
"Semua barang-barang kalian sudah berada di mobil ini? tidak ada yang ketinggalan kan?"tanya Pak Richard saat dia baru saja duduk di kursi kemudi.
"Sudah Pak."sahut Morissette yakin.
"Barang-barang aku gimana? tanya Dora, dia tidak tahu kalau Moresette sudah membereskan barangnya.
"Kamu tenang saja, semuanya barang kamu sudah aku masukin ke dalam tas kamu. Itu tas kamu sudah ada di jok belakang."tunjuk Moresette ke arah jok paling belakang.
"Kamu sudah masukin jam tangan aku nggak, ke dalam tas?
"Jam tangan?"tanya Moresette lirih ingatnya tadi dia tidak merasa membuat jam tangan kertas Dora.
Moresette lalu berbalik ke arah Dora. "Aku nggak ada lihat jam tangan kamu Dor, Memangnya kamu di mana menaruh jam tangan kamu?" tanya Moresette
"Tadi malam, aku taruh di dekat tempat aku tidur." lalu Dora membuka pintu mobil.
Amor langsung menarik tangan Dora agar Dora tetap di dalam mobil. "Kamu mau ke mana?
Dora menoleh ke arah Amor. "Aku mau ke tenda mau ambil jam tangan aku."
"Dora, kamu tetap di sini. Di luar cuaca ya lagi terik, Nanti kamu malah pingsan lagi. Biar aku saja yang ambil jam tangan kamu di dalam tenda." Okey Dora mengangguk pelan.
Moresette lalu membuka pintu mobil "Sebentar ya Pak. Saya mau ke tenda dulu mau ambil jam tangan Dora."ucap Moresette sebelum dia keluar dari dalam mobil.
"Iya," jawab Pak Richard singkat dalam hatinya. Ia memuji persahabatan tiga wanita ini, yang begitu setia kawan.
"Mata Pak Richard terlalu mengikuti kemana kaki Moresette melangkah tiba-tiba. Pak Richard tersentak dan membulatkan matanya, saat melihat Moresette masuk ke dalam tenda paling ujung. Tenda yang diyakini adalah tenda yang tadi malam dia masuk.
Sebuah pertanyaan muncul di benak Pak Richard. "Siapa di antara ketiga wanita ini yang tadi malam aku....??? Pak Richard lalu memejamkan matanya mencoba menerka-nerka siapa wanita itu.
Lalu matanya melirik ke arah kaca spion bagian dalam mobil dilihatnya. Dora sedang bersandar di sandaran jok wanita itu terlihat melamun. Tatapan matanya kosong.
"Apakah dia gadis itu? tanya Pak Zidan di dalam hati
Saat Moresette turun dari dalam mobil untuk mengambil jam tangan di dalam tenda, Dora lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil itu.
Tatapannya terlihat kosong. Pikirannya melayang pada kejadian tadi malam. Dia kembali teringat Bagaimana pria itu mengambil apa yang sudah dia jaga selama ini.
Berbagai pertanyaan menakutkan terlintas di pikiran Dora. Bagaimana nanti saat dia menikah? bagaimana nanti Saat suaminya tahu kalau dia sudah tidak suci lagi? dia begitu sangat sedih, bagaimana dia bisa menjalani hari-harinya setelah ini.
__ADS_1
Masa depannya sudah tidak ada lagi. cita-citanya untuk menjadi wanita karir sudah kandas.
lamunannya terpecahkan saat Moresette membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil.
"Dora, bener nggak ini jam tangan kamu?"tanya Moresette menunjukkan sebuah jam tangan yang bagian lingkaran yang bertabur berlian.
Jam tangan itu terbuat dari emas putih. Jam tangan itu pemberian Tuan Bernando Antonius saat dia berulang tahun satu tahun yang lalu.
Dora lalu melihat ke arah jam tangan yang ada di telapak tangan kiri Moresette.
"Iya, Terimakasih ya say."dia Lalu mengambil jam tangan itu lalu mengenakannya di pergelangan tangannya.
Obrolan kedua wanita itu tidak lepas dari sorot mata Pak Richard melalui kaca spion mobil bagian dalam.
Pak Richard sejak tadi sedang memperhatikan Dora, tanpa sepengetahuan Moresette yang duduk di samping kursi kemudi. Karena Moresette saat ini sedang sibuk berbalas pesan dengan orang tuanya.
"Bagaimana, sudah beres semuanya? tidak ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Pak Richard sebelum dia menginjak pedal gasnya.
