Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 192. BASTIAN KWARTIR PADA MAUREN


__ADS_3

Bastian yang penasaran langsung melakukan sambungan video call kepada Maureen, saat Mauren mengizinkannya melakukan video call.


Bastian sudah tidak sabar, ingin melihat kondisi Mauren saat ini. Sehingga ia lebih memilih melakukan video call daripada membalas kembali pesan yang dikirimkan oleh Maureen.


Kini yang ponsel yang dipegang olehnya terpampang wajah Mauren. rambut gadis itu saat ini sedang dicopol asal-asalan, tapi tidak sedikitpun mengurangi kecantikan gadis itu di Mata Bastian.


Pemandangan leher jenjang putih mulus milik wanita itu membuat Bastian memalingkan wajahnya saat dia ingin meneguk sedikit kasar Salivanya.


"Kak Bastian, kok kakak diam?"tanya Mauren saat melihat Bastian kembali terpaku menatapnya.


"Eh, Iya Mauren. kaki dan pinggang Kamu kenapa bisa?"tanya Bastian khawatir.


Mauren menceritakan pada Bastian mengenai Apa yang dilakukan Aulia terhadapnya pagi tadi. Bastian benar-benar marah, dia tidak akan mengampuni Aulia. Bahkan dia ingin membalaskan apa yang sudah diperbuat Aulia terhadap Mauren.


"Kak, barusan Bimbim kirim pesan ke aku, katanya hari ini dia sudah memutuskan hubungannya dengan Aulia."Mauren memberitahu.


"Apa! terus, dia ngomong apa sama kamu?"Bastian terkejut sekaligus takut. dia takut kalau Mauren akan kembali rujuk dengan Bimbim.

__ADS_1


"Dia cuma ngomong, katanya Aulia masih gangguin kau, kalau Aulia mengganggu orang lagi, aku melapor padanya."ucap Mauren memberitahu kepada Bastian Apa pesan yang dikirimkan oleh Bimbim.


Bastian menghela nafas lega. dia takut sekali kalau Bimbim akan menyatakan cinta pada Mauren. Dan mengajaknya untuk kembali rujuk.


"Mauren, misal bimbi mengajarkan kamu rujuk lagi, bagaimana? tanya Bastian


"Aku nggak bisa Kak. Rasanya susah sekali buat aku mencintainya. lagi pula, Aku juga nggak mau mikirin cinta-cintaan dulu."


"Mauren kok ngomongnya kayak gini terus, gimana aku bisa ngungkapin perasaan aku, kalau dia lebih dulu bilang tidak mau mikirin masalah cinta."Galuh Bastian dalam hati.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Bastian.


"Mauren, sudah dulu ya. nanti kita sambung lagi. Kakak mau lanjut kerja dulu."pamit Bastian dengan suara lirih. dia nampak tersenyum saat memandang ke arah ponsel pintarnya. Pria itu meletakkan kembali ponselnya di meja setelah memutuskan sambungan video call-nya.


Di depan pintu, Maya penasaran saat melihat Bastian melakukan sambungan video call sambil tersenyum. sebab, di mata karyawannya Bastian dikenal sebagai pria yang irit senyum. namun tadi Maya melihat sendiri Bastian tersenyum saat ngobrol dengan seseorang melalui sambungan video call.


"Pak Bastian vc-an sama siapa ya? kok Sepertinya dia bahagia sekali?"gumam wanita itu dalam hati.

__ADS_1


"Ada apa Maya?"tatapan Bastian menatap darah Maya yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya. wajahnya yang awalnya senyum saat melakukan video call dengan Mauren, kini kembali datar dan terkesan dingin. Sehingga siapapun yang memandangnya akan merasa segan terhadapnya.


"Saya mau mengantarkan dokumen yang Bapak minta."Maya masih berdiri di ambang pintu.


"Bawa kemari!"seru Bastian.


Maya lalu masuk ke dalam ruangan itu, sambil menyerahkan map berwarna merah. setelah menyerahkan itu, Maya berdiri di samping meja kerja Bastian.


Bastian yang awalnya fokus menatap dokumen dalam map, kini perhatiannya kembali ke arah Maya.


"Maya, kamu kembali saja ke ruang kerjamu! Saya ingin memeriksa dokumen ini."


Bastian mengusir Maya secara halus. pria itu tidak menyukai gadis yang mendekatinya untuk tujuan tertentu. maka dari itulah sebisa mungkin Bastian menjaga jarak dari gadis itu.


***


Sekitar 3 hari kemudian, Aulia yang gagal memperbaiki hubungannya dengan Bimbim itu terpaksa hari ini mulai melamar kerja. orang tuanya padahal sudah menyuruhnya untuk pulang ke kampung halaman. Namun, wanita itu menolak. Dia tidak ingin tinggal di kampung lagi. Aulia bercita-cita ingin menjadi istri orang kaya dengan modal kecantikan yang dimiliki.

__ADS_1


Siang ini Aulia mencoba melamar kerja di beberapa perusahaan, termasuk di perusahaan Papanya Sarah.


bersambung...


__ADS_2