
Saat ini Mauren dan Bastian sudah berada di dalam lift.
"Kakak mau bawa aku ke mana?"
"Ke kamar pribadi kakak."canda Bastian, wajahnya nampak serius. dia hanya ingin mengerjai Mauren saja.
"Ma....Mau ngapain kita ke sana, Kak?"Mauren terlihat sedikit takut, dia mencoba melepaskan tautan tangannya dari tangan Bastian.
"Mau makan malam, sayang. Dipikiran kamu, kita mau apa?"tangannya kembali mencubit pelan pipi gadis itu. Andai sudah menikah, cubitan itu pasti akan berubah menjadi ciuman.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Mauren masih ingat, Beberapa bulan yang lalu Bastian pernah membawanya ke tempat itu.
"Kakak mau ngajak aku makan di sini?"tanya Mauren dengan mata berbinar. yang hanyA dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh pria tampan itu.
"Ayo sayang, kita masuk."ajak Bastian saat pintu menuju Cafe sudah dibuka oleh penjaga.
Mauren kembali menemukan tangannya pada Bastian, melangkah masuk menuju kapal kecil yang ada di lantai paling atas.
"Saat sudah sampai Gadis itu terperangah dengan keromantisan yang diciptakan oleh Bastian di tempat itu. awalnya Mauren mengira dia akan melihat pemandangan orang-orang sedang makan malam di cafe. diiringi dengan berbagai lagu akustik.
Namun saat ini, di cafe itu hanya ada mereka berdua. Bastian mengiringi Maureen ke arah meja berbentuk bundar, yang mana pada meja itu terdapat dua buah kursi yang letaknya saling berseberangan. Setelah menggeser kursi, Bastian menyuruh Mauren untuk duduk, baru setelah itu dia mengambil tempat duduk di seberang Mauren.
Nampak diambang pintu Herlan memerintahkan dua orang pelayan untuk membawa makanan dan minuman kesukaan Mauren. Bastian yang sudah mengenal Mauren sejak kecil, dia tahu betul apa yang disukai dan tidak disukai oleh gadis itu. Maka dari itulah, Bastian langsung menyajikan berbagai macam makanan di atas meja, tanpa meminta Mauren untuk memesan makanan itu.
"Kak, ini semua kakak yang pesan?"tanya Mauren terperangah melihat berbagai macam makanan kesukaannya.
"Iya, gimana Sayang?"kamu suka?"
"Suka banget, Kak."
"Ayo Sayang, kita makan sekarang!"
Tiba-tiba terdengar lagu akustik mengiringi makan malam mereka. kini Mauren merasa dia sedang makan malam romantis di sebuah Cafe.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau paha ini nggak?"
"Mau."
Bastian meletakkan paha ayam ke piring Mauren sambil tersenyum ke arah kekasihnya. Mauren makan paha ayam itu, sedangkan Bastian dari tadi hanya menatap pada wajah cantik di depannya.
"Kakak kenapa ngeliatin aku terus?"
Bastian tersenyum, "kamu cantik banget sayang."
"Kak, Ayo buruan makan juga. aku nggak bisa lama-lama di sini."ujar Mauren.
Sementara di tempat lain tempatnya di luar Cafe, terlihat Maya sedang berdebat dengan penjaga di sana.
"Saya bilang, buka!"seru Maya. dia memaksa penjaga agar mau membuka pintu.
"Saya tidak berani Bu. Karena di dalam sana ada Pak Bastian
"Saya lagi ada perlu dengan Pak Bastian. cepat buka atau Kamu mau saya pecat!"ucap Maya mengancam.
"Berani sekali kamu mengancam orang yang posisinya di bawah kamu. Apa kamu tidak takut kalau ucapan kamu itu akan berbalik pada diri kamu sendiri?"
Maya bungkam seketika. Wanita itu mengatupkan bibirnya. Dia tidak berani melawan Herlan. Sebab Herlan dari awal bekerja di hotel, posisinya sudah ditempatkan Bastian di atas Maya.
"Cepat katakan, kamu Ada perlu apa sama Pak Bastian, bilang sama saya?"tanya Herlan lagi. Namun Gadis itu masih membisu.
"Maya, dengar ya! di dalam sana Pak Bastian sedang makan malam bersama calon istrinya. Jadi tolong, kamu jangan mengganggu. Tolong segera tinggalkan tempat."usir Herlan.
Maya langsung melangkah pergi dari tempat itu dengan perasaan dongkol.
Setelah selesai makan malam, Bastian membawa Mauren duduk di sofa panjang yang tak jauh dari tempat meja makan. di sana pria itu mengarahkan murid untuk duduk.
