Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 202. MASIH BERHARAP


__ADS_3

Setelah Bastian pergi menuju kamarnya melalui pintu samping, Bimbim dan Mauren lalu melangkah mengikuti orang tuanya. "untung aku ada di belakang kamu Mauren. seandainya nggak ada, bisa aja tuh terlentang kamu di lantai keramik."


"Iya,Bim. Terima kasih ya. Kamu dan Kak Bastian sudah berusaha melindungi aku."


Malam ini mereka semua memutuskan untuk duduk di lesehan, karena kursinya tidak cukup untuk mereka.


Mauren dan Bimbim ikut bergabung. keduanya duduk bersebelahan. lalu mengambil sosis bakar kesukaan Mauren. dia letakkan di piring Mauren.


"Terima kasih Bim."Mauren tersenyum ke arah Bimbim.


"Kamu mau apa lagi, Mauren? biar aku ambilkan."Bimbim terus berusaha mencari perhatian pada Mauren. Berharap, Mauren memberikan kesempatan kepadanya untuk kembali rujuk.


"Nggak usah, Bim. Aku bisa ngambil sendiri. lebih baik kamu makan sekarang."ujar Mauren. Mauren berusaha menjaga jarak dari Bimbim, dia tidak ingin kalau Bimbim terlalu berharap darinya.


sementara'di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Bastian. Bastian langsung masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu terpaksa mandi kembali malam ini. Dia hanya mandi sebentar saja, karena tidak mau ketinggalan acara makan malam bersama Mauren dan yang lainnya.


Ponselnya yang masih basah diletakkan begitu saja di atas nakas. setelah mengenakan pakaian santainya dan merapikan rambutnya yang basah, Bastian bergegas turun ke bawah menghampiri semua orang yang hadir untuk ikut makan malam bersama.


"Itu Bastian sudah datang."ucap Cornel.


"Duduk di sana, Bastian."Cornel menunjuk tempat kosong yang ada di samping Mauren. Bastian mengangguk dan langsung duduk di samping Mauren.


"Kakak mandi lagi ya?"tanya Mauren, karena aroma sabun dari itu Bastian menguar ke indra penciuman gadis itu.


"Iya, Mauren. Kakak sekalian mandi."


"Ponsel Kakak gimana?"


"Kakak masih belum tahu. Nggak usah dipikirkan."


Cornel dari tadi memperhatikan interaksi antara Bastian dan Mauren. Pria itu melihat tatapan keduanya penuh cinta. jika memang Bastian dan Mauren saling mencintai, Cornel akan mendukung hubungan itu. itu artinya dia akan berbisa dengan Richard. Cornel yakin, putranya tidak akan pernah menyakiti Putri Richard.


Satu jam kemudian, mereka bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Terlihat Maureen sedang melepaskan jaket milik Bastian.

__ADS_1


"Mauren, tidak usah dilepas. kamu bawa pulang saja jaketnya,"cegah Bastian.


"Enggak kak. nanti nih mobil sudah nggak dingin lagi kok."sahut Mauren.


"Terima kasih ya kak."Mauren menyerahkan jaket itu pada Bastian.


"Sama-sama, Mauren."


Kini semua orang melangkah ke arah mobil mereka masing-masing. pandangan Bastian dari tadi tak bisa lepas dari Mauren. dan hal itu kembali menjadi perhatian cornel.


"Bim, kamu mau pulang ke rumah Mana? tanya Fernando.


"Ke rumahku sendiri, Pa."Bimbim melanjutkan langkahnya menuju mobil.


Setelah semua orang pulang, Bastian bergegas masuk ke dalam kamarnya. pria itu ingin melihat kondisi ponselnya. dia membawa ponselnya itu ke siapa yang ada di depan ranjang.


Di sana dia mencoba mengeluarkan SIM card-nya. selalu mengalah bagian ponsel yang basah dengan tisu. Setelah memastikan ponsel sudah kering, Bastian mencoba menyalahkan ponsel itu kembali. tapi ponsel itu tidak bisa menyala.


Bastian sudah menduga, pasti beberapa komponen di dalam ponsel itu rusak akibat terkena air dari kolam. Bastian lalu membuka lagi nakasnya. Seingatnya dia masih memiliki ponsel cadangan. Namun, ternyata tidak ada ponsel lagi di laci itu.


