
Beberapa minggu kemudian, dekor pelaminan di rumah Cornel sudah sembilan puluh persen rampung. Seminggu menjelang acara pernikahannya, corner lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang gym yang ada di salah satu ruangan lantai atas rumahnya.
Hingga hari ini pun Cornel masih saja berolahraga di ruangan itu. dia ingin berlatih otot tangan dan kakinya agar tidak kaku.
Cornel betul-betul menjaga staminanya agar pada hari hanya nanti dia betul-betul bisa sukses membobol gawang lawannya. ini yang kedua kalinya corner membobol gawang lawan.
Dia masih ingat dulu waktu malam pertama dengan Cynthia, adik kecilnya tidak sanggup untuk membobol gawang lawan di babak pertama. sungguh sesuatu yang memalukan menurutnya. Makanya sekarang cornel tidak ingin kejadian seperti itu terulang kembali. itulah sebabnya Kornel rutin berolahraga selama seminggu ini.
Di sebuah rumah berlantai dua, Cynthia berjalan mondar-mandir seperti setrika. suaminya yang sedang duduk di kursi roda itu dari tadi menatap karena istrinya dengan keheranan.
"Kamu kenapa sih, dari tadi aku lihat mondar-mandir terus, seperti orang sedang gelisah saja."tanya suami Cynthia.
Cynthia yang ditanya seperti itu menjadi salah tingkah. "Aku sedang memikirkan Bagaimana caranya mengambil Bastian dari Cornel."
"Kamu mau bawa anak itu ke sini?!!" pria itu menunjukkan wajah ketidaksukaannya.
"Memangnya kenapa mas? Kamu nggak suka? kita sudah tidak punya anak lagi. Kamu juga sudah tidak bisa bikin aku hamil."
Cynthia lalu berjalan keluar kamar.
Brak !
Cynthia menutup pintu kamar dengan kasar. wanita itu kini duduk termenung di ujung sofa ruang tengah. Dia sudah mendengar kabar dari temannya, bahwa besok pagi di rumah Cornel akan digelar akad nikah dan malam harinya akan digelar acara resepsi di rumah itu juga.
Pukul Enam mobil corner terparkir di sebuah gang kecil dan sempit. Pria itu terpaksa meninggalkan mobilnya di sana sebab jalan masuk menuju rumah Moresette tidak cukup untuk ukuran mobilnya.
Moresette yang sebelumnya sudah ditelepon oleh Cornel saat lelaki itu masih di perjalanan, kini sudah duduk di teras dengan sebuah koper yang dia letakkan di samping kiri kursi teras.
Rencananya Moresette dibawa oleh corner lebih dulu ke rumahnya, sebab wanita itu harus make up jam setengah tujuh pagi. setelah berpamitan dengan kedua orang tua Moresette, Cornel langsung membawa koper calon istrinya itu.
__ADS_1
Di perjalanan, Cornel selalu memandang tangan Moresette, kadang sesekali pria itu mencium tangan calon istrinya.
"Mas, lepasin. Nanti kamu malah nggak bisa konsentrasi nyetir." Moresette menarik tangan kanannya.
****
Jam sembilan, Cornel dan Moresette sudah duduk di depan sebuah meja kecil. di seberang meja itu ada papanya Moresette yang akan menjadi wali nikah putrinya. di sebelah Papanya, ada papan hulu yang sudah siap untuk memimpin jalannya acara ijab kabul tersebut.
Tak ketinggalan, sahabat-sahabat Cornel dan juga Moresette juga menempati duduk di depan sana. terutama Afrian yang kebetulan tempat duduknya hanya berjarak satu meter dari mempelai pria. Jadi di antara para sahabat itu, Afrian lah yang posisinya paling dekat dengan cornel.
Pak penghulu lalu memerintahkan pada cornel dan Papanya Moresette untuk saling menjabat tangan. suasana di ruangan itu mendadak hening menegangkan. karena puncak acara pada pagi hari ini sebentar lagi akan segera dimulai.
