
Pagi harinya di rumah Fernando, Bimbim ikut sarapan bersama kedua orang tuanya serta kedua adik kembarnya. Pria itu ingin mencari informasi mengenai Mauren, dia penasaran Apakah Mauren tadi malam datang ke acara itu atau tidak.
Bimbim tahu, kalau tadi malam Bastian juga berulang tahun. Dia juga sudah hafal betul dengan kebiasaan Mauren setiap dirinya atau Bastian berulang tahun, pasti Mauren selalu memberi kado serta kue ulang tahun.
"Gimana acaranya tadi malam!"
"Rame, Kak. rugi banget tadi malam kakak nggak ikut."sahut adik kembarnya.
"Ada siapa saja di sana?"
"Banyak Kak, ada Dian dan Dania, ada Laura dan Laurensius." sahut sang adik menimpali obrolan.
"Apa Mauren juga ada di sana?"
Kedua adik kembarnya saling berpandangan. mereka tadi malam tidak mencari tahu keberadaan Mauren.
"Kata tante Dora tadi malam Mauren tidak ikut. Alasannya sama kayak kamu, nggak enak badan juga."sahut Amor.
Bimbim tersenyum dalam hati. Itu artinya Mauren dan Bastian lebih memilih persahabatan dari percintaan.
Selepas mengantar Mauren pulang ke rumah, Bastian tidak kembali ke hotel. Dia pulang ke rumah orang tuanya. pria itu sudah merindukan kamar yang dia tinggalkan selama kurang lebih 1 bulan ini.
"Bastian, Papa ingin bicara sama kamu. Temui Papa di ruang kerja."ucap cornel saat dia baru saja keluar dari kamar pribadinya.
"Iya, Pa."Bastian mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar. pria itu mengikuti papanya yang melangkah lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja.
"Ada apa pa?"Bastian duduk di depan meja kerja Papanya. Pria itu nampak serius, menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Papanya. sebuah pertanyaan ada di benaknya. Apakah ini menyangkut soal Mauren?
"Bastian, Papa mau tanya sekali lagi sama kamu, Apa kamu benar-benar serius dengan Mauren?"
"Pa, sebulan yang lalu kan aku sudah pernah bilang kalau aku serius dengannya. Kenapa Papa menanyakan hal yang sama lagi?
"Begini Bastian, rencananya dalam waktu dekat ini papa akan membicarakan hubungan kamu dengan Mauren pada om Richard. misalnya om Richard menyuruh kamu untuk segera menikahi Mauren, apa kamu bersedia?"
"Pa, disuruh menikahi Mauren hari ini pun aku sudah siap. Hanya saja, Mauren Yang sepertinya masih belum siap untuk menikah."
"Kenapa dia belum siap? Apa karena dia masih belum melupakan mantan pacarnya yang dosen itu?"
"Aku kurang tahu, Pa. katanya dia masih belum yakin dengan perasaannya terhadapku."
"Kapan dia bilang begitu?"
"Satu bulan yang lalu, saat kami baru jadian."
"Papa akan bantu kamu untuk membicarakan ini pada om Richard dulu. Kita lihat tanggapannya seperti apa."
__ADS_1
"Iya,Pa."Bastian pamit untuk kembali ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Bastian langsung membuka lemari yang berisi tempat penyimpanan barang-barang pemberian Mauren saat dia berulang tahun mulai kecil.
Kini jam tangan pemberian Mauren juga akan menghuni lemari itu. Bastian buka jadi tidak memakai jam itu. Hanya saja dia takut memakai jam tangan itu. Takut kalau jam tangan itu akan rusak dan dia akan kehilangan kenangannya. Sebab menurut Bastian, semua kado-kado yang disimpannya ada sebuah cerita kenangannya bersama Maureen. Sama seperti jam yang baru saja disimpannya di dalam lemari. Jika beberapa tahun yang akan datang dia melihat dan membuka kotak jam tangan itu, pasti Bastian akan langsung teringat dengan kejadian saat berada di cafe tepat di lantai atas hotel miliknya.
****
Pagi ini Bastian berjalan di lobby hotel dengan wajah cerah. Dia sudah kembali semangat untuk bekerja. selama 1 bulan ini dia lebih banyak bekerja di dalam kamar pribadinya.
Bastian sekarang merambah usaha pertambangan. Selain bisnis perhotelan, rencananya dia akan melebarkan sayap menjadi seorang pengusaha tambang. Karena gedung perusahaannya masih dalam tahap pengerjaan, Dia terpaksa menggunakan hotel ini sebagai kantornya. mengenai bisnis restoran dia akan menyerahkan itu pada adiknya. Adik satu-satunya untuk mengurus usaha itu jika Papanya Sudah pensiun.
Tak jauh berbeda dengan Bastian, hari ini Mauren memasuki kantor dengan terus menebar senyum. Tidak seperti kemarin-kemarin, jangankan namanya tersenyum menatap pada karyawannya pun tidak.
"Tumben kamu hari ini tersenyum pada semua karyawan saat di lobby?"tanya Atalia yang juga merasa heran pada sahabatnya.
Mauren tidak menjawab, dia hanya mengulum senyum.
"Hmmm .. aku tahu, pasti kamu sudah baikan dengan Kak Bastian ya?"tebak Atalia.