Sementara itu, Bimbim malam ini memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. jika ingin menenangkan diri, dia lebih memilih untuk pulang ke rumahnya. sebab di rumah orang tuanya, dia tidak bisa tenang di sana. terkadang Papanya sering memanggilnya ke ruang kerja, mengajaknya mengobrol tentang pekerjaan. belum Lagi gangguan dari kedua adik kembarnya, yang sering masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


Setelah membersihkan badannya, pria itu duduk di sofa dalam kamarnya, Bimbim nampak termenung di sana. Pikirannya kembali teringat saat kejadian beberapa jam yang lalu. Masih terekam dengan jelas di ingatannya, Bastian memperlakukan orang begitu hangat saat menggantungkan jaket pada kedua pundak mantan istrinya itu.


"Kenapa Bastian begitu perhatian terhadap Mauren? apa Bastian juga mencintai Maureen? pertanyaan itu timbul di hati bimbing.


Pria itu juga kembali teringat saat Bastian menyelamatkan Mauren yang hampir jatuh ke dalam kolam renang. dia menilai apa yang dilakukan oleh Bastian sebagai sahabat sudah sangat berlebihan. sampai seperti itu Bastian menjaga, pikirnya. mengorbankan diri jatuh ke air, ponselnya juga sudah dipastikan rusak. padahal tidak ada ikatan apa-apa antara Mauren dengan Bastian.


Di tempat lain, setelah sampai di rumah, Mauren langsung mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya. Segera dia keluar kan ponsel yang ada dalam tas. gadis cantik itu lalu duduk bersila di atas ranjang sambil tangannya mencoba mencari kontak ponsel Bastian.


Mauren penasaran sekaligus khawatir dengan ponsel Bastian. dia takut ponsel itu rusak dan data-data penting yang ada di dalam ponsel juga ikut hilang. Terlihat Mauren menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya setelah ia menemukan nomor kontak Bastian di layar ponselnya. namun yang terdengar hanya suara operator yang menyapa dirinya.


"Aduh, ponsel Kak Bastian gak aktif."itu berarti ponsel Kak Bastian pasti rusak."gumam Mauren di dalam hati.

__ADS_1


Mauren lalu mencoba mengirim pesan ke nomor Bastian. Hal ini dia lakukan agar dia tahu jika Bastian sudah mengaktifkan kembali ponselnya. Mauren akan merasa bersalah sekali Jika ponsel Bastian sampai rusak.


"Malam Kak, gimana ponsel kakak? pesan itu yang dikirimkan oleh Maureen kepada Bastian.


Setelah mengirim pesan, Mauren langsung memberikan tubuhnya. pikirannya kembali membawanya pada kejadian saat berada di kolam. Wanita itu kembali teringat saat pasti meminjamkan kembali jaketnya dan langsung memasangkannya di Mauren. Ada lagi yang tidak bisa dilupakan oleh Maureen, iya itu momen diselamatkan oleh Bastian ketika hampir jatuh di kolam renang. Andai saja Bastian tidak menyelamatkannya, pasti dia yang jatuh ke air.


"Kak Bastian, kamu kok baik banget sih?"ucap Mauren dalam hati. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.


Beberapa saat kemudian, ponsel Mauren berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk. Mauren yang hampir terbang ke alam mimpi langsung membuka matanya. Gadis itu bergegas mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Senyumnya seketika mengembang, matanya yang sudah mengantuk kini kembali segar saat melihat pesan di aplikasi hijau itu ternyata dari Bastian.


"Mauren, Apa kamu sudah tidur? Maaf ya kakak baru bisa membalas pesan kamu."


"Belum Kak."ponsel Kakak gimana? apa baik-baik saja kak?"


"Kakak belum tahu Mauren. sampai sekarang ponselnya Kakak masih belum bisa dinyalakan. Tapi alhamdulillah kartu sim Kakak masih bisa digunakan."balas balas Bastian.


"Terus gimana Kalau ponsel Kakak rusak? pasti banyak data-data penting yang hilang."ucap Mauren merasa bersalah


"Kalau data yang di email masih aman, kakak hanya sedih saja foto-foto kamu dan kakak saat di New Zealand akan hilang."pesan yang dikirim Bastian dibubuhi dengan emotion sedih. Padahal Bastian masih punya foto itu di laptopnya.


"Kalau foto-foto yang ada di New Zealand, aku masih punya nanti aku kirim ya Kak."


"Kakak nggak mau foto itu lagi, Kakak mau foto yang terbaru."


"Maksudnya Kak?


"Kita bikin foto yang baru."balas Bastian


"Maksudnya kita ke New Zealand lagi Kak?"


"Iya,"sahut Bastian singkat.


Mauren bergeming, dia seketika teringat dengan ucapannya waktu itu. Kalau dirinya ingin kembali ke New Zealand bersama dengan Bastian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2