Cornel sedikit menegakkan duduknya. Terlihat sekali kalau dia saat ini sedang tegang. walaupun ini bukan pengalaman pertama dia mengucapkan akad, namun tetap saja rasa gugup dan hawa dengan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kini keduanya sudah bersiap untuk mengucap kalimat ijab Kabul.
"Saudara Cornel Aroon bin Chai Aroon , saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Putri kandung saya yang bernama Moresette Amon binti Paitoon dengan mas kawin berupa satu set perhiasan berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."Papanya Moresette mengucap ijab. yang langsung disambut oleh Cornel dengan kalimat Kabul.
"Bagaimana para saksi? Sah???
"Sah!!
"Sah."
Sahut seluruh transaksi dan tamu undangan yang ada di sana.
"Alhamdulillah!! ucap Cornel kencang, ke teras depan. akhirnya dia sudah bisa menghalalkan Moresette. tinggal mengeksekusinya saja malam ini, niatnya dalam hati.
Cynthia yang memarkirkan mobilnya di sisi jalan komplek perumahan sejak 15 menit yang lalu itu mendengar jelas teriakan kata sa dari orang-orang di dalam sana. mata wanita itu tampak.
__ADS_1
Dulu dia dijadikan ratu oleh Cornel di rumah itu, namun sekarang sudah ada wanita lain yang Duduk di singgasana dalam rumah Cornel. lumayan lama Cynthia menatap rumah kenangannya bersama Cornel.
Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam, saat dia dan Cornel baru saja pulang dari dokter kandungan. Kornel berjalan selalu merangkulnya, bahkan seringkali pria itu membopongnya hingga sampai di kamarnya lantai atas.b
Sungguh bodohnya sekali dia waktu itu, tergoda oleh ketampanan dan kekayaan pria lain. Maklum saja, dulu Cornel belum begitu kaya seperti sekarang ini.
Tak ingin larut dalam kesedihan yang mendalam, wanita itu lalu menghidupkan mesin mobilnya kembali. Dan kemudian berlalu dari tempat itu.
Di dalam rumah, setelah akad nikah selesai, keluarga Moresette dan keluarga corner pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. sebab malam ini mereka akan hadir kembali ke acara resepsi yang akan digelar di kediaman Cornel.
Karena keterbatasan tempat, dan tak sesuai dengan permintaan sang istri, kamu yang hadir malam ini hanya beberapa ratus orang saja. maka dari itulah hanya keluarga, sahabat dan orang-orang tertentu saja yang diundang oleh Cornel dan Moresette.
Richard menghampiri Dora. Yang saat ini tersenyum menatap sahabatnya.
"Sayang lebih baik kamu istirahat."ujar Richard karena dirinya tidak mau istrinya terlalu kelelahan. Dia tahu kondisi kandungan istrinya sudah tinggal menunggu hari untuk melakukan persalinan.
"lihat deh Mas, Kak Cornel dan Moresette serasi banget ya. Mungkin Moresette mantan istrinya Kak Cornel, meninggalkan Kak Cornel, karena Allah sudah mempersiapkan jodoh terbaik untuk Kak Cornel. Semua kejadian ada hikmahnya."ucap Dora kepada sang suami.
"Orang baik, akan dipertemukan dengan orang baik juga. Aku yakin, Moresette wanita yang tepat untuk mama sambung Bastian dan istri untuk sahabatku Cornel."sahut Richard kepada sang istri.
"Iya Mas, aku juga percaya itu. Sama kak Fernando, dulu Risma menolaknya mungkin karena Allah mengetahui kalau Risma tidak pantas untuk Kak Fernando. karena Kak Fernando itu baik."sahut Dora.
Richard mengembangkan senyumnya, kemudian ia meraih istrinya kepelukannya. "Sama seperti kita sayang, Mas sabar menanti kepulanganmu dari California. karena Allah sudah mempersiapkan mu menjadi jodoh Mas."ucap Richard sambil memberikan kecupan hangat di kening sang istri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN