
Setelah masuk ke dalam rumah, Bastian dan Mauren langsung melangkah ke arah Gazebo samping rumah. di sana ada mama Sintia yang sedang duduk seorang diri sambil menikmati gorengan dengan secangkir teh panas.
Suaminya pergi keluar kota untuk beberapa hari. di rumah itu Cyntia hanya ditemani oleh asisten rumah tangga. semenjak kecelakaan dulu, wanita itu tidak pernah hamil lagi. karena kecelakaan itu mengakibatkan kerusakan permanen alat reproduksi pada suaminya, tentu hal tersebut berakibat pada kemandulan.
"Assalamualaikum."Mauren mengucap salam kembali.
"Waalaikumsalam."Cynthia terkejut menatap pada gadis yang memberi salam padanya.
Bastian lalu mencium punggung tangan mamanya, diikuti juga oleh Mauren. namun Cynthia buru-buru menarik tangannya saat Mauren ingin mencium punggung tangan itu. Bastian mengusap pelan punggung Mauren. wanita itu nampak biasa saja. Sebelumnya dia sudah menyiapkan hatinya untuk ini.
"Mau apa kalian ke sini?"tanya Cynthia Ketus.
"Kami datang ke sini mau minta restu pada mama,"sahut Bastian, tangannya sambil menuntun Mauren agar mengikutinya duduk di Gazebo.
"Mama nggak akan kasih kamu Restu!"ucap wanita itu tegas.
"Ma, aku mohon, restui Aku menikah dengan Mauren. Aku sangat mencintainya. tolong restui aku, karena Mauren adalah sumber kebahagiaan buat aku."Bastian memohon sambil memegang tangan mamanya.
Wanita itu bergeming. Dia kembali teringat dengan pesan yang dikirim oleh Cornel sekitar satu jam yang lalu.
"Kalau kamu tidak merestui Bastian, siap-siap saja kamu menanggung akibatnya. kamu akan dibenci oleh anak semata wayang kamu. ingat! kamu sudah bersalah padanya, menelantarkannya sejak kecil. Ini saatnya kamu menebus kesalahan kamu pada Bastian, Yaitu dengan mewujudkan impian yang menikah dengan Mauren."pesan itu yang dikirimkan oleh Cornel kepada Cynthia.
Setelah menimbang-nimbang, Cynthia merubah keputusannya. "Baiklah, Mama Resti kamu menikah tapi mama tidak bisa datang ke acara kamu."
"Kenapa, Ma?"tanya Bastian dengan nada kecewa.
Cynthia bergeming, wanita itu masih belum tahu, apakah akan hadir atau tidak di pernikahan anaknya. Sebab Dia masih belum bisa menerima Mauren menjadi menantunya.
"Terima kasih ya Tante, sudah memberi restu untuk kami."ucap Mauren, tapi tidak ditanggapi oleh Cynthia. Tangan Bastian beralih memegang tangan Mauren, diusapnya punggung tangan itu.
"Ma, sebentar lagi Mauren akan menjadi menantu mama. Aku harap mama ke depannya bisa bersikap baik pada Mauren."ucap Bastian.
"Kami mau pamit pulang dulu ya Ma."Bastian dan Mauren beringsut turun dari gazebo.
Cynthia menatap punggung anaknya yang melangkah meninggalkan gazebo.
"Kak, kita jadi nggak ketemuan sama Bimbim?"
"Enggak sayang, dia tidak merespon pesan maupun panggilan telepon dari kakak. Mungkin dia belum siap untuk bertemu dengan kita."
"Berarti kita langsung pulang Kak?"
__ADS_1
"Memangnya kamu mau ke mana, sayang?"tanya Bastian. keduanya saat ini sudah berada di dalam mobil.
"Aku mau jalan ke mall."
Bastian Melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih belum terlalu sore, pikirnya.
"Ya sudah, kita ke mall, tapi jangan lama ya Sayang, nanti kesorean pulangnya.
Mauren tersenyum mengangguk.
Jarak antara rumah Sintia dengan mall cukup dekat. Hanya butuh waktu beberapa menit saja Mauren dan Bastian sudah sampai di di teras Mall. Keduanya melangkah memasuki Mall dengan tangan saling bertautan.
Bahkan saat menaiki tangga eskalator, tahu tantangan itu tidak terlepas.
Kini Mauren dan Bastian sudah berada di lantai tiga.
"Sayang, kamu mau beli apa?"
