Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 230. PENYESALAN MARIO


__ADS_3

Mario terkejut mendengar penuturan Bimbim. "Apa maksud kamu Bim, kamu sama Maureen belum pernah?"pria itu nampak menegakkan posisi.


Bimbim mengangguk. " Ya, hanya pada bapak saya terus terang seperti ini. Bastian saja tidak saya beritahu. Dia memang tulus mencintai Mauren, tidak peduli Mauren pernah tidur dengan saya atau tidak."


"Kenapa kamu tidak menyentuh Mauren? Kenapa kamu tidak bilang pada saya kalau kamu belum pernah menyentuhnya?"


"Untuk apa saya bilang pada Bapak? bagi saya hal seperti itu tidak untuk konsumsi publik. orang tua saya saja tidak pernah saya kasih tahu."


Mario menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Kini penyesalan langsung datang menghampiri. Andai saja dia tahu hal ini lebih awal, pasti dia akan berusaha keras memperjuangkan Mauren. Karena impiannya dari dulu adalah ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Mauren. tapi apa daya sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Mauren sudah menjadi milik Bastian seutuhnya.


Pelayan datang menghampiri, Mario kembali tersadarkan dalam penyesalannya.


Setelah meminum kopinya separo. pria itu langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. padahal Awalnya dia kemal selain ingin minum kopi, juga ingin membeli sepatu kerja.


Ketika sampai di rumah, Mario langsung menuju kamarnya.


"kakak katanya mau ke mall beli sepatu, mana sepatunya Kak?"tanya adiknya.


Mario tidak menjawab pertanyaan adiknya, pria itu ingin lekas masuk ke dalam kamarnya.


"Kak!!"sang adik mencoba menahan langkah kaki kakaknya.


Mario memejamkan matanya sebentar. "Minggir, tinggalkan Kakak sendiri!"seru Mario dengan suara dingin.


Sang adik yang melihat kakaknya seperti itu, dia tidak berani membantah. Gadis itu langsung menjauhi Mario.


Brak!!


Mario menutup pintunya dengan kasar.


"Kenapa Kakak kamu Len?"


"Aku juga bingung Ma. baru pulang dari mall tiba-tiba dia langsung seperti itu. Mungkin lagi kesel sama orang."


***


Tak lama setelah Mario pamit keluar dari cafe shop, Bimbim juga beranjak dari tempat itu. pria itu ingin kembali ke salon, tempat adiknya perawatan. Belum sempat dia masuk, Sarah dan Arini datang menghampirinya.


"Bim..."


Bimbim menoleh khas suara yang memanggilnya. kening pria itu terlihat berkerut.


"Kamu mau perawatan, Bim?"tanya Sarah

__ADS_1


"Enggak, aku cuma."


"Kakak..."adiknya Bimbim yang baru saja keluar dari salon itu langsung menyapa kakaknya.


"Oh, jadi kamu menemani Adik kamu perawatan?" timpal Arini.


"Senang ya punya adik, cantik pula."sahut Sarah.


"Hai... aku Sarah, teman kakak kalian."Sarah mengulur tangan adiknya Bimbim. dia ingin pendekatan dengan Bimbim dan keluarganya juga.


"Atalia!"Panggil Bimbim.


Atalia yang ingin menuju eskalator langsung menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Nampak Bimbim melambaikan tangannya ke arah Atalia.


"Kami duluan, ya."pamit Bimbim pada Sarah dan Arini. Kedua tangannya langsung meraih tangan adiknya.


Bimbim membawa adiknya melangkah menghampiri Atalia. Sarah dan hari ini saling pandang. Tangan keduanya nampak mengepal.


"Hahaha... kasihan ya kalian, mengejar Bimbim dari zaman aku pacaran dengan dia."ledek Aulia yang datang menghampiri Sarah dan Arini. Kedua Gadis itu menatap penampilan Aulia, dan barang-barang belanjaannya.


"Orang kismin kok secepat ini berubah gaya hidupnya, ya?"ucap Sarah.


"Nggak usah heran. Sekarang banyak gadis jadi simpanan om-om."sahur Arini.


"Aku nggak menuduh kamu. Kalau kamu nggak merasa, harusnya jangan tersinggung."sahur Arini.


