Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 201. TRAGEDI KOLAM RENANG


__ADS_3

Sekitar 20 menit kemudian, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Bastian yang mengenali pemilik mobil itu segera berdiri. pria itu melangkah ke arah mobil Mauren.


Malam ini Mauren mengenakan baju dengan model Sabrina berwarna merah muda, dipadukan dengan setelan kulot berbahan semi jeans yang berbentuk cutbray bagian bawahnya. Bahunya yang putih, malam ini nampak kelihatan jelas di Mata Bastian. menambah kesan seksi Mauren di mata pra itu.


"Cantik."Puji Bastian sambil tersenyum saat Mauren sudah berdiri di depannya. Mauren yang mendengar pujian itu langsung tersipu malu.


"Ayo, Mauren kita langsung ke halaman samping."Mauren hanya mengangguk. wanita itu melangkah di samping Bastian.


Di halaman samping, Kenapa orang-orang sudah ramai dengan kelompoknya masing-masing. Dora dengan sahabatnya duduk di lesehan, Zidane dengan sahabatnya duduk di kursi yang ada meja makannya. sedangkan para anak-anak remaja kini mereka sedang asyik memanggang daging dan yang lainnya.


"Dora, itu Mauren datang."ucap Moresette memberitahu.


"loh, Katanya tadi mau istirahat di rumah saja."Dora heran dengan sikap anaknya yang sebentar sekali berubah pikiran.


"Bimbim gimana Amor? dia datang ke sini nggak?"tanya Moresette.


"Katanya, dia sudah di jalan menuju rumah ini."


Bastian membawa Mauren ke arah gazebo.


"Kak Mauren, sini bantuin aku memanggang ini."seru Dania pada Kakak sepupunya.


"Dania, Dian, Laura dan Laurensius. kakak rasa kalian berempat sudah cukup untuk memanggang semua ini. Mauren sudah lelah hari ini bekerja seharian, adi dia harus banyak istirahat."ucap Bastian. dia tidak ingin badan Mauren bau asap lagi pula, dia ingin mengajakmu rindu bersantai di pinggir kolam renang.


"Mauren, kita duduk di sini saja ya."jari 7 untuk Bastian mengarah pada pinggiran kolam.


"Biarkan mereka saja yang memanggang. kita tinggal menikmati hasilnya saja."


"Iya,Kak."Mauren setuju usulan Bastian.


"Kalian tidak apa-apa kan kalau Kakak tinggal?"


"Tidak apa-apa Kak,"sahut Dania dan juga Laura.


Bastian membawa Mauren ke kolam renang. keduanya lalu duduk di sana nampak sesekali Mauren memainkan air kolam itu dan mencipratkan ke wajah pria tampan yang duduk di sampingnya.


Gadis itu nampak tertawa melihat Bastian yang wajahnya sedikit basah karena ulahnya. Andai saja sudah menikah, mungkin Bastian akan membalas dengan merangkul gadis itu, lalu bersama-sama menyemburkan diri ke kolam renang. Seperti itu khayalan Bastian sekarang. sebab saat ini dia sedang gemas pada gadis yang duduk di sampingnya.


"Ternyata kalau malam hari duduk di pinggiran kolam seperti ini asik juga ya."Mauren memulai obrolan.


"Iya, apalagi kalau duduk berdua dengan pasangan yang dicintai."sahut Bastian sambil menatap Mauren dengan tatapan penuh cinta.


Mauren hanya tersenyum mendengar ucapan Bastian. Gadis itu sekarang sudah menarik tangan dari kolam renang. Udara malam ini sudah mulai terasa dingin di tubuh Mauren. kalau tahu begini dia akan mengenakan baju yang lebih tertutup dan mengenakan jaket juga.


"Mauren, Apa kamu sudah bisa membuka hati untuk kakak? apa kakak sudah boleh masuk?"tanya Bastian menatap-lekat ke arah gadis cantik yang duduk di sampingnya.


Mauren bergeming, Gadis itu nampak termenung. Tangannya kini disilangkan pada tubuh bagian depan. Gadis itu seperti sedang kedinginan.


