
Terlihat Mia dan Afrian sudah berada di pelaminan. Di samping kiri dan kanan Mia dan Afrian ada orang tua masing-masing sudah berdiri di sana. Kedua pasang paruh baya itu berpakaian sama. Bahkan model rambut Nyonya Alena dan nyonya Yasinta juga sama.
Sebagian dari tamu undangan yang sudah hadir di hotel itu termasuk sahabat dari Mia Afrian, Dora. Tak ketinggalan juga Antonius.
Moresette dari tadi melihat ke arah Antonius yang sedang sibuk dengan benda pipinya.
Moresette menghampiri pria tampan itu. " Kak sudah ambil makanan belum?"
"Belum Moresette." sahut Antonius fokusnya masih ke benda pipinya. Pria itu sedang sibuk berbalas pesan dengan seseorang.
"Mau aku ambilkan Kak ?" tawar Moresette
"Nggak usah, kamu lebih baik makan saja sama yang lain." Antonius seperti mengusir Moresette secara halus.
Sedangkan Cornel melihat Amor dari kejauhan. Tak terasa waktu berlalu sebentar. Momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para wanita, akan dimulai. Para wanita disuruh oleh MC untuk mengambil tempat posisi di tengah wanita yang sudah menikah disuruh MC, untuk ke pinggir. Nampaknya Dora menyuruh teman-temannya ikut acara itu. Dora menarik Amor ke tengah.
Richard yang melihat istrinya berada di tengah, langsung menghampiri istrinya. "Sayang, kamu ngapain Di sini juga, kamu mau kawin lagi?
"Enggak Mas, aku cuman nganterin Amor saja."
Richard lalu menggandeng tangan istrinya, dibawa istrinya duduk di pinggir pria itu, mengkhawatirkan istrinya dan bayinya dalam kandungannya. Karena mulai tadi siang belum ada istirahat.
Setelah itu Afrian dan Mia diperintahkan oleh MC bersiap melempar buket bunga.
"Tamu yang berada di sisi kanan dan kiri bisa ikut yang menghitung." seru MC mengajak semua tamu undangan mengikutinya.
Tigaaaa...Duaaaaa...Satu...." ucap MC dan para tamu undangan.
Buket bunga tersebut dilempar kedua mempelai. Moresette dan Irene begitu semangat ingin mendapatkan bunga itu. Namun bunga itu jauh dari jangkauan keduanya. Amor yang diam saja dari tadi, malah wajahnya akan terkena lempar buket bunga kalau saja dia tidak menangkapnya.
Dora yang melihat Amor mendapatkan buket itu, dia langsung setengah berlari mengejar Amor. Richard melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Amor, ternyata kamu yang dapat bunganya, berarti kamu bakalan cepat nikah."
"Nikah? sama siapa?" ngaco kamu!"
Tampak banyak para tamu undangan memberi selamat kepada kedua mempelai. " "Kak, tamunya rame juga ya, kakiku sudah pegal berdiri terus menyalami mereka."keluh Mia kepada Afrian.
"Sabar Sayang, sebentar lagi acaranya kelar kok. lihat saja satu persatu tamu undangan sudah pada pulang." ucap Richard setelah para tamu undangan memberi salam kepada mereka, satu persatu meninggalkan tempat resepsi mereka diadakan. Setelah mencicipi menu makanan yang terhidang di sana.
***
Afrian juga mengajak Mia untuk segera ke kamar. "Kak jalannya jangan cepat-cepat gaun yang aku kenakan susah buat dipakai jalan cepat." ucap Mia saat Afrian yang sedikit tergesa-gesa berjalan ke menuju kamar
Sedangkan Tuan Andalas Nyonya Yasinta memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena tatapan Tuan Nicholas terhadap Tuan Andalas sangat tidak bersahabat.
Berbeda dengan Tuan Bernando. Tuan Nicholas begitu ramah pada besarnya yang satu itu.
Di dalam kamar, Mia tampak Nyonya Alena Mauren dan Dora sedang berada di kamar itu membantu Mia melepas aksesoris yang dikenakannya di rambutnya. Ketiganya tidak menyadari kegelisahan hati Afrian yang ingin sekali test drive sore itu. Berulang kali pria itu keluar masuk dari balkon kamar. Namun tiga orang wanita itu masih saja duduk di kasur Mia sambil sesekali bercanda
"Ting!" sebuah notifikasi pesan dari grup.
"Afrian perlu obat kuat nggak buat nanti malam?"pesan Whatsapp Itu dikirimkan oleh Cornel
"Perlu kami ajarin nggak sih?"komentar Fernando.
__ADS_1
"Awas, ya. Kalau besok adik aku nggak bisa jalan!"ancam Richard.
"Hallah.... nggak perlu obat kuat. Langsung tiga ronde pun aku sanggup. Aku juga nggak perlu diajarin. Buku kamasutra sudah aku kuasai. Dan kakak ipar, aku nggak bisa janji kalau besok Mia bisa jalan. Kamu kan tahu aku sudah menunggu momen ini bertahun-tahun. Sudah pasti banyak rapelannya."
