Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 228. KEJUTAN


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Bastian beringsut menuruni ranjang. Dia menggendong istrinya ke kamar mandi. Sembari menunggu istrinya selesai membersihkan diri, Bastian ingin merapikan pemberiannya. Sudut bibirnya kembali terangkat ke atas saat dia melihat bercak noda darah yang sudah mengering pada sprei putih itu. Ada sesuatu kebanggaan dalam dirinya, karena dia yang pertama untuk Mauren, bukan Bimbim. Sprei itu Bastian lipat dan dia simpan untuk Jadi kenangan terindah.


Pagi harinya, suara deringan ponsel milik Bastian membangunkan pria itu. Bastian melepaskan pelukannya pada istrinya. tangan kanannya meraih ponsel yang ada di atas nakas.


"Assalamualaikum, Pa."Bastian menyapa Papanya dengan suara sedikit serak.


"Kamu baru bangun, Bastian?"


"Iya, Pa."


"Satu jam lagi kami tunggu kalian di restoran. kita sarapan bersama. Karena papa dan mertua kamu mau pulang ke rumah."


Setelah sambungan telepon terputus Bastian menghadap ke arah istrinya yang masih tertidur pulas. Tangannya merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya. Rambut panjang itu dia selipkan di belakang daun telinga wanitanya. Bastian tersenyum mengingat momen indah tadi malam yang dilewati bersama istrinya.


Tepat jam 08.00 pagi, orang tua Bastian dan orang tua Mauren sudah duduk di restoran hotel. Di sana juga ada Laura dan juga Andika. Berbagai macam makanan sudah tersaji di atas meja makan.


"Pa, Masih lama nggak Kak Bastian nya?"tanya Laura yang merasakan perutnya lapar dari tadi.


"Mungkin sebentar lagi. sabar ya, nak."


"Itu Kak Mauren datang,"ucap Andika.


"Kaki kakak kenapa, Ma? Kenapa jalannya Kakak seperti itu?"imbuh Andika bertanya pada Dora.


Satu jam sebelumnya, tidur mau orang terganggu dengan gerakan jari tangan Bastian pada bagian bawahnya. perlahan data yang memiliki bulu mata yang lentik itu terbuka. Mauren melihat suaminya sedang tersenyum ke arahnya.


"Mas."


"Selamat pagi istriku yang cantik."Bastian mengejutkan yang istrinya.


"Ayo sayang kita mandi, satu jam lagi orang tua kita menunggu di restoran."


"Iya, Mas."Mauren beranjak ingin bangun.

__ADS_1


"Argh..."Mauren merasakan sakit di area inti tubuhnya saat kedua kakinya dia gerakkan untuk turun dari ranjang.


"Kenapa sayang? Apa masih terasa sakit? tanya Bastian khawatir.


Mauren mengangguk.


Bastian lalu turun dari ranjang. "Mas bantu kamu ke kamar mandi."pria itu menggendong istrinya ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Mauren berdiri di depan cermin. dia melihat area leher dan tumbuh bagian depannya terdapat bulatan-bulatan kecil berwarna merah, maha karya sang suami tadi malam. Wajahnya kembali merona saat mengingat adegan panas yang dimainkannya tadi malam bersama suaminya. Mauren sangat senang bisa memberikan kesuciannya untuk suaminya.


Setengah jam sudah berlalu, Bastian mencoba mengetuk pintu kamar mandi. sebab jam 08.00 pagi ini dia dan Mauren sudah harus tiba di restoran.


"Sayang mandinya jangan lama-lama ya."


"Iya, Mas."Mauren langsung mengenakan bathrobe nya. Rambutnya yang basah dia bungkus lagi dengan handuknya.


Kini giliran Bastian yang masuk ke dalam kamar mandi. Saat tubuh bagian belakangnya tersiram air Bastian merasakan perih. Pria itu lalu menghampiri cermin, dilihatnya ada beberapa luka bekas takaran kuku istrinya. Sesaat kemudian mulut pria itu membingkai senyum. Dia jadi teringat Bagaimana luka cakaran itu dia dapatkan.


