Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 197. BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Di sebuah cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Mauren, Mario sudah datang beberapa lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Suasana cafe yang sore ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung, membuat kondisi di sana sangat mendukung setelah pertemuan antara Mario dan kemauan.


Mario yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mauren, dia tampak terlihat gelisah, ini sudah yang ketiga kalinya pria itu melihat kami yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah beberapa menit dari waktu yang ditentukan, tapi Mauren belum juga datang.


Mario sedikit khawatir kalau Gadis itu berubah pikiran. Mario mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia berniat ingin menghubungi Mauren. baru saja dia mencari kontak ponsel Mauren, pintu kau yang terbuat dari kaca itu terbuka, menampilkan seorang gadis cantik yang terlihat menilai seluruh ruangan.


Karena suasana kafe tidak terlalu ramai, Mauren dengan mudah menemukan keberadaan Mario yang wajahnya berada di pojok ruangan. Mario melambaikan tangannya, agar mau melihat keberadaan dirinya. Mauren berjalan menghampiri mau Mario.


"Maaf ya Kak, aku datangnya sedikit telat."udah Mauren sambil mengambil tempat duduk di seberang Mario.


"Tidak apa-apa, melihat kamu datang saja, Kakak sudah senang."Mario lalu memberi kode pada pelangi Cafe agar segera mendekat.


"Ada apa kak mengajak aku ketemuan?"Mauren bertanya usai dia dan Mario memesan makan makanan dan minuman


"Mauren, kakak tahu kamu baru saja bercerai secara resmi dari Bimbim."Mario menjeda ucapannya. Dia terlihat sedikit mengatur nafasnya. "Kakak ingin kita kembali seperti dulu, mewujudkan pernikahan kita yang sempat tertunda. kamu mau kan setelah masa iddah, menikah dengan kakak?"


Mauren bergeming sesaat, ternyata benar dugaannya, masuk dan tujuan Mario mengajak bertemu dengannya adalah ingin kembali menjelang hubungan dengan dirinya.


"Mauren,"Zidane tidak sabar menunggu jawaban dari gadis itu.


"Maaf Kak. kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi."Mauren menunjukkan wajahnya.


"Kenapa Mauren?"tanya Mario dengan rasa kecewa.


"Kak, aku tahu keluarga besar kakak tidak menyukaiku. terbukti saat acara kemarin mereka tidak ada satupun yang datang."ucap Mauren


Mario memegang tangan Mauren yang ada di atas meja."Mauren, kakak tidak peduli dengan mereka. kita tidak perlu restu dari mereka. yang penting ayah dan ibu aku sudah sama kamu, itu sudah lebih dari cukup."


Mauren menarik tangannya yang dipegang oleh Mario, wanita itu terlihat menggeleng. "Maaf, Kak. karena keluarga besar kakak tidak datang waktu itu, kakek dan kedua orang tua aku sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa pihak keluarga besar kakak tidak merestui hubungan kita. Dan Hal itu membuat keluarga besar aku menjadi marah besar."


"Maksud kamu, Mauren?


"Maksud aku, keluarga besar aku tidak setuju Kalau aku balik lagi sama kakak."


"Mauren, kita harus sama-sama berjuang untuk mendapatkan Restu, Kamu mau kan berjuang sama kakak?"Mario menatap lekat darah Mauren.


Mauren kembali, selain Dia teringat dengan perasaan kedua orang tuanya, wanita itu juga teringat dengan lelaki tampan yang sudah menitipkan hatinya padanya. semakin bertambah kuat alasan dia untuk menolak permintaan Mario.


"Kak, aku rasa hubungan kita sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi. karena banyak orang yang menentang hubungan kita. jadi lebih baik kita menjadi teman saja. Harapan aku, Semoga Kakak ke depannya bisa menemukan wanita yang lebih baik dari aku."

__ADS_1


"Tapi, Mauren..."


Mauren memotong ucapan Mario. "Cukup, Kak! lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing saja. Status kita sudah berbeda, jika Kakak memaksakan menikah dengan aku, hal itu pasti akan semakin menjadi pertentangan dengan keluarga kakak. sebab dengan status aku kemarin yang belum pernah menikah saja mereka sudah tidak mau menerima, apalagi dengan status aku yang sekarang, yang sudah menjadi janda."Tutut Mauren panjang lebar.


"lebih baik Kakak cari pengganti yang jauh lebih baik dari, dan tentunya belum pernah menikah."imbuh Gadis itu lagi.


"Susah nyari yang seperti kamu Mauren."


Pelayan kafe datang, obrolan keduanya terhenti.


"Kak, lebih baik kita makan."Mauren mengambil piring dari sini goreng kesukaannya.


Mario tidak menyahut. Pria itu mendadak tidak berselera dengan makanannya. dari tadi pria itu memandang ke arah wajah cantik yang ada di depannya.