Setelah itu dia meninggalkan Mauren di sana sebentar, untuk mengambil buket bunga yang sudah disiapkan sebelumnya. buket bunga itu diletakkan oleh Herlan di tempat duduk lesehan sebelum Bastian dan Mauren tiba di hotel.
"Ini bunga untuk kamu, Sayang."Bastian memposisikan diri duduk berjongkok di depan Mauren yang duduk di sofa. dengan modal cincin yang baru dibelinya 2 hari yang lalu, pria itu bermaksud ingin mengutarakan isi hatinya malam ini, sekaligus ingin mengajak kekasih hatinya untuk melangkah ke jenjang berikutnya.
__ADS_1
Bastian perlahan mengambil tangan Mauren. "sayang, pada malam ini kakak ingin mengungkapkan kembali isi hati kakak sama kamu. Nama kamu sudah lama terukir di hati kakak. sejak kita SMP, Kakak sudah mencintai kamu. Namun, Kakak terlambat mengungkapkannya pada kamu, hingga didahului oleh orang lain. berulang kali Kakak kehilangan harapan hidup bersama kamu. bahkan terakhir saat kamu memutus Kakak secara sepihak. Dunia Kakak rasanya runtuh. kakak tidak ingin hal itu terjadi lagi. kakak tidak mau kehilangan kamu lagi, Sayang."
Bastian menjeda ucapannya. pria itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Mauren. Gadis itu menarik kembali tangannya. Dalam hitungan detik Bastian mengeluarkan kotak cincin yang dia simpan di saku jasnya. Mauren tercengang, dia tahu kotak itu isinya apa. perlahan Bastian membuka kotak berwarna merah itu. Pria itu mengangkat wajahnya. Manik matanya menatap-lekat Mauren. Netra keduanya saling bertemu.
"Sayang, kakak ingin mengikat kamu dalam ikatan suci pernikahan. Menjadikan kamu sebagai istri sekaligus Ibu dari anak-anak kakak. Kakak berjanji akan selalu membahagiakan kamu, menghargai kamu, memperlakukan kamu, layak ratu dalam istana kakak. Sayang, maukah kamu menikah dengan kakak?"tanya Bastian menatap wajah cantik itu penuh harap.
Bibir Mauren terkatup rapat. matanya berkaca-kaca. dia terharu dengan rentetan kalimat yang diucapkan oleh Bastian.
"Sayang,"Bastian sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Mauren. Dia malam ini butuh kepastian, karena dia takut suatu saat mau dan berubah pikiran dan mengambil keputusan tiba-tiba seperti beberapa minggu yang lalu.
"Aku mau. Aku mau menikah dengan kakak."jawab Mauren yang sudah yakin dengan hatinya, karena dia Melihat kesungguhan Hati Bastian.
Pria itu tersenyum lebar. "Terima kasih sayang."diambilnya cincin yang ada pada kotak itu. Mauren mengulurkan tangannya, Bastian langsung memegang tangan itu dan menyematkan cincin di jari manis Mauren. lalu setelahnya, dia mencium tangan itu sambil dia pejamkan kedua matanya, meresapi kebahagiaan yang baru saja direngkuhnya.
Bastian kembali berdiri dan mengambil tempat duduk di sisi Mauren. Tangan kiri Bastian merangkul pundak Mauren, membuat Mauren bersandar di dada bidangnya.
"Kak, nikahnya jangan terlalu cepat ya."
"Kenapa nggak mau cepat, sayang?"Kakak sudah lama menunggu kamu. Kakak maunya kita nikah selambat-lambatnya 2 bulan lagi."
Mauren menegakkan duduknya, kini posisinya berhadapan ke arah Bastian.
"Dua bulan lagi?"tanya Mauren
"Iya sayang, dua bulan lagi kita menikah. Kakak sudah 1 bulan yang lalu membeli rumah untuk kita tempati setelah menikah nanti."
"Persiapan Kakak sudah sampai sejauh itu?"
"Iya, sayang. Kakak kan serius mau membahagiakan kamu. Kamu mau nggak weekend kakak ajak ke sana, melihat rumah kita."ucap Bastian.
Mauren mengatupkan bibirnya, dia tidak menyangka Bastian sudah melakukan persiapan sampai sejauh ini. Dulu saat ingin menikah dengan Mario, pria itu bilang setelah menikah untuk sementara waktu tinggal di apartemen dulu.
"iya, Aku mau, Kak."sahut Mauren sambil mengangguk.
bersambung
__ADS_1