Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 158. MARIO KECELAKAAN


__ADS_3

Nampak Bimbim duduk sambil menundukkan kepalanya, tangan kanan pria itu memijat-mijat pelipisnya. Kini selain menanggung beban pada Aulia, dia juga menanggung beban keluarganya.


Di tengah-tengah kegamangannya, ponsel yang ada di saku celana Bimbim berbunyi, sebuah notifikasi pesan. Bimbim lalu mengambil ponselnya, dilihatnya nama si pengirim pesan dari Aulia.


"Sayang, malam ini jam berapa kamu jemput aku buat datang ke acara resepsi pernikahan Mauren?"


Setelah membaca pesan itu, Bimbim meletakkan ponselnya di kursi, samping tempatnya duduk. pria itu langsung menangkup kepalanya dengan tangan yang dianggarkan di atas pahanya. Rasanya mau pecah saja kepalanya, menghadapi masalah yang terjadi hari ini.


"Kenapa Bim?"tanya Bastian.


"Aulia Bastian, dia minta dijemput malam ini untuk menghadiri acara resepsi Mauren."


Bastian menepuk baru sahabatnya. "Aku harap kamu bisa bersikap dewasa dan bijaksana Bim."


***


Beberapa jam kemudian, Mario mulai menggerakkan kelopak matanya. Mata lelaki itu perlahan terbuka. Matanya memindai seluruh ruangan. dia tahu bahwa dirinya sekarang sedang berada di rumah sakit.


"Mauren... ponsel aku mana? Aku mau menghubungi Mauren."Mario menanyakan ponselnya pada ayahnya.


Karena Dia teringat dengan niatnya tadi pagi, ya itu ingin pergi ke rumah Mauren untuk melaksanakan acara akad nikah. Mario panik, dia ingin tahu bagaimana keadaan calon istrinya sekarang.


Mendengar Mario mencari ponselnya, Ayah Mario mengambil kantong plastik berwarna hitam yang berisi ponsel Mario.


"Ponsel yang kamu letakkan di dashboard mobil itu rusak nak,"ucap ayahnya Mario saat menyerahkan kantong plastik tersebut.


Mario langsung mengambil kantong plastik itu, dan mengeluarkannya dari kantong plastik itu. Dilihatnya layar ponselnya sudah pecah, pria itu menekan tombol power pada ponselnya tapi ponsel itu tidak bisa dihidupkan.


Di luar ruang UGD nampak seorang gadis masuk. "Kak! adiknya Mario masuk ke dalam ruang UGD Mario. perhatian ayahnya Mario dan Mario beralih ke arah adiknya.


"Kak, baca ini,"adiknya Mario menyerahkan ponselnya pada Mario


Mario membaca beberapa pesan yang dikirim oleh Mauren beberapa jam yang lalu.


Banyak pesan yang dikirimkan oleh Mauren kepada Mario dan juga adiknya.


"Waktu kejadian tadi pagi, ponsel aku mati Kak, karena saat itu aku lagi main ponsel. ponselnya ikut terlempar. Untung saja masih bisa dihidupkan,"ucap gadis itu yang terlihat kepalanya masih diperban.


Mario lalu menghubungi Mauren menggunakan ponsel adiknya, panggilan itu langsung diterima oleh Mauren.

__ADS_1


"Assalamualaikum."mau mengucap salam dari seberang telepon.


"Waalaikumsalam sayang, ini aku. Ponsel aku rusak. Tadi pagi aku mendapat kecelakaan. dan ini sekarang lagi di rumah sakit."tutur Mario.


"Ja...Jadi kak Mario nggak datang tadi pagi karena kecelakaan?"tanya Mauren lirih


"Iya sayang. Nanti kalau aku sudah boleh pulang, kita lanjutin acara nikahnya ya sayang. Masih ada beberapa jam lagi sebelum resepsi nanti malam."


"Tapi kak...


"Tapi apa sayang?"


Maureen tidak sanggup untuk bicara. Gadis itu menangis terisak. perasaan Mario menjadi tidak enak. dia masih ingat pesan ketiga yang baru saja dibacanya di ponsel adiknya.


"Sayang kenapa menangis? Ada apa? katakan Ada apa sayang!"cecar Mario, pertanyaan yang mulai mendesak.


"Kak, aku.... aku sudah nikah sama Bimbim Kak."Mauren menangis tergugu.