Di luar Cafe, nampak mobil yang dikemudikan oleh Bastian Baru saja sampai di halaman. pria itu datang bersama dengan temannya. Herlan yang baru datang dari kampung termasuk ingin mencari pekerjaan di kota. melalui akun media sosial miliknya, Herlan bisa berkomunikasi kembali dengan Bastian. maka dari itulah sore ini pasti menjemput pria itu di stasiun, dan membawanya ke cafe yang tidak jauh dari stasiun.


Bastian terkejut saat melihat mobil Mauren ada di tempat parkiran kafe. "Mauren ada di sini juga? sama siapa dia? apa sama Atalia?"pertanyaan deh pertanyaan timbul di dalam hati pria tampan itu.


"Ayo Herlan, Kita nongkrong dulu di sini sambil ngopi."Bastian pada pasar pengaman mobilnya.


"Iya Bastian."


Deg


Jantung Bastian tiba-tiba berdebu kencang saat melihat Mauren makan bersama dengan Mario di cafe ini juga. Mauren yang posisinya memberlakukan kepastian masih belum menyadari keberadaan pria itu.


Mario yang melihat ada Bastian di ambang pintu segera mengambil tisu. Pria itulah yang mengarahkan tisu itu ke arah wajah Mauren. Gadis itu refleks menangkap tangan Mario yang memegang selembar tissue


"Kakak hanya ingin membersihkan wajah kamu saja. ada bekas makanan di dekat sudut bibir "Mario beralasan


"Aku bisa sendiri, kak."Mauren mengambil tisu yang ada di tangan Mario, lalu menyapukan tisu itu ke area sekitar mulutnya.


Mario melirik ke arah Bastian, dilihatnya taman pria itu menghafal kuat. "berarti benar dugaanku kalau Bastian memang ada hati dengan mau. Apa salah satu alasan Mauren menolak aku karena pria ini ya?"tanya Mario di dalam hati.


Bastian terpaku menatap Mauren duduk di seberang Mario. Herlan yang melihat itu segera menyadarkan temannya. "Bastian, kita duduk di meja sebelah mana?"tanya Herlan menepuk pelan dengan Bastian.


Pria itu sedikit tersentak, dan langsung menoleh ke arah temannya. "Ada apa Herlan?"rupanya dia tidak mendengar ucapan Herlan.


"Kita duduk di mana?"tanya Herlan dengan suara lirih.

__ADS_1


"Di sana."tunjuk Bastian pada meja yang tidak jauh dari Mauren.


Tak lama setelah Bastian duduk, pria itu mengeluarkan ponselnya dari satu celananya. dia baru masuk ingin mengirim pesan pada Mauren.


"Mauren, kita ngopi yuk?"


Mauren yang baru saja menyelesaikan makannya langsung mengambil ponselnya di dalam tas kecil yang ada di pangkuannya. dia langsung membuka pesan di aplikasi hijau dan membalas pesan itu.


"Ngopi? boleh juga, di mana Kak?


" Di cafe."


"Aku lagi di cafe Kak."


"Loh kok bisa sama, Kakak juga lagi di cafe."


"Oh ya, Kakak di cafe apa?"


"Cafe Kito Art."


Mauren terkejut membaca pesan terakhir dari Bastian. pasalnya dia juga berada di cafe Kito Art. Gadis itu lalu menoleh mencari keberadaan Bastian.


Kini gantian Mario yang menghafalkan telapak tangannya. dia cemburu melihat Bastian dan Maureen sama-sama memegang ponsel. Sudah bisa ditebak, yang mengirim pesan pada Mauren adalah Bastian.


Bastian melihat Mario menatap tajam ke arahnya. Nampak sekali pria itu marah terhadap Bastian.


"Maafkan aku Pak Mario, kali ini tidak mau mengalah lagi pada bapak. Aku tidak ingin kehilangan Mauren untuk ketiga."ucap Bastian dalam hati.


Mauren menoleh, mencari pria yang telah menitipkan hati padanya. senyum cerah langsung terpancar di wajah Mauren saat dia telah menemukan Bastian.


"Kak Bastian!"kangen Mauren melambai ke arah pria itu.


Bastian tersenyum mengangguk. tatapannya terputus saat seorang pelayan datang menghampiri mejanya. Bastian dan Herlan dalam memesan cemilan berupa kentang goreng dan lainnya


Mario yang tidak ingin melihat Bastian menjadi pusat perhatian Mauren, dia bergegas beranjak berdiri dari duduknya. baginya, tidak apa-apa dia tidak terlalu lama bersama Mauren, yang penting asal moral jangan terlalu lama berinteraksi dengan Bastian.


"Mauren, Kita pulang yuk!"ajak Mario. Dia ingin menjauhkan Mauren dari Bastian.


Mauren melihat ke arah jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. Ternyata sudah 1 jam dia berada di cafe itu. Mauren memutuskan menuruti ajakan Mario untuk pulang. Sebab Dia pamit ke mamanya hanya sebentar saja. Kalau terlalu lama pergi, Mauren takut Mamanya akan berpikir yang tidak tidak terhadapnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2