ekspresi apa-apa.
Cup!
" I love you."
Kecupan singkat diberikan oleh Richard kepada Dora sambil membersihkan sesuatu di telinga Dora.
Hal itu membuat wajah Dora langsung merona bak kepiting rebus. Kemudian Richard berpamitan lalu melangkah keluar rumah menuju ke arah tempat mobilnya terparkir.
Di perjalanan, Richard kembali memikirkan Dora. "Apa Dora sama seperti aku ya, tadi malam tidak bisa memejamkan matanya?" Richard bermonolog sendiri.
Setelah Richard berangkat ke kantor, di ruang keluarga terlihat torak menemani putrinya bermain. Nyonya Alena sangat bahagia melihat cucunya kini bisa bersama dengan mamanya walaupun mereka masih tinggal terpisah. Ingin rasanya Dia memohon pada Dora agar mau menikah dengan putranya. supaya Mauren bisa memiliki orang tua yang utuh. Namun, dia takut Dora akan menolaknya.
Di tengah kebimbangan Nyonya Alena, Nyonya Nadia berbicara pada Dora.
"Dora, mama lihat sekarang Mauren sangat bahagia saat ketemu kamu. Tadi malam juga saat sakit dia mencari kamu. Itu artinya Mauren menginginkan kamu tinggal di sini bersamanya. Kamu kenapa nggak menikah saja dengan Richard?" tanya Nyonya Nadia.
"Iya Dora, kasihan Mauren, dia sejak kecil sudah tidak tinggal bersama kamu."Nyonya Alena ikut menimpali.
Dora terdiam, dia masih berpikir.
"Jawab Dora, jangan diam saja! Mama rasa kamu sudah terlalu egois, Apa kamu tidak memikirkan status Mauren yang akan dipertanyakan oleh orang-orang? tanya Nyonya Nadia sementara Nyonya Alena memilih untuk diam.
"Dora .....Dora..... Dora mau minta waktu berpikir dulu."sahut Dora.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN