
Fernando dan Amor pergi meninggalkan Bimbim di rumahnya sendiri. Saat ini pria itu, tinggal di rumah sendiri hanya dengan ditemani oleh asisten rumah tangga.
Setelah kedua orang tuanya keluar, Bimbim beranjak berdiri dari duduknya. pria itu melangkah naik ke lantai atas. langkahnya terlihat gontai, tangan kanannya berpegangan pada pagar tangga.
Ketika sudah sampai di lantai atas, Bimbim langsung masuk ke dalam kamar utama. ditutupnya daun pintu itu. Bimbim memejamkan kedua matanya. Hidungnya terlihat menghirup udara yang ada di sana, seperti orang lagi menikmati udara sejuk di sekitaran pegunungan Saat di pagi hari.
Kamar utama yang beberapa minggu ditempati oleh Mauren begitu wangi. Mirip dengan aroma tubuh Mauren yang beberapa minggu ini sering Bimbim cium saat dirinya berdekatan dengan istrinya.
Mata Bimbim mengarah ke arah meja rias. hanya sisir saja yang tersisa di sana. tidak ada lagi perlengkapan make up milik Mauren yang biasa tertata rapi di sana.
Bimbim lalu melangkah ke arah walk in closet. hanya ada baju biru saja yang tergantung di sana. Bimbim menghela nafas panjang, demi mengurangi rasa sesak di dada. Tidak satupun Mauren meninggalkan bajunya.
Bimbim kemudian mengayunkan langkahnya menuju pembaringan. Di sana ada pensil dan kertas desain, serta beberapa kepalan kertas yang belum sempat Mauren buang ke tong sampah.
Pria itu duduk di pembaringan. Dia ambil satu kepalan kertas itu dan perlahan membukanya, Ternyata isinya hanya sebuah gambaran desain baju yang diberi tanda silang. diambilnya lagi satu kepalan kertas, ternyata ada gambar desain baju juga yang diberi tanda silang. namun di kertas itu ada tulisan sebuah kalimat, "Selesaikanlah semua masalah segera."kalimat itu yang tertulis di dalam kertas kepalan kedua yang dibuka oleh Bimbim.
Bimbim lalu mengambil kembali satu kepalan kertas lagi, dan ia bergegas membukanya. masih dengan gambar desain baju dengan tanda silang, di kertas itu juga ada tulisan kalimat. "Memulai hidup baru."isi kalimat di dalam kertas kepalan ke-3 yang dibuka oleh Bimbim.
"Apa arti dari tulisan Mauren ini ya?"batin Bimbim bertanya, keningnya terlihat sedikit berkerut.
lalu beringsut dari pembaringan itu, dia ingin membersihkan tubuhnya, karena habis dari luar rumah.
__ADS_1
Tak lama setelah keluar dari dalam kamar mandi, ponsel Bimbim berbunyi. Sebuah notifikasi pesan. Bimbim bergegas menyambar ponselnya dengan penuh semangat. Dia mengira itu adalah pesan dari Mauren. Namun,ternyata dugaannya salah. pesan itu ternyata dari Aulia.
Pria itu tidak membuka pesan yang dikirim oleh kekasihnya. Dilemparkannya benda pipih itu ke arah kasur. Dia lagi malas berkomunikasi dengan gadis itu.
Bimbim kembali naik ke ranjang. Dia mencium bantal yang biasa digunakan Mauren untuk tidur. aroma sampo yang berasal dari rambut Indra penciumannya. mata Bimbim terpejam menghirup wewangian itu. "Mauren, Kenapa kamu pergi meninggalkan aku?"batinnya bertanya kembali, kalau dia sudah berbaring dengan kepalanya beralaskan bantal milik Mauren.
Sementara itu di rumah Richard, setelah pulang dari rumah Bimbim, Richard dan Dora langsung mengantar putrinya ke dalam kamar. Pria itu meletakkan dua buah koper di dekat pintu masuk dalam kamar. Richard melangkah ke arah istri dan putrinya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Mauren, Kenapa kamu tidak bilang pada papa kalau Bimbim memperlakukan kamu seperti ini?"
"Aku tidak mau kalian sok. apalagi kakek kalau sampai tahu, aku takut jantung kakek akan kumat, Pa. lagi pula sebelum nikah, Bimbim sudah mengatakan bahwa dia akan tetap berhubungan dengan Aulia."
Mauren mengangguk, "Waktu itu aku sedang bingung. banyak yang aku pikirkan. m/Memikirkan Mario, memikirkan kakek yang mendesak ku menikah dan memikirkan nama baik keluarga juga."ucap Mauren kepada kedua orang tuanya.
"Kalau sudah begini kan kamu sebagai perempuan yang paling dirugikan sayang,"sahut Dora.
"Di rugikan?"Mauren mengerutkan keningnya, karena bingung dengan perkataan mamanya.
"Iya, Kamu sudah tidur dengan Bimbim kan?"
Mauren mengangguk. "Iya, pernah satu kali, Tapi saat di rumah Bimbim kami tidur di kamar yang berbeda, the new jalan pun kami beda kamar."
__ADS_1
Dora memandang ke arah Richard. wanita itu melihat suaminya memegang kepala sambil menarik rambut dengan kedua tangannya. Richard merasakan malam ini kepalanya ingin pecah.
"Sayang, Ayo kita kembali ke kamar."Richard ingin menenangkan pikirannya di dalam kamarnya.
Dora mengusap lembut kepala putrinya. "Sayang, kamu istirahat ya. Mama mau menemani Papa kamu di kamar sebelah."pamit Dora.
Sebenarnya dia malam ini ingin tidur dengan putrinya. Namun, dia tidak bisa menolak suaminya, Yang sepertinya malam ini butuh teman untuk berkeluh kesah.
Baru saja pintu kamar ditutup, ponsel Mauren berbunyi. sebuah notifikasi pesan masuk. Mauren mengambil ponselnya yang masih ada di dalam tas ternyata Bimbim yang mengirim pesan.
"Mauren, kamu akan kembalikan?"pesan itu yang dikirimkan oleh Bimbim di layar ponsel Maureen.
"Aku tidak tahu Bim, aku lagi tidak ingin membahasnya sekarang. Yang aku inginkan saat ini masalah hidup aku selesai. Sudah dulu ya Bim, Aku mau tidur dulu."balas Mauren mengakhiri percakapan.
Di dalam kamar utama, Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian. Richard dan Dora duduk di atas ranjang. keduanya sama-sama bersandar pada hardboard ranjang.
"Sayang, Bagaimana kalau Putri kita sampai hamil?"
"Aku juga bingung Mas. Dulu kamu sekali saja melakukannya, aku langsung hamil Mauren."ucap Dora mengkhawatirkan kondisi putrinya, takut putrinya sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan suami istri pada malam pertama putrinya dengan Bimbim.
BERSAMBUNG...
__ADS_1