Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 46. MENCARI RUMAH BARU


__ADS_3

Richard yang ingin melangkah ke arah kamarnya, perhatiannya teralihkan saat melihat pintu kamar Maureen terbuka. Pria itu menghentikan langkahnya di depan pintu kamar itu, dilihatnya putrinya sedang membuka album foto Mamanya.


Richard pun melangkah masuk ke dalam kamar putrinya, dan duduk di sebelahnya.


pria itu lalu menunduk mensejajarkan kepalanya dengan kepala putrinya.


"Ada apa Sayang?" tanya Richard saat melihat putrinya menatap lekat foto Mamanya.


"Pa, Apa benar ini mamanya Mauren?


"Iya sayang, ini mama kamu."


"Kenapa Tante yang di ponsel tadi bilang dia Mamanya Maureen juga pa?


"Iya, itu Mamanya Mauren. Mama Mauren yang di foto ini, sama dengan mama Mauren yang di ponsel tadi sayang."


"Tapi rambut Mama Maureen yang difoto ini tidak sama papa."


"Yang ini foto mama Mauren waktu masih muda, rambutnya masih lurus dan berwarna hitam. Kalau yang tadi rambutnya Mama Maureen sudah diwarnai." ucap Richard memberitahu


"Jadi, tadi itu Mamanya Mauren Pa?"


"Iya sayang."


"Mama kapan pulang pa? kata tante yang tadi di restoran itu bilang katanya Mama sebentar lagi akan pulang.


"Iya sayang, satu bulan lagi Mama akan pulang."


"Satu bulan itu masih lama ya pa?


"Enggak, sebentar lagi. Ayo Mauren ganti baju dan cuci kaki dul, setelah itu Mauren bobok siang ya."


"Iya Papa."


Setelah menidurkan putrinya Richard, lalu keluar dari kamar itu dia melangkah menuju kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan putrinya.


Di dalam kamarnya, Richard mengingat saat tadi dia melihat Dora kembali. Terlihat sudut bibir pria itu ditarik ke atas saat membayangkan kembali wajah Dora.


"Setelah lima tahun, aku tidak melihatmu sekarang kamu semakin cantik Dora. Putrimu saja tidak mengenalmu. Karena kamu memang benar-benar berubah. Apakah aku masih pantas berharap? ucap Richard dalam hati.


Sementara di sebuah apartemen mewah tepatnya di kota San Diego California, Dora tidak bisa konsentrasi membuat desain baju. Terlihat beberapa kertas yang sudah diremasnya berserakan di lantai kamarnya.

__ADS_1


Pikirannya Kini dipenuhi dengan putrinya. Dia takut saat pulang nanti, putrinya akan menolaknya. Kalau dia tahu akan seperti ini, pasti dia akan memaksa Nyonya Nadia ikut tinggal bersamanya ke San Diego dan bisa menjaga putrinya.


Terlintas juga wajah pria yang selama ini ia benci. Tampak dua jari memijit kepalanya. wanita itu lagi-lagi mencoret kertas desain yang sudah hampir rampung itu, diremasnya kembali. Kertas itu lalu membuangnya ke sembarangan arah.


Keesokan harinya, Richard meminta asistennya untuk mencarinya sebuah rumah mewah. Karena rencananya dalam waktu dekat ini, dia dan Mauren Akan hidup berdua dalam hati kecilnya dia berharap saat Dora pulang nanti, wanita itu mau diajak untuk menikah dan tinggal bersama dengannya dan Mauren di rumah itu.


Suara ketukan pintu ruangan Richard.


"Masuk!" teriak Richard dari dalam ruang kerjanya.


Sang asisten lalu membuka pintu ruangan itu sambil membawa sebuah brosur perumahan.


Richard selalu membuka browser itu. kening Richard langsung berkerut. "Ini kan perumahan Fernando?"


"Tuan kenal dengan pemilik perumahan itu?


"Iya ,dia sahabatku. Aku baru tahu dia juga membangun perumahan mewah. Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang mengurusnya." ucap Richard


"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit kembali ke ruangan saya."


Richard mengangguk. "Sebentar lagi aku akan ke sekolah menjemput Mauren mungkin habis makan siang aku baru akan kembali."


"Baik Tuan."


Di sana juga sudah hadir Fernando dan cornel yang akan menjemput Bimbim dan juga Bastian. Richard yang sudah turun dari mobilnya itu langsung menghampiri kedua sahabatnya.


"Tumben kamu baru datang? ucap Cornel.


"Lagi banyak kerjaan."


"Oh iya, do. Perumahan mewah yang baru kamu bangun itu sudah ada yang selesai nggak?" tanya Richard.


"Ada beberapa unit, kamu mau??


"Iya, aku mau."


"Wah ada apa nih, Kamu tiba-tiba ingin memisahkan diri dari orang tua ?" tanya Cornel curiga.


"Tidak apa-apa, aku cuman mau mandiri saja." sahut Richard.


Tet Tet tet...

__ADS_1


Bel pulang sekolah berbunyi. Terlihat anak-anak berlarian keluar gerbang sekolah menghampiri orang tua masing-masing. Dari kejauhan Bimbim dan Bastian jalan beriringan.


"Anakmu mana Richard? biasanya dia keluar kelas, bareng dengan Bimbim?" tanya Fernando.


"Belum sempat Richard menjawab, terlihat seorang wanita cantik sedang berjalan menggendong Mauren.


"Bu, turunin Mauren. Mauren mau jalan sama Bimbim."Pinta Mauren namun ibu guru itu tidak mendengarkannya.


Richard yang melihat anaknya dari kejauhan itu langsung khawatir, karena melihat Mauren digendong oleh ibu gurunya. Dia khawatir anaknya sakit atau terluka sehingga digendong oleh gurunya.


"Saat sudah berjarak dua meter, Richard pun maju menghampiri ibu guru cantik yang menggendong putrinya itu.


"Mauren Kenapa Bu? apa dia sakit?" tanya Richard khawatir


"Enggak Pak, saya cuman kasihan saja melihat dia berjalan dari kelas ke sini. Karena jaraknya lumayan jauh." ucap bu guru itu beralasan.


"Papa! Mauren langsung memegang tangan Papanya usai Dia turun dari gendongan ibu guru Rani.


"Terima kasih ya,Bu. sudah mengantarkan Mauren ke sini."


Rani langsung tersenyum manis. " Iya Pak, sama-sama. Kalau begitu, saya pamit mau kembali ke dalam Pak."


Richard hanya mengangguk.


setelah Ibu Rani kembali masuk ke dalam gerbang sekolah, Fernando dan Cornel langsung menghampiri Richard.


"Sepertinya Ibu Rani menyukai Papanya Mauren." ucap Cornel sambil menepuk pundaknya Richard.


"Iya, dia cantik sangat cocok dengan papanya Mauren." Fernando ikut menimpali.


"Buat kalian saja, aku akan tetap menunggu mamanya Mauren."


"Buat kamu saja Cornel, aku belum bisa move on dari mamanya Bimbim."


"Nggak ah, dia kan sukanya sama Richard bukan sama aku." sahut Cornel.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2