Bastian yang melihat Mauren seperti itu langsung melepaskan jaket yang dikenakannya sejak tadi. Kini jaket itu dia gantungkan pada kedua bahwa Mauren, menutupi pundaknya yang dari tadi terbuka lebar akibat model baju yang dikenakan oleh gadis itu.

__ADS_1


Beberapa menit yang lalu, Bimbim sudah turun dari mobilnya untuk langsung melangkah ke arah halaman samping. Pria itu berjalan mencari keberadaan orang-orang terutama kedua sahabatnya. Nampak dari kejauhan dia melihat Papanya duduk di kursi bersama para sahabat.


tak jauh dari sana dia juga melihat Mama Amor sedang duduk di lesehan bersama wanita yang juga seumuran dengan mama sambungnya. Pandangan mata Bimbim selalu mengarah ke arah gazebo, di sana dia tidak menemukan Mauren dan Bastian.


"Bastian dan Mauren di mana ya?"tanya Bimbim dalam hati. Matanya memindai sekitar tempat itu. Pandangannya terhenti pada dua sosok yang sedang dicarinya. dilihatnya Mauren dan Bastian sedang duduk tetapi kolam renang.


Bimbim langsung mengayunkan langkahnya untuk bergabung bersama kedua sahabatnya. Sejak berjarak sekitar dua meter dari kolam, Bimbim langsung menghentikan langkahnya. pria itu terkejut melihat Bastian melepaskan jaket di tubuhnya, menggantungkan jaket itu pada kedua pundak Mauren.


"Kenapa Bastian bersikap romantis seperti itu pada?"tanya Bimbim penuh curiga dalam hati, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya ke arah dua sahabatnya.


Saat ini Bastian dan Mauren belum mengetahui ada bimbingan yang sedang berjalan di belakang mereka, menuju tempat keduanya.


"Mauren, jawab pertanyaan kakak!"Bastian mendesak Mauren. Sebab Mauren dari tadi nampak melamun, dan belum memberikan jawabannya.


"Aku....aku ..


"Ternyata kalian berdua di sini?"tanya Bimbim Satria berjarak sekitar 1 meter di belakang Mauren dan Bastian.


Maureen yang ingin memberi jawaban atas pertanyaan Bastian kini tidak melanjutkan ucapannya. Tidak mungkin dia memberi jawaban di saat mantan suaminya juga ada di tempat itu.


Mauren langsung menoleh ke arah Bimbim. "Bimbim, kamu kok baru datang?"


"Tadi aku masih ada pekerjaan."Bimbim mencoba berkilah.


Bastian yang benar dari arah belakang, dia tidak langsung menoleh ke arah Bimbim. pria itu nampak memejamkan kedua matanya. Menahan rasa kesal, karena menurutnya Bimbim datang tidak di waktu yang tepat. Bastian kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa dongkol di hatinya.


Semenit kemudian, Bastian menoleh. "Bim." sapa pria itu.


"Kalian tadi ngobrol apa sebelum aku datang?"


Mauren memandang kerah Bastian. seolah memberi isyarat agar pria itu saja yang memberi jawaban atas pertanyaan Bimbim.


"Ngobrol biasa aja Bim, mengenang masa kecil."Bastian berkilah. pria itu terpaksa berbohong kepada Bimbim.


Tak lama Setelah itu mereka berbincang, tampak Dian berjalan ke arah ketiganya. Dia disuruh oleh Mia untuk memanggil Mauren, Bastian dan Bimbim.


"Kak!"teriak Dian, padahal jaraknya masih jauh dari posisi ketiga orang yang duduk di tepi kolam renang.


Mauren, Bastian dan Bimbim langsung menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Dian sedikit berlari ke arah kolam renang.


"Hati-hati Dian, tidak usah lari!"pekik Mauren memperingatkan adik sepupunya.


"Ada apa?"tanya Bastian ketika Dian sudah ada di depannya.


"Kakak bertiga dipanggil mama, makanan sudah siap, katanya."usai mengucapkan itu Dian langsung berbalik dan kembali berlari menuju gazebo.