"Sudah Pak." sahut Amor
Pak Richard lalu menjalankan mobilnya perlahan keluar dari area perkemahan.
Sekitar satu jam kemudian, mobil tersebut sudah keluar dari area perkebunan. Kini mereka sudah sampai di Ban Khai yang penduduknya lumayan padat.
Bangunan-bangunan disana juga sudah lumayan banyak. Terdapat ruko-ruko dan beberapa minimarket dan beberapa Hotel sederhana berada di sana. Tidak ketinggalan warung-warung kecil dan Rumah Makan memenuhi area sisi jalan.
Cacing-cacing di perut Moresette berbunyi. wanita itu langsung memegangi perutnya Seakan ingin mencegah perutnya tersebut agar tidak mengeluarkan bunyi lagi, yang menurutnya sangat memalukan itu.
"Kita sebaiknya mampir dulu di rumah makan untuk makan siang. Kalian pasti belum makan siang kan?" ucap Pak Richard. Matanya sambil menoleh ke arah kiri dan kanan ingin melihat keberadaan rumah makan di sekitar tempat itu.
"Kalian mau makan apa? tanya Pak Richard.
Hening sesaat.
Moresette menoleh ke arah dua orang sahabatnya seolah meminta pendapat. Dora tidak berekspresi. Sedangkan Amor hanya mengerdikkan bahunya saja.
Moresette lalu menghela nafas panjang. "Terserah Pak Richard saja mau makan apa, kami ikut saja."
Pak Richard selalu manggut-manggut dia Lalu membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan yang menjual makanan dengan menu ikan bakar.
__ADS_1
Pak Richard lalu memarkirkan mobilnya di halaman rumah makan itu. "Di Antara Kalian ada yang nggak bisa makan ikan?
"Ada Pak, Dora. Dia nggak suka makan ikan." sahut Moresette
Pak Richard lalu menggaruk tengkuk belakang kepalanya. Kalian tunggu di sini sebentar ya ." ucapnya sebelum dia keluar dari dalam mobilnya.
Pak Richard terlalu pada jalan ke arah dalam rumah makan. Dia bermaksud ingin menanyakan apakah di tempat itu ada menu selain ikan. Dia Lalu mendekat ke arah wanita yang ia kira pemilik warung
"Bu, maaf. Di sini selain ikan bakar ada jual apa lagi ya?
"Di sini ada juga ayam bakar den." sahut ibu itu.
"Baik Bu, kalau begitu saya mau panggil teman-teman saya dulu." ucap Richard lalu Pak Richard melangkah kembali ke arah mobilnya. Dia membuka pintu mobil sebelah kemudi, untuk mengambil ponselnya yang diletakkan di atas dashboard mobil.
"Ayo kita ke dalam, di sini juga ada menu ayam bakar." ajak Pak Richard pada ketiga mahasiswi
"Dora...Dora..." Amor menepuk punggung tangan Dora yang sepanjang jalan kepalanya dia sandarkan pada bagian sandaran mobil itu, dan kedua matanya dia pejamkan seolah-olah dia tidur. Padahal dia hanya memejamkan matanya saja, sambil pikirannya melamun memikirkan hari esok yang akan dijalaninya.
Merasa Amor memanggilnya, Dora lalu membuka matanya.
Dora mengikuti Amor keluar.
Keempatnya lalu berjalan memasuki rumah makan.
Terlihat Dora yang berjalan pelan sekali. "Kenapa Dora? apa Ada yang sakit? apa kakimu sakit? karena dari tadi aku lihat kamu jalan pelan. Waktu kita jalan di perkebunan juga kamu jalan sedikit pelan dari biasanya.
Dora tidak menjawab. Dia hanya menggeleng lemah.
Pertanyaan yang diajukan oleh Amor cukup terdengar jelas di telinga Pak Richard yang berjalan lebih dulu di depan mereka dengan jarak tidak terlalu jauh dari posisi Dora dan Amor.
Semakin bertambah saja keyakinan dalam dirinya, bahwa benar Dora lah wanita itu. Karena di usia yang sudah terbilang cukup matang, Pak Richard seringkali mendengar obrolan teman-temannya yang sudah menikah. Yang menceritakan saat malam pertama bersama istrinya, yang mana seketika pagi hari mereka harus menggendong istri ke kamar mandi, karena bagian bawah istrinya terasa sakit sehingga membuat istrinya susah berjalan.
Suasana semakin terik menjelang sore itu cukup hening, tidak ada obrolan sama sekali. Amor dan Moresette merasa segan pada Pak Richard, jika makan sambil diselingi dengan obrolan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"