Dora Nyonya Alena dan Mia pun keluar dari kamar itu. setelah mereka selesai membantu membuka aksesoris dan kain kebaya yang dikenakan oleh Mia.
Brak
Bunyi pintu yang ditutup Afrian yang sedikit kencang seperti orang terburu-buru menutup pintu.
"Sayang, Kakak boleh nyoba sekarang?
"Apaan sih, Kak. Aku aja belum mandi rambut juga masih acak-acakan kayak gini." tolak miya.
"Nggak usah mandi Sayang. Nanti kamu bakalan keringatan juga." bujuk Afrian.
"Nggak pokoknya kita harus mandi dulu." tegas Mia.
Akhirnya Afrian terpaksa mengalah." Kakak mandi duluan ya."
"Iya."
Setelah itu, Afrian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Mia, wanita itu duduk di kursi rias berusaha memperbaiki rambutnya .
Lima belas menit kemudian, Afrian keluar dari kamar mandi, dia langsung berjalan menghampiri Mia yang masih duduk santai di kursi meja rias.
"Sayang, Kok bajunya belum dilepas?"
"Susah Kak, resletingnya terlalu panjang."
Afrian lalu mencoba menarik resleting gaun pengantin
Afrian menelan kasar salivanya saat melihat punggung putih mulus istrinya.
Sayang, kamu nggak usah mandi ya, Mas sudah nggak sabar mau bikin kamu teriak-teriak seperti Dora di ruang gym.
"Enggak Kak, aku mau mandi. Mia melangkah ke arah kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian, Afrian yang masih mengenakan selembar handuk di bagian pinggang yaitu, sudah sepuluh menit berdiri mondar-mandir depan pintu kamar mandi. Namun, istrinya sampai saat ini belum juga keluar dari dalam kamar mandi.
Tok ...
Tok ...
Tok ....
Sayang kok lama banget mandinya.
Bentar Mas, aku masih berendam." bohong Mia. Padahal dia sudah sepuluh menit yang lalu selesai mandi. Dia juga mondar-mandir di balik daun pintu kamar mandi.
"Aduh, gimana ya. Aku takut, kalau aku keluar pasti akan langsung diterkam Ka Afrian. tapi keluar sekarang atau satu jam lagi, pasti akan sama juga pada akhirnya." batin Mia.
Akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi.
Ceklek!
__ADS_1
Mia membuka daun pintu kamar mandi. Afrian menetapnya dengan mata berbinar dilihatnya istrinya saat ini hanya mengenakan bathrobe.
"Aaaaa...." teriaknya saat Afrian langsung menggendongnya dan membawanya keranjang yang bertabur kelopak bunga mawar merah dan putih.
Dibaringkannya pelan istri di atas ranjang. "Sayang, mas minta hak mas sekarang ya." Afrian duduk di samping istrinya yang sedang berbaring dengan posisi terlentang.
"Tapi aku takut, Pasti sakit."
"Kakak akan pelan-pelan sayang, ya boleh, ya." bujuk pria itu dengan wajah memelas.
Mia mengangguk dia juga penasaran dengan kegiatan yang membuat kakak iparnya itu teriak keenakan.
Setelah mendapatkan lampu hijau Afrian langsung mencium kening, pipi dan bibir istrinya. Afrian yang dulu pernah melakukan ciuman bersama pacarnya itu begitu lihai mengecup bibir istrinya. Tidak seperti Mia, Ini merupakan ciuman pertama untuknyam. Jadi Mia lebih kaku dan terkesan banyak diam.
"Kamu belum pernah ciuman ya, sayang?" tanya Afrian sangat melepaskan pagutannya untuk mengatur nafasnya.
Mia menggeleng. Melihat itu Afrian tersenyum bahagia. Karena memang Mia terjaga kesuciannya.
Afrian lalu melanjutkan kembali pemanasannya. Hingga tangan kanannya menarik bathrobe milik Mia. Dengan secepat kilat, pria itu membuka bathrobe itu dari tubuh Mia. Kini tubuhnya hanya ditutupi oleh dua kain saja di bagian inti dan bagian tubuhnya. Afrian melanjutkan pemanasan kembali adik kecilnya yang sejak tadinya sudah menegang itu, tidak sabar untuk segera ditenggelamkan.
"Besar banget Kak?" ekspresi Mia meringis mengatakannya karena dia sudah membayangkannya.
"Yang besar ini akan membuatmu enak sayang." Afrian membanggakan adik kecilnya.
Keduanya kini dalam keadaan polos dan ditutupi oleh selimut.
"Kakak mulai ya, sayang."
"Pelan-pelan." Mia memperingatkan
"Iya."
Tok ...
Tok ..
Tok ...
Pandangan keduanya langsung mengarah ke pintu kamar .
"Tidak usah dipedulikan, kita lanjut sayang. Kakak tinggal selangkah lagi."
"Afrian bersiap kembali untuk menenggelamkan adik kecilnya."
suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga keduanya kembali.
"Kak, lebih baik dibuka saja, biar kita nggak diganggu lagi."
Afrian memukul kasur di samping kasur . setelah itu dia turun dan melingkarkan kembali handuk di pinggangnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN