Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 150. MIA LAHIRAN


__ADS_3

Ting!


Pintu lift terbuka di lantai tiga. Afrian bergegas keluar dari lift, pria itu berjalan sesuai petunjuk jalan yang ada di koridor itu.


"Afrian, jangan cepat-cepat jalannya, kasihan Mama kamu!"Panggil Tuan Andalas yang melihat Afrian sudah berjarak lebih kurang lima meter dari depannya.


Afrian tidak mendengarkan ucapan Papanya.


"Anak kamu itu persis banget kayak kamu waktu masih muda Pa. Keras kepala, susah dibilangin."


Saat sampai di depan ruang rawat inap Mia, Afrian mengetuk pintu itu sampai tiga kali, lalu memutar handle pintu. perlahan pria itu membuka daun pintu dan melihat ke arah dalam. Untuk melihat apakah benar ruangan itu ruangan istrinya, takutnya perawat itu salah menyebut nama kamar istrinya.


Tatapan mata Afrian memindai ruangan itu, di dalam sana ada Nyonya Alena sedang menggendong seorang bayi. Pria itu tersenyum, dia langsung mengayunkan langkahnya masuk ke dalam ruangan, diiringi oleh kedua orang tuanya.


Afrian melihat bayi yang ada di dalam ranjang kecil sebentar, kemudian dia menghampiri istrinya dan langsung mencium keningnya. "Sayang maafkan Kakak ya tidak bisa menemani kamu berjuang melahirkan anak-anak kita."


"Iya Kak, nggak apa-apa?"Mia tersenyum menatap suaminya yang sekarang sudah kembali sehat. Waktu di ruang, saat mengetahui suaminya pingsan, Mia sempat drop. karena dia mengkhawatirkan kondisi suaminya. Beruntung dianya Alena datang dan menyemangatinya, sehingga dua bayi itu bisa dikeluarkan dengan lancar.


***


Setelah memastikan Mia sudah masuk ke dalam ruangan, Tuan Nicholas pamit pada istri dan putrinya. Pria paruh baya itu pergi ke kantin sebentar untuk membeli kopi.


Setelah menghabiskan secangkir kopi di sana, pria paruh baya itu kembali ke ruang rawat putrinya. Dibukanya pintu itu. kedua tangannya mengepal kuat saat dia melihat pemandangan di ruangan itu.


Di sana Mia sedang tertidur, Afrian sedang dibantu nyonya iya Sinta untuk menggendong putrinya. sedangkan Tuan Andalas terlihat duduk berdua di sofa bersama Nyonya Alena yang sedang menggendong cucu laki-lakinya.


Tuan Nicholas melebarkan langkahnya. "Apa-apaan ini, kamu mencari kesempatan iya Andalas?"geram Tuan Nicholas.


"Papa diam! ini rumah sakit, Papa nggak lihat dia baru saja tidur."tegur Nyonya Alena.


"Andalas hanya membantu Mama mengambil tisu. Baru saja dia duduk di sini."imbuhnya lagi.


Karena tak ingin berdebat, Tuan Andalas beringsut berdiri dari sofa itu. pria paruh baya itu berjalan ke arah Nyonya Yasinta dan Afrian.


Satu jam kemudian, Tuan Nicholas dan kedua orang tua Afrian keluar dari ruang rawat inap Mia. ketiganya bermaksud pulang ke rumah. hanya Afrian dan nyonya Alina saja yang malam ini menginap di rumah sakit untuk menemani Mia.


Jam dua dini hari, kedua bayi menangis saling bersahutan. Nyonya Alena tertidur dengan begitu pulas, Afrian tidak tega untuk membangunkan mertuanya.


"Kak, coba gendong bayinya ke sini, pasti mereka haus.


"Tapi Kakak belum berani sayang."

__ADS_1


Mia beringsut Ingin turun dari ranjang. Afrian yang melihat itu langsung mencegahnya. "Stop sayang! tunggu di ranjang saja."Afrian mengarahkan telapak tangannya ke arah istrinya. Mia kembali duduk di ranjang. dilihatnya suaminya mendorong ranjang bayi ke arahnya.


Keesokan harinya, nyonya Yasinta dan Tuan Andalas datang ke rumah sakit. Keduanya membawa pakaian ganti untuk Afrian. saat pindah ke rumah barunya bersama Mia, Afrian meninggalkan sebagian pakaiannya di dalam kamar pribadinya, di rumah kedua orang tuanya.


Maka dari itulah Nyonya Yasinta tidak perlu repot-repot lagi ke rumah Afrian untuk mengambil pakaian pria itu.


Tak berselang lama, Tuan Nicholas datang ke rumah sakit juga. pria paruh baya itu sebenarnya ingin agak siang saja ke rumah sakit, namun mengingat ada Andalas di sana, dia takut pria paruh baya itu mendekati istrinya. Maka dari itulah pagi ini Tuan Nicholas juga pergi ke rumah sakit.


Satu jam kemudian Richard bersama keluarga kecilnya juga datang ke rumah sakit. tak ketinggalan Cornel dan Fernando bersama istri dan juga anaknya. mereka saat ini sedang berada di dalam lift.


"Nggak lama lagi Kalian juga bakalan melahirkan. Apa kalian sudah tahu jenis kelamin anak kalian?"tanya Dora pada dua orang sahabatnya.


"Sudah Dora. anak aku perempuan keduanya,"sahut Amor.


"Sama Amor. Anak aku juga perempuan," timpal Moresette.


"Jadi pas ya kita dapat sepasang semua,"sahut Dora.


Ting..


Pintu lift terbuka. Mereka bergegas keluar dari dalam lift berjalan di koridor rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di ruang rawat inap Mia. kebetulan Afrian sedang menggendong bayi laki-lakinya. sahabatnya langsung menghampiri Afrian.


"wah ini seratus persen mirip kamu Afrian,"ucap Cornel.


"Ya iyalah, kan aku Papanya,"ucap Afrian bangga.


"kalau yang perempuan mirip siapa Afrian? pasti mirip Mia kan?"tebak Richard.


"Mirip aku juga, delapan puluh persen. sisanya mirip Mia."


"Kamu ya, serakah banget Afrian."


"Ya harus dong, siapa dulu yang mengidap anak ini,"sahut Afrian.


"Beruntung ya kamu Afrian langsung dikasih dua anak sekaligus."Ucap Fernando.


"Biar sama kayak kalian."


"Kalian sudah tahu belum, waktu Mia melahirkan, Afrian pingsan?"ucap Richard.

__ADS_1


Afriani menunjukkan wajahnya.


"Masa sih badan segede gaban gini pingsan?"Fernando memijat-mijat pundak Afrian.


"Tahu tuh, Mia yang badannya kecil saja tidak pingsan melahirkan anak dua,"sahut Richard.


"Ya mau gimana lagi. aku kan dari kecil memang nggak kuat melihat darah,"lirik Afrian.


Tak jauh berbeda, di ranjang Mia juga saat ini sedang membicarakan Afrian yang pingsan waktu Mia melahirkan. Awalnya biar tidak ingin cerita pada Amor dan Moresette. cuma kedua wanita itu meminta diceritakan pengalamannya saat melahirkan tadi malam. dan juga keberadaan suaminya di ruang bersalin, apakah memberi dampak negatif atau positif bagi istri yang ingin melahirkan.


***


Dora mengangkat anak perempuan Mia dari ranjang bayi. Wanita itu duduk di sebuah kursi samping ranjang bayi. Dia kembali teringat saat Mauren lahir dulu. Andai saja waktu bisa diputar ulang, pasti dia tidak akan meninggalkan bayinya kala itu.


"Ma, di perut Onty Mia kenapa ada dua anak bayi? kenapa kemarin di perut Mama cuman ada satu adik bayi?"tanya Mauren pada Dora.


"Karena anak Onty Mia kembar sayang,"


"Mauren mau punya adik bayi kembar juga ma."


"Nggak bisa Sayang. Bayi kembar itu sudah ditentukan sama Allah. Kalau Allah kasih cuman satu, itu artinya di perut Mama juga satu adik bayi."


"Kalau di perut mamanya Bastian, dan Mamanya bimbing, ada berapa adik bayinya Ma?"


"Adik bayi di perut Mama Bastian ada satu sayang, kalau di perut Mama Bimbim ada dua."Dora main cubit gemas pipi putrinya.


Dora kemudian berdiri dari duduknya, Dia berjalan ke arah ranjang Mia sambil menggendong bayi perempuan. wanita itu duduk di sisi ranjang Mia bergabung dengan Amor dan Moresette. di sekitarnya juga ada orang tua Afrian dan orang tua Mia, serta Richard dan sahabat-sahabatnya.


"Rencananya baik kembar kamu mau dikasih nama apa Mia?


Afrian yang duduk di bangku samping branker. Afrian mengedipkan bahunya. "belum tahu Dora, kami masih bingung mau kasih nama apa?"sahut Afrian.


"Afrian, kok kamu belum siapin nama untuk anak-anak kamu?"tanya Tuan Andalas.


Afrian menggaruk belakang kepalanya. dia memang belum ada kepikiran. "bagusnya kasih Mama apa Pa?"tanya Afrian pada Papanya.


"Terserah kamu saja mau dikasih nama apa, yang penting ujungnya jangan ada An nya,"bukan Tuan Andalas yang menyahut, tapi Tuan Nicholas.


"Maksud kamu apa Nicholas? banyak tuan Andalas geram. Tuan Andalas yang awalnya duduk langsung berdiri. Kedua telapak tangannya mengepal Kuat.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Sambil menunggu karya ini update kembali yuk mampir kekarnya teman emak.



__ADS_2