
Sejak resmi bercerai dengan Mauren, Bimbim lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja. Bimbim juga sekarang lebih sering menginap di rumah orang tuanya dibanding tidur di rumahnya sendiri. Sebab Bimbim kalau berada di kamar utama, dia kesulitan untuk tidur. Karena di matanya masih ada bayang-bayang Mauren di kamar itu.
Fernando yang mengetahui putranya sudah putus dari Aulia, dia masih mengawasi putranya. Pria itu hanya ingin berjaga-jaga saja, takut kalau Bimbim kembali lagi dengan Aulia setelah gagal rujuk dengan Mauren. Jadi, sebelum itu terjadi, dia bisa mengambil tindakan tugas lebih awal pada Bimbim
Entah mengapa, itu semakin khawatir akan putranya. Sepertinya pria itu sudah melihat, kalau putranya sudah mulai menyukai Mauren paskah perpisahan itu terjadi. Tapi, apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Bimbim sudah bercerai dari Mauren, pernikahan singkat tetapi masih mengisahkan memori yang begitu dalam untuk Bimbim.
"Bim, mulai hari ini uang kamu Papa pulihkan seperti semula. Tapi ingat, kalau nanti kamu bagikan dengan gadis itu, papa akan stop uang belanja kamu."
"Terima kasih Pa."ucap Bimbim sambil tersenyum. Bagaimana tidak, saat keuangannya dibatasi oleh Fernando, dia sudah tidak bisa hangout bareng lagi dengan teman-temannya. Padahal, biasanya dirinya sering nongkrong dan ngopi bareng dengan teman-temannya untuk sekedar menghilangkan dahaga setelah 1 harian bekerja.
"Sekali lagi terima kasih ya Pa. Aku tidak akan pernah kembali pada wanita itu lagi. ucapan papah benar, dia memang wanita yang gila harta."ucap Bimbim kepada Fernando.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah sadar, jujur Papa sangat kesal kepada wanita itu. Banyak wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, contohnya Mama Amor. Dia tidak pernah memandang harta apa-apa. Tapi wanita yang satu itu, memang wanita yang tidak tahu diri. membuat Papa jengah melihatnya."ucap Fernando kepada Bimbim.
Bimbim hanya menganggukkan kepalanya. dia menyadari Ternyata apa yang dikatakan apanya dulu benar adanya.
***
Beberapa bulan sudah berlalu, kebetulan hari ini hari Minggu. Kini giliran Mauren pergi ke toko milik Nyonya Alena. wanita itu ditugaskan Omanya untuk mengontrol beberapa cabang yang terbesar di kota ini.
Nyonya Alena sekarang sudah sangat jarang sekali ke toko miliknya. Jadi, Mia dan maureen lah yang disuruh mengelola usaha di toko miliknya secara bergantian.
Setelah selesai meninjau beberapa cabang, Mauren kembali ke toko utama. Toko yang pertama kali dibangun oleh Nyonya Alena.
Di dalam ruang pribadi Nyonya Alena, Mauren ini istirahat di sana sebentar. Sebab Gadis itu merasa lelah setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam meninjau beberapa toko.
Sekitar jam 04.00 sore, Mauren keluar dari ruangan Omanya. Dia memeriksa seluruh toko, satu persatu ia perhatikan dan tak ada Yang terlewatkan.
Kini perut Mauren terasa sangat lapar. saat pulang dari cabang toko, wanita itu belum makan siang. Selama 2 jam dia hanya tidur saja di ruangan Omanya.
Tiba-tiba terlihat Bastian membuka toko yang terbuat dari kaca. Pria itu masuk begitu saja tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. sehingga dia tidak melihat keberadaan Mauren di sana.
Tak berselang lama, seorang gadis cantik juga masuk ke dalam toko itu. Gadis itu terlihat mengajak Bastian mengobrol sebentar sambil melempar senyum ke arah Bastian.
__ADS_1
Mauren juga melihat gadis itu mengambil tangan kanan Bastian. karena posisi Mauren yang duduk di polling pojok, kedua pengunjung itu belum sadar akan keberadaan Mauren di tempat itu.
Awalnya Mauren berniat ingin menyapa Bastian. Wanita itu lebih dulu memanggil Bastian. Mauren pun mengurungkan niatnya. dia hanya melihat ke arah keduanya yang sepertinya mulai akrab.
"Kak, Aku mau minta nomor ponsel kakak."gadis cantik itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Kalau sudah seperti itu, Bastian tidak enak kalau tidak memberikan nomornya pada wanita itu yang merupakan adik dari pak Mario.
Dengan semangat wanita itu mengetuk nomor ponsel yang disebutkan oleh Bastian. dia Lalu menghubungi nomor itu. Ponsel Bastian langsung berbunyi.