Tentu saja luka itu akibat usaha dia untuk memasuki istrinya. Bastian merasa bangga sekaligus bahagia menikah dengan Mauren. Baginya ini merupakan sebuah kejutan besar. Padahal sebelumnya Bastian mengira dia adalah laki-laki kedua yang memasuki istrinya, tapi ternyata tidak. Dalam hatinya, Dia sangat berterima kasih pada Bimbim, karena saat menikah dulu sahabatnya tidak pernah menyentuh Mauren.


Bastian melihat istrinya berjalan sedikit kesusahan, Jalan Mauren sedikit mengangkang. Karena jika kakinya dirapatkan, maka bagian inti tubuhnya akan terasa lebih sakit.


"Sayang, gimana kalau kita sarapan di kamar saja, daripada kamu susah jalan kayak gini?"


"Enggak mas, sudah terlanjur, ini kita sudah di depan lift."


Enam orang yang ada di meja makan itu perhatiannya teralihkan ke arah Mauren. orang tua Bastian dan orang tua Mauren mengeluarkan ekspresi yang sama, keempat orang dewasa yang ada di meja makan itu melongok menatap cara Mauren berjalan. mereka berempat mempunyai kesimpulan yang sama, berbeda dengan dua orang remaja yang ada di samping mereka.


Dora memandang ke arah Moresette, sedangkan Cornel memandang ke arah Richard.


Nampak Bastian membantu Mauren berjalan dengan memegang lengan istrinya.


"Kaki kakak kenapa? kok jalannya begitu, seperti orang kesakitan?"tanya Andika yang masih penasaran.

__ADS_1


"Kaki kakak terkilir lagi ya?"Timpal Laura bertanya.


"Andika, cepat makan, pagi ini Papa harus ke kantor!"Richard langsung mengalihkan pertanyaan putranya.


"Laura, katanya kamu lapar, cepat ambil makanan kamu!"ucap Cornel.


Dengan perlahan Mauren duduk. saat bokongnya menyentuh permukaan kursi, Mauren terlihat sedikit meringis. dan itu membuat Moresette dan Dora juga ikut meringis melihatnya, karena mereka berdua dulu juga pernah merasakan apa yang Mauren rasakan saat ini.


"Bastian, Kalian mau pulang ke rumah atau tetap di hotel?"tanya Cornel.


"Jami di sini saja dulu, Pa. Aku kan ngantornya juga di sini."


"Mauren, pakaian kamu gimana?"Mauren menatap ke arah suaminya.


"Nanti sore akan kami ambil, Ma."sahut Bastian


Beberapa saat kemudian orang tua Bastian dan Mauren sudah menyelesaikan makannya. mereka Langsung pulang ke rumah. Sedangkan Mauren dan Bastian akan kembali ke kamar pribadi mereka.


Tak jauh dari tempat itu, Maya mengepalkan tangannya saat melihat Bastian membopong Mauren melangkah menuju lift. Gadis itu sangat membenci Mauren, karena Mauren, dia tidak dapat mendapatkan Bastian.


Di dalam kamar, Bastian membawa istrinya keranjang. "Sayang, kamu istirahat dulu ya, jangan banyak gerak."


"Mas mau ke mana?"


"Mas nggak kemana-mana. Kantor Mas kan di hotel ini sayang."pria itu naik ke atas ranjang. dia duduk di samping istrinya sambil bersandar pada headboard ranjang.


"Sayang, mas sampai saat ini masih penasaran dengan ucapan kamu dan Bimbim soal kenangan di dalam kamar. Itu maksudnya apa kenangan apa?


"Oh, itu kenangan saat Bimbim sakit, aku bikin bubur terus menyuapi dia bubur di dalam kamar. sama kayak aku nyuapin masak sakit dulu."sahut Mauren.


"Mas mengira kamu sudah pernah tidur dengan Bimbim. Tadi malam Mas terkejut sekali Saya tahu kamu masih...."


Mauren langsung meletakkan jari telunjuknya pada bibir suaminya, dia tidak mau suaminya mengungkit kejadian tadi malam. Wanita itu masih merasa malu jika mengingat kejadian itu.

__ADS_1


Bastian memegang tangan Mauren yang ada di bibirnya, lalu diciumnya tangan itu.


bersambung...


__ADS_2