Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 176. BIMBIM CURHAT


__ADS_3

Di hotel, Bastian sudah siap dengan setelan celana jeans berwarna biru dan kaos oblong yang dipadukan dengan jaket berbahan jeans juga. Saat membuka pintu kamarnya, pria itu terkejut karena tiba-tiba aja Maya asistennya datang dengan membawa minuman di tangannya.


"Ada apa may? Kenapa kamu membawa saya minuman? perasaan saya tidak ada mesan minuman."tanya Bastian usai dia menutup pintu kamarnya.


"Eh Iya Pak, saya hanya mau membawakan saja. Siapa tahu malam ini Bapak mau minum kopi."sahut Maya salah tingkah.


"Kopinya buat kamu aja ya may. Kebetulan saya mau keluar."setelah itu Bastian melangkah meninggalkan Maya yang mimik wajahnya terlihat kecewa.


Bastian lalu memasuki lift. saat ini Maya menyebarkan langkahnya juga agar dia bisa masuk lift bersama Bastian, namun pintu lift itu keburukan tutup. Sebenarnya Bastian bisa saja menahan pintu lift itu, sebab dia tahu bahwa gadis yang ditinggalnya itu ingin masuk lift bersamanya. Namun, Bastian malas berduaan dengan wanita yang suka mencari perhatian seperti itu.


"Tumben Bimbim ngajakin nongkrong saat hari kerja gini, padahal biasanya kalau nongkrong di saat weekend saja."batin Bastian


Sekitar kurang lebih 20 menit kemudian, mobil Bastian akhirnya tiba di tempat parkir sebuah kafe, yang tidak begitu jauh dari hotelnya. Di tempat parkir itu sudah ada mobil Bimbim. pria itu datang beberapa menit lebih dulu dibandingkan Bastian.


Bastian langsung turun dari mobilnya dan melangkah ke arah pintu Cafe. Kebetulan malam ini pengunjung kafe tidak terlalu banyak, sehingga Bastian dengan mudah menemukan keberadaan Bimbim yang duduk di pojok sebelah kanan dekat jendela.


"Sudah lama Bim? sorry ya, aku datang telat."Bastian menarik kursi yang ada di seberang tempat Bimbim duduk.


Bimbim melihat ke arah jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. "aku baru 5 menit yang lalu duduk di sini. Tidak masalah, aku juga yang salah ngajak kamu nongkrong dadakan malam ini.


"Tumben kamu ngajakin nongkrong di hari kerja Bim? ada apa?"tanya Bastian, pikirannya langsung mengarah ke arah Mauren.


"lebih baik kamu pesan minum dulu Bastian!"Bimbim lalu memanggil pelayan Cafe. Bastian lalu memesan secangkir kopi late untuk menemani obrolan malam ini.


"Aku lagi suntuk banget Bastian. jengah dengan sikap Aulia."Bimbim mulai sesi curhatnya.


Kedua alis tebal Bastian saling bertaut. "Kalau boleh tahu, Memangnya ada apa dengan Aulia?"


"Dia sekarang sudah berubah banget.! tidak seperti dulu."


Bastian bergeming, menunggu Bimbim melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini Aulia sudah banyak permintaannya. Tadi sore dia minta dibelikan mobil. Kamu lihat sendiri kan saat di New Zealand kemarin, Berapa banyak barang yang dibelinya. Tidak seperti Mauren, belanja seperlunya saja."Bimbim mulai membandingkan Aulia dengan Mauren.


"Mungkin karena dia dari keluarga sederhana, makanya dia mau puas-puas belanja,"sahut Bastian usai menyesap kopi panasnya.


"Tapi mama Amor tidak seperti itu Bastian. Mama Amor juga berasal dari keluarga sederhana, tapi dia tidak seperti Aulia."sahut Bimbim.


"Beberapa bulan yang lalu Aulia tidak seperti ini. Saat di mall juga Dia jarang banget minta sesuatu. Malah kadang aku yang berinisiatif membelikannya barang."imbuh Bimbim


"Bisa saja kan itu karena dia masih jaga image. Kalau di awal-awal biasa cewek memang seperti itu, bikin pencitraan yang baik. kebanyakan kalau sudah nikah baru wanita memperlihatkan sifat aslinya. namun si Aulia ini dia terlalu cepat menunjukkan sifat aslinya. mungkin karena dia tahu kamu terlalu mencintainya. Jadi dia bisa berubah secepat itu."tutur Bastian.