"Ayo Mauren, kita ke sana!"ajak Bimbim, pria itu sudah berdiri di belakang Maureen yang masih duduk menghadap kolam renang.


Mauren mengangguk, Gadis itu buru-buru berdiri hingga dia hilang keseimbangan dan hampir jatuh terjerembab ke kolam renang.

__ADS_1


"Aaa...." pekik Mauren yang merasa dirinya hampir jatuh ke kolam.


"Mauren!"pekik Bastian, lengannya langsung menangkap tubuh Mauren. Dia juga mempublikasikan dirinya di depan gadis itu, menghalangi tubuh Mauren agar tidak jatuh ke kolam. Kini posisi Bastian berdiri membelakangi kolam. Namun sayangnya, pria itu kehilangan keseimbangan. Bastian yang merasa tubuh sebentar lagi akan jatuh ke kolam dia langsung melimpahkan pegangan tangannya pada tubuh Mauren. Hal itu membuat Mauren hampir terjengkang ke belakang. Beruntung di belakang Mauren ada Bimbim berdiri, sehingga tubuh Mauren tidak jatuh ke lantai keramik.


Byurr...


Bastian jatuh ke kolam.


"Kak Bastian!"Pekik Mauren.


"Bastian."pekik Bimbim juga.


Bastian segera naik ke permukaan air dan berenang ke tepi.


Maulana lu duduk berjongkok menghadap kolam renang. Nampak gurat kekhawatiran terpancar dari wajahnya.


"Kakak tidak apa-apa?"


"Aman. Kakak tidak apa-apa."Bastian pernah naik ke daratan.


"Maafkan aku ya, Kak. gara-gara Aku ceroboh, Kak Bastian jadi bahasa seperti ini."ucap Bimbim dengan rasa bersalah.


"Kakak tidak apa-apa Mauren. Yang terpenting Bukan kamu yang jatuh. lagi pula kakak jatuh juga di kolam renang rumah sendiri. Jadi, gampang buat kakak untuk ganti baju."


Bastian teringat dengan ponselnya yang ada di saku celana depan. Dia segera mengeluarkan ponsel tersebut.


"Rusak ya, Kak?"tanya Mauren semakin tidak enak saja dia pada Bastian.


"Kakak belum tahu Mauren. Kamu dan Bimbim langsung saja bergabung untuk makan malam. Kakak mau kembali ke kamar, ingin ganti baju."sahut Bastian yang terlihat menggigil kedinginan.


"Iya, Kak. Uni jaket kakak."Mauren ingin melepas jaket yang dikenakannya.


"Jangan dilepas! kamu pakai saja. Udara malam ini cukup dingin. pakaian kamu tadi sedikit terbuka, nanti bisa masuk angin."


"Iya, Kak. Terima kasih ya. Kakak buruan ganti baju, itu bibir Kakak sudah terlihat bergetar."


"Iya, Mauren."Bastian lalu melangkah dengan pakaian basah menuju ke arah pintu samping rumahnya.


Kenapa orang-orang berbondong-bondong datang ke arah kolam renang. mereka terkejut mendengar bunyi sesuatu jatuh ke air, ditambah lagi terdengar suara teriakan Mauren dan Bimbim.


"Ada apa nak?"tanya Dora mewakili orang-orang yang datang ke arah Mauren dan Bimbim.


"Kak Bastian jatuh ke kolam, Ma."


"Gimana ceritanya, Mauren, kok dia bisa sampai jatuh?"tanya Moresette.


Mauren menggaruk belakang kepalanya. "Harusnya aku yang jatuh, Tante. tapi Kak Bastian nolongin aku, tapi justru malah dia yang jatuh ke kolam."


"Oh gitu ya, Ya sudah kalau gitu tidak apa-apa. ini kan rumahnya Bastian, dia punya banyak stok bajunya. Beda sama kamu kalau kamu yang jatuh nanti make pakai baju siapa?"sahut Moresette sambil tersenyum ramah."Ayo kita makan malam!"imbuh wanita itu.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2