"Ini kantor, bukan untuk membicarakan masalah pribadi."
Tok tok tok....
"Masuk!"
Mauren mengambil kartu ucapan pada buket bunga itu. "Selamat bekerja sayangku, Semoga hari-hari kamu menyenangkan."
Atalia melihat Mauren tersenyum saat membaca kartu ucapan. Dia juga melihat atasannya macam bunga sambil memejamkan mata, menghirup aroma bunga mawar putih. Atalia yang sudah menemukan jawaban itu langsung pamit keluar ruangan, melanjutkan kembali pekerjaannya.
Mauren mau ngambil ponselnya di dalam tas, Gadis itu ingin menghubungi Bastian.
"Assalamualaikum Sayang. Ada apa?"
"Kak, mulai besok nggak usah kirim bunga lagi ya."
"Kenapa sayang? kamu nggak suka?"
"Bukan begitu, kak. Kita kan sudah jalan bareng, Jadi Kakak nggak perlu kirim bunga lagi."
"Iya, sayang. bunga itu hanya bentuk rasa syukur kakak saja karena kamu sudah mau kembali sama kakak."ucap Bastian sambil mengembangkan senyumnya ketika mendapatkan sambungan telepon seluler dari sang kekasih.
Setelah beberapa menit berbicara di dalam sambungan telepon seluler, keduanya pun menyudahi telepon, karena mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Sore harinya, Cornel mengajak Richard bertemu di sebuah kafe langganan mereka saat masih lajang dulu. cafe yang sudah turun temurun itu sampai sekarang masih bertahan walaupun tidak seramai dulu lagi.
__ADS_1
Cornel sudah lebih dulu sampai di Cafe itu. dia yang tidak terikat dengan jam kerja itu bisa sesuka hati keluar dari ruang kerja restorannya. Tidak seperti Richard yang keluar kantor selalu sore.
Nampak di luar sana mobil Richard baru saja memasuki halaman Cafe. Cornel melihat itu melalui dinding cafe bagian depan yang terbuat dari kaca berbahan tebal.
"Sorry aku telat bro."Richard mengambil posisi duduk berseberangan dengan Cornel. "Ada apa Cornel, tumben kamu ngajakin aku nongkrong di hari kerja seperti ini, terus cuman kita berdua saja, yang lain nggak ikut?"
"Iya, cuma kita berdua. Aku cuman mau ngomong berdua sama kamu."
"Kamu mau bicarakan apa Cornel?"
Cornel mengangkat tangan kanannya, pria itu memanggil pelayan Cafe. "lebih baik kamu pesan minuman dulu."
Setelah memesan minuman, Richard kembali bertanya maksud cornel mengajaknya bertemu sore ini.
"Kamu tahu nggak anak kita sedang menjalin sesuatu hubungan?"
Richard menggelengkan kepalanya. "Aku tahunya mereka cuman sebatas dekat, semacam pendekatan."
"Rupanya Mauren belum cerita sama kamu."
"Terbuka?"maksudnya, apa kamu mengetahui sejauh mana kedekatan mereka?"
Cornel mengangguk. "Ya, aku mengetahuinya. Bastian sudah cerita sama aku. mereka sudah satu bulan menjalin hubungan."
"Pacaran maksud kamu?"
"Iya lah, apa lagi?"jawab Cornel gemas
"Richard, Bagaimana kalau mereka segera kita nikahkan?"
Richard menggeleng cepat. "Maaf, aku bukannya mau nolak Bastian. anak kita baru satu bulan pacaran, masa kita suruh mereka nikah?"
"Masih mendingan anak kita pacaran 1 bulan. kalau sesuai aturan agama justru disuruh menikah tanpa pacaran. Kamu saja dulu dengan Dora menikah tanpa pacaran."
"Kamu jangan mengambil contoh dari aku Cornel. kan kamu tahu sendiri Antara Aku dan Dora sudah ada anak sebelum kami menikah."
"Richard, anak kita itu bukan baru mengenal satu bulan. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil, sudah tau kekurangan masing-masing. Jadi menurut aku, alangkah baiknya, kita segera menikahkan kamu juga pasti akan merasa tenang kalau Putri kamu sudah menikah."
"Tenang apaan. buktinya dulu saat putriku kawin sama Bimbim, Kamu tahu kan dia gimana? jadi walaupun barang sudah menikah, aku sebagai bapaknya tetap akan mengawasinya. Aku tidak bisa tenang sebelum aku melihat Mauren benar-benar bahagia dengan pasangannya."
Cornel berdecak. "Kamu harus percaya pada Bastian. Dia belum pernah pacaran. dia dari dulu sudah menyukai putrimu, hanya saja keduluan oleh si dosen itu. Ayolah bro, Kita kan sudah lama sahabatan. Aku mau kita jadi besok."cornel terus berusaha membujuk Richard.
"Aku tidak bisa memutuskan sendiri. karena ini menyangkut pernikahan Mauren, aku harus membicarakannya dulu dengan keluarga besar ku."
Pelayan datang membawa minuman kopi pesanan Richard. Pembicaraan keduanya berakhir dengan kesepakatan menunggu keputusan keluarga besar Richard dan Dora.
__ADS_1
bersambung..