"Jadi rencana kamu gimana Bim? tanya Bastian penasaran, hatinya mendadak cemas.


Bimbim menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Pria itu mendesah panjang. "Aku masih bingung Bastian. Di satu sisi aku masih mencintainya dan tidak tega untuk meninggalkannya. Namun , di satu sisi aku juga mulai dengan sikapnya.


Bastian bergeming, Sebenarnya dia ingin sekali bertanya Bagaimana posisi Mauren di hati Bimbim sekarang ini, tapi Bastian takut jika nanti jawaban Bimbim akan membuat dirinya terluka. Karena jujur dalam hatinya dia takut kalau gendut akan berbalik pada Mauren.


Setelah mengeluarkan segala unek-unek di kepalanya, Bimbim mengajak Bastian untuk pulang. kini kedua pemuda tampan itu sudah berada di area parkir Cafe.


"Terima kasih ya Bastian, Sudah menemani aku malam ini."ucap Bimbim sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Eh, tapi ngomong-ngomong dari dulu sampai sekarang, diet Kita nongkrong kamu tidak pernah membahas masalah cewek. Paling kamu membahas masalah sekolah, kuliah, dan pekerjaan saja."


Bastian menggaruk belakang kepalanya. "Cewek? Kamu kan tahu sendiri aku belum pernah pacaran. Jadi, apa yang mau dibahas?


"Ya... siapa tahu aja ada cewek yang kamu suka."


Bastian lalu menepuk pundak Bimbim. "sudah dulu ya Bim, Aku mau pulang dulu, mau istirahat."Bastian menghindar dari pertanyaan Bimbim. Pria itu langsung melangkah menuju mobilnya.


Sesampainya di teras rumah, Bimbim langsung meninggikan bel. Saat ini waktu menunjukkan jam 10.00 malam. Asisten rumah tangga yang sengaja tidur di sofa ruang tamu itu langsung terbangun dan membukakan pintu rumah utama.


"Maaf ya mbok, aku mengganggu tidur mbok."

__ADS_1


"Tidak apa-apa tuan. Ini sudah bagian dari tugas saya."


"Mbok, Sejak saya keluar rumah apa istri saya ada turun?"


"Tidak ada Tuan, sepertinya Nyonya di dalam kamar saja sehabis makan malam bersama Tuan."


"Ya sudah, sekarang mbok lanjut istirahat di kamar."


"Baik Tuan


lalu menaiki tangga dengan setengah berlari. di depan pintu kamar utama, pria itu menghentikan langkahnya. Perlahan tangan dinding ingin memutar handle pintu itu. namun dia urungkan. Tapi sedetik kemudian, pria itu kembali mengarahkan tangannya ke handle pintu.


Klek ..


Klek..


Dua kali Bimbim memutar handle pintu kamar istrinya, ternyata pintu itu dikunci oleh istrinya.


"Apa dia sudah tidur ya?"tanya Bimbim dalam hati.


Sementara di tempat lain, tepatnya di hotel, saat masuk ke lobby Bastian bertemu kembali dengan Maya. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Bastian.


"Selamat malam Pak Bastian. Apa Pak Bastian mau saya ambilkan makanan?"


"Malam. terima kasih, Saya sudah kenyang. kamu kenapa belum pulang?"


"Saya mau menunggu Pak Bastian pulang dulu, Siapa tahu bapak nanti membutuhkan bantuan saya."


"Kalau sudah malam seperti ini saya tidak membutuhkan bantuan kamu, karena saya tidak mengurus pekerjaan kalau sudah malam. Jadi sebaiknya, mulai besok kamu tidak usah bekerja sampai di sini banyak pelayan hotel yang akan menyediakan keperluan makanan dan minuman saya."


"Iya, Pak "Maya mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu Bastian melangkah ke arah lift. sedangkan Maya melangkah ke arah meja resepsionis.


BERSAMBUNG...


__ADS_2