"Kita ngopi aja, Kak."Bastian lalu menuntun Mauren menuju Cafe shop.
Kebetulan di depan mereka saat ini ada Aulia yang sedang berjalan dengan menenteng beberapa paper bag dengan label toko yang Mauren tahu harga barang di toko itu sangat mahal.
"Aduh, baru jadi janda sudah jalan sama cowok."sindir Aulia yang sengaja menghadang langkah Mauren.
"Hahaha... apa yang tidak aku ketahui dari Bimbim?"sahut Aulia sambil terkekeh.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu? pasti kamu berpikir Aku belanja pakai uang Bimbim, iya kan?"imbuh Aulia, saat Maureen menatap penampilan serta barang-barang belanjaannya.
"Kita lanjut aja jalan, Kak. Aku malas meladeni dia."Mauren menarik tangan Bastian.
"Padahal kamu sudah cerai sama Bimbim, Tapi masih saja dia musuhi kamu."
"Mungkin dia masih marah karena dulu dipecat dari kantor papa."sahut Mauren lalu mereka melangkah masuk ke sebuah Cafe sob meninggalkan Aulia begitu saja.
***
Sehari menjelang pernikahan, saat ini rumah Richard sedang ramai kedatangan sanak keluarga. Mauren sudah 3 hari ini tidak diperbolehkan oleh Dora keluar rumah. Bastian pun dilarang berkunjung. Mauren terakhir bertemu Bastian saat mereka jalan ke mall saja. selanjutnya komunikasi antara keduanya hanya melalui ponsel saja.
Selain pihak keluarga, Di sana juga ada Atalia. gadis cantik itu diajak Mauren masuk ke dalam kamarnya. mereka berdua duduk di kursi yang ada di balkon sambil ditemani kue bolu yang dibawa oleh Mia dari toko.
"Mauren, menurut aku pernikahan kali ini kamu lebih antusias dibanding pernikahan yang sebelumnya. Dulu kamu tidak sebahagia ini saat mau menikah dengan pak Mario."
__ADS_1
"Masa sih?"
Atalia mengangguk. " pasti kamu lebih bahagia karena mau menikah dengan sahabat masa kecil kamu, iya kan?"
"Iya. aku nggak menyangka saja, aku muter ke sana kemari, eh nggak taunya jodohku orang yang dekat sama aku."sahut Mauren sambil terkekeh.
"Semoga ini menjadi pernikahan kamu yang terakhir ya, Mauren. Aku berharap kamu bisa bahagia sama Kak Bastian. Punya anak yang banyak juga."
"Amin...!!
"Mauren, Apa kamu sudah siap untuk punya anak?"
" Anak?"Mauren mengerutkan keningnya. Gadis itu belum ada kepikiran untuk memiliki anak. "Aku belum memikirkannya Atalia."
"Untung saja kamu sama Bimbim nggak sampai memiliki anak."
Mauren menyunggingkan senyum. "gimana mau punya anak Atalia? aku sama Bimbim kan belum pernah bikin anak."
"Yang bener kamu?"Atalia terkejut.
"Dulu waktu di mall, kamu dan Bimbim pernah bilang ada kenangan di dalam kamar."imbuh Atalia mengingatkan.
"Kamu pasti mengira kenangan di dalam kamar itu aku sudah melakukan itu dengan Bimbim, ya?"tebak Mauren, Gadis itu nampak menahan tawanya.
Atalia mengangguk. "kalau bukan itu, Terus apa Mauren? namanya juga kamar, pasti kenangan yang yang di kamar itu tidak jauh-jauh dari hal ranjang.
"Otak kamu itu sudah mesum duluan. makanya pikiran kamu langsung ke sana. kenangan di dalam kamar yang kamu maksud adalah kenangan saat Bimbim sakit. waktu itu aku menyuapi dia bubur."
"Oh, Jadi kamu masih perawan Mauren?"
Mauren mengangguk. "Iya, Memangnya kenapa? apa memalukan kalau jadi janda tapi masih perawan?
"Bukan itu maksudku, Mauren. itu artinya besok kamu akan melakukan yang pertama kali dengan Kak Bastian."
"Aduh, lebih baik kita jangan ngomongin itu deh. Mending ngomongin kapan kamu rencananya menyusul aku?"
"Pacar aja nggak punya, gimana mau nyusul."
"Masa sih nggak ada yang kamu suka? di kantor kita banyak cowok tampan."
"Enggak, malas aku pacaran sama rekan kerja."sahut Atalia.
__ADS_1
bersambung...