
Jam 07.00 pagi, hari ini hari weekend. Richard memberi kabar pada Fernando agar pria itu dan Bimbim datang ke rumahnya tepat jam 12.00 siang ini. Setelah memberi kabar itu, Richard lalu menghubungi Cornel.
Kring....Kring...Kring...
"Halo bro?"siapa Cornel saat mengangkat telepon dari Richard.
"Cornel, kamu dan Bastian siang ini bisa datang ke rumahku, nggak? ada sesuatu yang penting, yang ingin kami tanyakan pada Bastian."
"Hal penting apa?"
"Bastian juga ikut dalam perjalanan bulan madu ke New Zealand. Aku hanya ingin meminta penjelasan darinya."
"Yang benar?"Cornel terkejut. sebab tadi malam Bastian tidak bicara mengenai keterlibatannya saat Bimbim dan Mauren pergi melakukan perjalanan bulan madu di New Zealand.
"Iya, Kamu tanya saja pada Bastian. Aku harap kalian bisa datang jam 12.00 siang tepat nanti.
"Iya, aku dan Bastian akan ke rumah kamu jam 12.00 siang ini."sahut Cornel memastikan. karena dia juga merasa penasaran Apa yang sebenarnya terjadi saat perjalananmu dengan bulan madu itu berlangsung.
Setelah memutuskan sambungan telepon selulernya, Cornel langsung keluar kamarnya. pria itu menuju kamar putranya.
Cornel mengetuk pintu kamar putranya. Bastian yang baru saja selesai mandi itu membuka pintu kamar. Daun pintu itu hanya dibuka sejengkal saja oleh si pemilik kamar. sebab Dia masih mengenakan selembar handuk saja untuk menutupi tubuh polosnya.
"Ada apa, pa?"Bastian hanya memperlihatkan bagian kepalanya saja.
"Boleh papa masuk?"
Bastian mengangguk, dia melebarkan daun pintu kamarnya, agar sang ayah bisa masuk ke dalam kamarnya. lalu menutup serta mengunci pintu itu kembali setelah Papanya masuk.
"Aku pakai baju dulu ya, Pa."pamit Bastian sebelum melangkah ke arah walk in closet. Bastian bergegas mengambil baju kaos oblongnya untuk menutupi dada sixpack yang berwarna putih itu. Setelah berpakaian, Bastian menghampiri papanya yang sudah duduk di sebuah kursi yang ada di balkon kamar. pria tampan itu ikut Duduk di sana juga.
__ADS_1
"Ada apa Pa?"
"Bastian, barusan om Richard nelpon. katanya saat Mauren dan Bimbim berbulan madu, kamu juga ikut jalan bersama mereka. Apa itu benar?"
Bastian bergeming sesaat, memikirkan kalimat apa yang akan dia keluarkan agar tidak dimarahi oleh Papanya.
"Iya Pa. Aku diminta Bimbim untuk ikut ke sana. sebab aku tidak tega melihatmu orang di sana tidak ada temannya. sedangkan Bimbim masih belum bisa lepas dari pacarnya."sahut Bastian.
Cornel menghela nafas kasar. Dia sangat menyayangkan perbuatan yang dilakukan oleh anaknya itu. selama ini Bastian tidak pernah bertindak yang macam-macam. perilakunya selalu baik dan selalu membanggakan ayahnya. Namun Kenapa kali ini putranya melakukan hal seperti itu?"
"Tetapi tetap saja kamu salah Bastian. secara tidak langsung, kamu dianggap bekerja sama dengan Bimbim, agar dia bisa lebih leluasa jalan dengan pacarnya."
Mendengar hal itu Bastian lalu memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Niat Aku hanya ingin menghibur Mauren saja Pa. Tidak ada sedikitpun aku berpihak pada Bimbim. meskipun aku tidak ikut ke New Zealand, Bimbim juga tetap akan membawa pacarnya."sahut Bastian sambil menunduk tidak sanggup menatap ayahnya.
"Jam 12.00 siang ini kamu dan papa diminta datang ke rumah Papanya Mauren."Cornel memberitahu.