"Kak, jangan lupa simpan nomor aku ya!"wanita itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Bastian hanya mengangguk.
Percakapan dan interaksi keduanya didengar dan disaksikan oleh Mauren yang duduk di pojok ruangan. nampak mata Gadis itu menatap tajam ke arah Bastian dan wanita itu.
nampak seorang karyawan yang menjabat sebagai kasir meletakkan pesanan milik Moresette di atas meja. "Pak Bastian, Ini pesanan Nyonya Moresette."ucap sang kasir pada Bastian
Bastian mengalihkan pandangannya dari adiknya Mario yang sejak tadi tak henti-hentinya mengajaknya ngobrol.
"Berapa semuanya Mbak?"tangannya meraih aku belakang celana untuk mengeluarkan dompetnya.
Bastian menyerahkan beberapa lembar. uang kertas kepada sang kasir. konser itu lalu menyerahkan kembaliannya pada Bastian beserta dengan nota pembelian. mengambil dua kantong plastik yang diserahkan oleh sang kasir dan bersiap untuk pulang.
"Kenapa nggak bareng saja, kak?"aku cuman sebentar saja kok."adiknya Mario mencegat alangkah Bastian yang ingin keluar dari toko.
Bastian menghela nafas, dia sebenarnya males banget terlalu lama mengobrol dengan wanita itu. Pria itu mencoba mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Bastian tersentak, dia melihat ada orang yang duduk di pojok ruangan. Bastian tidak merespon perkataan wanita itu. Dia pun melangkah ke arah Mauren, meninggalkan wanita itu tanpa pamit lebih dulu. wanita itu yang melihat Mauren ada di pojok ruangan langsung menghentakkan kakinya di atas lantai keramik.
"Baru saja aku bahagia dapat berkomunikasi dan mendapatkan nomor ponsel milik Kak Bastian, kini sudah muncul Mauren sebagai pengganggu."keluh wanita itu di dalam hati sambil menatap mau orang dengan tatapan tajam.
Mauren yang melihat Bastian berjalan menghampirinya langsung mengalihkan badannya ke arah lain.
"Mauren, ternyata kamu ada di sini juga? Kenapa kamu tidak memanggil waktu kakak baru saja datang?"Bastian bertanya sambil duduk di kursi dekat Mauren.
"Malas aku manggil. kakak kan lagi asik ngobrol, ngapain juga aku memanggil kakak?
"Kenapa, Maureen? panggil saja, nggak apa-apa kok."
__ADS_1
"Enggak ah, takut mengganggu."
"Mengganggu apa, kami cuman ngobrol biasa? Kakak juga ngobrol sembari menunggu pesanan dibungkus."ucap Bastian.
Adiknya Mario yang sudah selesai membeli sesuatu dia bergegas menghampiri Bastian yang sedang memegang tangan Mauren. dipikiran wanita itu saat ini membenarkan ucapan kakaknya yang mengatakan bahwa Bastian menyukai Mauren.
"Kak, lepas! malu dilihat orang."Mauren tidak enak pada adiknya Mario. sebab Beberapa bulan yang lalu dia baru saja menolak niat baik Mario.
"Malu kenapa. Mauren? bukankah kamu sudah tidak terikat dengan siapa-siapa?"Bastian mengusap telapak tangan Mauren.
"Kak Bastian, ayo kita pulang! aku sudah selesai belanja."adiknya Mario ingin agar Bastian segera keluar dari toko. sebab Dia tidak suka cowok yang ditaksirnya dekat dengan Mauren.
"Kalau kamu mau pulang, ya pulang aja duluan, saya masih mau di sini. Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan berdua dengan Mauren."Bastian sengaja berkata seperti itu. sebab dia takut kalau wanita itu ikut Duduk juga di kursi yang ada di sampingnya.
Mendengar itu, adiknya Mario tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis itu terpaksa mengayunkan langkahnya ke arah pintu keluar. "Kak Bastian! Nanti malam aku akan hubungi kakak."ucap wanita itu saat dia sudah berada di depan pintu kaca.
"Kakak mau ngomong apa sama aku?"tanya Mauren.
"Mauren, malam ini ada acara makan malam di rumah orang tua aku. semua sahabat Papa dan Mama beserta anak-anak akan datang. kamu juga datang kan?"
Maureen sebelumnya memang sebelum diberitahukan oleh orang tuanya mengenai acara nanti malam.
"Malam ini kak? Papa dan Mama belum ada cerita?"
"Iya, kamu harus datang ya! pokoknya Kakak tungguin kamu."
"Tapi, Kak. aku belum tahu, bisa apa enggaknya.
"Diusahakan ya, Mauren."Bastian beranjak berdiri dari duduknya.
"Mauren, Kakak pulang dulu ya."pamit Bastian pada Gadis itu sebelum dia melangkah ke arah pintu.
bersambung...
__ADS_1