"Me... menikah? Kenapa Mauren? kenapa? Kenapa semudah itu kamu nikah dengan orang lain? Kenapa kamu tidak menunggu kakak?"cecar Mario


"Aku terpaksa Kak. kakek aku nggak mau pernikahan ditunda atau dibatalkan.Jadi, Bimbim yang disuruh menggantikan kakak."sahut Mauren dalam Isak tangisnya.


Mario mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia sangat kecewa sekali terhadap Mauren sekeluarga


"Kak, Jadi benar Mauren sudah menikah?"


"Iya,"sahutnya dengan suara lirih, mata pria itu sudah terlihat berkaca-kaca menahan tangis.


Ayahnya Mario mengusap pundak anaknya. "Kamu yang sabar ya nak, kuatkan hatimu. itu artinya kamu memang tidak jodoh dengannya. Ayah juga marah terhadap keputusan sepihak yang diambil oleh keluarga Mauren. Tapi mau gimana lagi, percuma ke sana. Tidak akan merubah keadaan. mungkin karena keluarga besar kita juga tidak ada yang hadir di rumah Mauren, makanya mereka menganggap kita main-main."ucap pria paruh baya itu. dia lalu teringat perdebatannya dua minggu yang lalu dengan keluarga besarnya.


"Lihat ini! kakek Mario menyerahkan sebuah kertas berupa kopi akta kelahiran milik Mauren pada Papanya Mario.


Pria paruh baya itu melihat kertas yang bertuliskan tinta hitam itu. Namun, dia tidak terkejut lagi. Sebab sebelumnya Mario sudah pernah cerita mengenai asal-usul Mauren.


"Batalkan pernikahan cucuku dengan gadis itu!"perintah kakeknya Mario.


"Tidak bisa Pa, Mario sudah melamarnya. dua minggu lagi mereka akan nikah. Mario dan Mauren sama-sama saling mencintai. mereka sudah menjalin hubungan satu setengah tahun ."


"Tapi papa dan saudara-saudara kamu tidak ada yang setuju kalau Mario menikah dengan anak diluar."

__ADS_1


"Kenapa Pa? Gadis itu tidak bersalah. Papa jangan sangkut pautkan kesalahan orang tuanya di masa lalu dengan gadis itu. Ini tidak adil pa. lagi pula itu hanya sebuah cerita masa lalu orang tuanya saja. dan mereka juga sudah bertobat."


"Terserah, Jika kamu masih keras ingin menikahkan Mario dengan gadis itu. tapi jangan harap kami akan hadir ke acara pernikahan ataupun resepsi Mario."tegas kakeknya Mario.


****


Setelah sambungan telepon diputus oleh Mario. Hati gadis itu semakin hancur. pintu kamar Maureen yang tidak tertutup rapat itu membuat dinding tidak sengaja mendengar obrolan Mauren dengan Mario.


Tok tok tok...


Mauren buru-buru mengusap air mata.


"Aku masuk ya Mauren? ucap Bimbim meminta izin saat akan masuk ke dalam kamar istrinya.


Mauren mengangguk. Bimbim selalu melangkah masuk ke dalam kamar Mauren sambil menjerat kopernya. Ya, pria itu baru saja pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa potong pakaiannya. karena malam ini dia dan Mauren akan menginap di hotel.


"Mauren kamu nggak apa-apa kan?


"Nggak apa-apa gimana Bim, kamu pasti belum tahu kan kalau Kak Mario kecelakaan?"


"Yang bener Mauren, terus gimana keadaan pak Mario sekarang?"


"Sepertinya dia tidak terluka parah, sebab masih bisa teleponan sama aku. hanya saja dia marah sama aku Bim, karena menikah dengan kamu tanpa menunggu kabar darinya.


Bimbim bergeming. dia tidak tahu mau berkata apa. Biar bagaimanapun dia juga sudah terlibat lebih dalam terhadap hubungan Mauren dan Mario.


Kring...


Panggilan masuk ke ponsel Bimbim. ternyata Aulia yang menghubungi pria itu. Bimbim lalu melangkah menuju balkon kamar Maureen, sebab pria itu tidak enak jika obrolannya kedengaran pihak keluarga Mauren.


"Halo sayang," Sapa Bimbim.


"Halo Bim, Nanti malam kita jadi berangkat kan?"


"Uhuk uhuk...."Bimbim berpura-pura batuk. "sepertinya aku nggak bisa Sayang. aku lagi nggak enak badan."Kilah Bimbim. bagi Bimbim sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Aulia keadaan yang sebenarnya. rencananya dia akan memberitahu Aulia saat esok hari saja.


"Ya udah deh, kalau gitu kita sama-sama nggak usah ke sana saja."


"Iya sayang."sahut Bimbim.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2