Cornel menepuk pundak putranya, "Kamu ceritakan saja apa adanya. Jangan ada yang kamu tutupi lagi. beri jawaban dan alasan yang terbaik. Papa yakin kamu pasti bisa menjelaskan pada mereka."Setelah mengucapkan itu, Cornel langsung keluar dari kamar putranya.
***
Sebelum jam 12.00 siang, kakek Bernando dan istrinya baru saja tiba di rumah Richard. Pria tua itu perlahan masuk ke dalam rumah. di ruang tengah sudah ada Opa Nicholas dan Oma Alena beserta tuan rumah.
"Pa, sabar ya! ingat kondisi jantung papa!"nenek Nadia memperingatkan saat pria tua itu tergesa-gesa memasuki ruang tengah, Dia mengira Bimbim sudah ada di sana.
Beberapa saat kemudian Bimbim beserta Papanya sudah tiba di rumah Richard. Kedua pria itu langsung disuruh masuk ke ruang tengah oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Richard.
Kakek Bernando langsung ingin berdiri menghampiri Bimbim, namun Nyonya Alena neneknya Mauren dan Dora mencegahnya. keduanya dari tadi memegangi tangan Tuan sehingga pria tua itu tidak bisa berdiri untuk memukul Bimbim.
__ADS_1
Baru saja Fernando dan Bimbim duduk di ruangan itu, Bastian dan sang ayah datang. keduanya baru saja keluar dari dalam mobil.
Saat sudah di depan teras, Bastian dan Cornel sudah disambut oleh asisten rumah tangga. "Ini Tuan Cornel dan Bastian ya?"tanya asisten rumah tangga itu yang sudah diamati oleh tuan rumah.
"Iya, Bi. saya Bastian."
"Silakan masuk, semua orang sudah menunggu di ruang tengah."ujar asisten rumah tangga itu mempersilahkan Bastian dan Cornel masuk.
Bastian dan Cornel melangkah masuk mengiringi langkah asisten rumah tangga. suasana di ruang keluarga saat ini sedang hening. Tak ada satupun orang yang berbicara di sana.
"Assalamualaikum..."ucap Bastian dan Cornel secara bersamaan.
"Waalaikumsalam.."sahut orang-orang yang ada di sana. tapi tidak dengan Bimbim.
"Maaf kalau kami datang terlambat,"ucap Cornel.
"Tidak apa-apa, Cornel. silakan duduk!"seru Richard.
Bastian dan corner langsung duduk di lesehan di tempat itu. posisi Bastian duduk tepat di seberang Mauren. saat duduk di ruangan itu, pandangan mata Bastian tak teralihkan dari Mauren. Pandangan pria itu terputus saat Mauren tak sengaja menatap ke arahnya.Bastian buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah Bimbim.
"Karena semua sudah berkumpul, saya terlebih dahulu ingin bertanya pada Bimbim."ucapkan Bernando mengawali pembicaraan. Dia sudah tidak sabar, menanti jawaban dari Bimbim.
"Bimbim! meski saat itu kamu dipaksa menikah dengan Mauren, tapi kenapa kamu menyakiti cucu saya? saya akan lebih terima kalau kamu mengembalikan Mauren pada kami tanpa menyakitinya."ucap Tuan Bernando kepada Bimbim.
"Sa...sa saya sebelum menikah, sudah ada kesepakatan dengan Mauren kek."
"Kesepakatan seperti apa yang kamu maksud Bimbim?!" tanya Tuan Bernando dengan suara membentak. Bukan hanya Bimbim saja yang tersentak, Tapi semua orang yang ada di sana juga ikut tersentak kaget. karena suaranya bagai petir menggelegar di siang bolong.
"Pa...Sabar. jangan emosi seperti itu!"Nyonya Nadia mengusap dada suaminya. dia khawatir penyakit jantung suaminya akan kembali kumat.
__ADS_1
"Ke. ..Ke ... kesepakatan bahwa kami akan menjalani hidup masing-masing, walau status kami suami istri."sahut Bimbim.
BERSAMBUNG....