"Arini, sudah nggak usah diladeni. lebih baik kita segera pergi dari sini."Sarah melangkah pergi, Arini pun mengikuti langkahnya meninggalkan Aulia di sana dengan kemarahan.


***


Malam hari waktu di New Zealand, di sebuah hotel berbintang 5. baru saja Bastian menutup pintu kamar, dia langsung menyandarkan istrinya di balik daun pintu.


"Mas, kita baru jalan sampai hotel."


"Mas mau kamu sekarang, boleh nggak sayang?"Mas lagi capek, biasanya kalau harus berhubungan, Mas akan lebih nyenyak tidur."


Mauren mengangguk. meskipun badan Mauren terasa lelah sehabis perjalanan jauh, tapi dia tetap melayani suaminya.


Mendapat lampu hijau dari istrinya, Bastian bergegas menyatukan alat tuturnya.


Setelah melepas satu persatu pakaian, Bastian mengiringi istrinya menuju pembaringan.


Di atas ranjang itu Bastian menyalurkan hasratnya.

__ADS_1


"Mas masih lama ya?"


"Sa... sabar sayang, nggak lama lagi akan keluar."sahut Bastian sambil terengah-engah memimpin pasukan kudanya. Mauren mengeratkan rangkulannya pada punggung suaminya karena suaminya semakin mempercepat laju kudanya.


"Aaaa..." pekik keduanya saat permainan berakhir.


" Sayang, semoga kamu cepat hamil."berisik Bastian ditelinga Mauren. Setelah itu dia melepaskan penyatuannya.


Keesokan harinya, selesai sarapan di restoran Mauren dan Bastian langsung menuju lobby. di lobby hotel, Tuan Bernard sudah menunggu. dia siap mengantar kemanapun Mauren dan Bastian akan pergi hari ini.


"Pak Bimbim Dan istrinya kenapa tidak ikut ke New Zealand?"tanya Tuan Bernard saat melangkah keluar hotel.


"Bimbim lagi sibuk bekerja, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya."jawab Bastian. Tuan Bernard, nanti tolong kami untuk foto berdua ya."


"Baik, Pak Bastian."


Sekitar jam 10.00 pagi waktu di New Zealand, Mauren dan Bastian diantar oleh Tuan Bernard salah satu restoran ternama yang ada di sana.


"Sayang, kamu mau belanja dulu atau mau langsung makan?"


"Lebih baik kita belanja dulu, mas."


Bastian memegang tangan istrinya dan melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Di dalam sana istri dan Bastian Ini membeli banyak pasmina dengan berbagai motif dan warna. Bastian yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya. di dalam hati pria itu bertanya, Kenapa istrinya membeli sebanyak itu, sedangkan pashmina itu biasanya digunakan oleh Mauren saat di New Zealand saja?


"Mas, Boleh nggak aku menggunakan penutup kepala seperti ini?"


"Masya Allah sayang, kamu berhijab?"tanya Bastian dengan mata berbinar.


Morin hanya membalas dengan mengangguk yakin.


"Boleh banget sayang, justru sangat senang sekali kamu mau memakai hijab. sebab itu memang kewajiban buat kamu untuk menutup aurat. Kamu juga terlihat lebih cantik menggunakan penutup kepala seperti ini, wajah kamu semakin imut."tutur Bastian, tangannya mencubit kemas pipi istrinya.


Selain membeli pasmina, Mauren juga membeli baju couple untuk dia dan suaminya kenakan saat pulang ke negaranya nanti.


"Habis ini mau beli apa lagi, Sayang?"tanya Bastian yang sudah menenteng 5 buah paper bag di tangannya. Mauren tidak dibiarkannya membawa satu barang pun.


"Sudah Mas, lebih baik kita keluar saja sekarang. kasihan Tuan Bernard terlalu lama menunggu kita."


Di depan pusat perbelanjaan, tampak Tuan Bernard duduk sambil ngobrol dengan sesama teman profesinya. sebab keduanya sama-sama menggunakan ID card yang digantung pada lehernya.


"Tuan Bernard, Tunggu sebentar ya, Saya dan istri mau makan dulu di sini."


"Silakan Pak Bastian."sahutnya lalu dia melanjutkan kembali obrolannya dengan temannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2