
Tidak butuh waktu lama, dua orang berbaju hitam itu keluar membopong tubuh Maya yang terkulai lemas karena efek obat bius.
"Ayo cepat! Saya takut kita ketangkap warga."seru Bastian khawatir.
Pria berbaju hitam itu hanya mengangguk saja. Keduanya nampak tenang, sebab sudah terbiasa berada dalam situasi seperti ini. berbeda dengan Bastian yang belum pernah menangani kasus yang tak saat ini mereka jalani.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Bastian menjalankan kembali mobilnya menuju markas. Jalanan malam yang terasa lenggang itu membuat Bastian melajukan mobilnya begitu cepat. Hingga akhirnya mobil itu tiba di depan pintu markas.
Richard dan Cornel masih berada di sana, tapi keduanya berada di lantai atas, sebab di lantai atas itu terdapat dua buah sofa panjang yang bisa untuk dipakai istirahat oleh Richard dan Cornel.
Ketika mendengar bunyi mobil di pekarangan, Richard dan Cornel segera keluar dari ruangan itu. Keduanya langsung turun ke ruang bawah tanah. Di sana rumah yang diletakkan pada sebuah kursi. kedua tangan dan kakinya diikat oleh anak buah Richard.
"Siram wanita itu!"seru Richard karena merasa geram melihat wanita yang sudah menyakiti putrinya.
Kepala Maya yang awalnya menunduk kini perlahan mulai tegak. Matanya yang awalnya terpejam rapat kini kelopaknya berangsur terbuka setelah anak buah Richard menyiramnya dengan 1 ember air.
"Pak Bastian, Pak Cornel."ucap Maya lirik saat melihat dua orang yang dikenalnya. Kepalanya masih sedikit pusing.
"Selamat datang di tempat ini, kamu adalah wanita kedua yang masuk ruangan ini."ucap Richard.
"Siapa anda?"
Richard tersenyum menyeringai ke arah Maya. "saya adalah Papa mertua Bastian."
"Saya tidak mengenal Anda. Kenapa anda membawa saya ke sini?"
"Hanya seorang penjahat saja yang pantas berada di tempat ini, Jadi kamu jangan sok suci."
"Maksud anda apa, saya tidak mengerti?"Maya terus saja merasa tidak melakukan kesalahan.
"Pak Bastian, Tolong bantu bebaskan saya. Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kenapa saya dikurung di sini?"
Bastian melangkah ke arah Maya, dengan jarak hanya 1 meter dari wanita itu dia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Maya. Wajah wanita itu menoleh ke arah kanan.
"Coba lihat ke belakang, sebelah kanan kamu!"bentak Bastian.
Maya Terkesiap melihat pelayan restoran hotel suruh hanya itu berada di tempat ini juga. "Si... Siapa dia, aku tidak mengenalnya?"
"Kamu tidak usah berpura-pura. Dia bilang, kamu yang menyuruh dia untuk memberi obat perangsang pada istri saya.'
"Itu fitnah, Bapak jangan percaya dengan dia."
"Betul Pak Bastian, Saya tidak memfitnahnya di ponsel saya ada bukti transaksi dia mentransfer ke rekening saya."sahut pelayan itu.
"Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi Maya. cepat katakan, apa salah istri saya, pada kamu sehingga kamu tega melakukan hal menjijikkan itu pada istri saya!"
"Dia pantas mendapatkan itu. Saya benci dengan istri kamu Bastian, Saya benci!"
Maya yang melihat itu mulai ketakutan. "saya membenci istri Bastian karena dia merebut Bastian dari saya."
"Merebut, kata kamu?"Bastian tersenyum remeh.
"Sejak kapan saya menjadi milik kamu?"
"Apa tujuan kamu memberi obat perangsang seperti itu pada putri saya?"tanya Richard dingin.
"Sa....Saya hanya ingin mempermalukan saja, agar dia membuka pakaiannya di depan orang-orang."
Plak!
Bastian kembali mendaratkan telapak tangannya ke pipi mulus itu, sehingga pipih Gadis itu terasa kebas. Dia sangat marah mendengar alasan Maya. pria itu kembali teringat saat istrinya membuka kancing dan menjadi dalam lift.
Richard langsung memberikan cambukan kepada Maya. Hingga Maya menjerit kesakitan.
__ADS_1
Crasshh!
"Arghhh...." pekik Maya, wanita itu langsung menangis terisak.
Richard yang awalnya hanya ingin menakut-nakuti saja dengan cambuk itu, akhirnya spontan mengayunkan cambuk itu pada Maya setelah Bastian melangkah mundur. pria itu merasa geram setelah mendengar alasan Maya yang ingin mempermalukan Mauren.
"Sudah Bastian, lebih baik kita serahkan saja mereka pada pihak yang berwajib besok pagi."ucap Cornel.
"Tolong, jangan penjarakan saya Pak Bastian. kasihani saya, Bagaimana dengan nasib ibu saya di kampung?"
"Harusnya Kamu berpikir seperti ini sebelum melakukan tindakan buruk itu."sahut Bastian.
"Besok kalian berdua nikmati saja bagaimana hidupnya di balik dinginnya jeruji besi."
"Bastian, Bastian....! Tolong maafkan aku. Aku janji akan meminta maaf pada istri kamu, asal kamu tidak melaporkan aku pada pihak yang berwajib. Kita masih bisa menyelesaikan hal ini dengan cara kekeluargaan. aku janji akan pergi dari kota ini, dan tidak akan mengganggu istri kamu lagi."
"Tidak akan!"sahut Bastian tegas.
"kekeluargaan Seperti apa maksud kamu? saya tegaskan pada kalian berdua, tidak ada kata damai dalam kamus saya untuk orang yang sudah menyakiti istri saya."
Setelah mengucapkan itu, Bastian keluar dari ruang bawah tanah itu menyusul Papanya dan papa mertuanya.
"Apa kita pulang sekarang?"tanya corner setelah ketiganya sudah sampai di teras markas.
"Kenapa tidak pulang pagi saja sambil mengantar mereka ke kantor polisi?"imbuh Cornel.
"Tidak usah, serahkan saja semuanya pada bawahan aku. Mereka sudah terbiasa menangani hal ini."
Cornel lalu masuk ke dalam mobilnya. sedangkan Richard dan Bastian, keduanya juga melangkah menuju mobil. Kali ini Bastian duduk di kursi kemudi.
Bersambung....
Mohon maaf baru update hari ini, karna kesehatan outhor belum pulih total dan baru pulang dari rumah sakit. Tapi outhor usahakan update satu bab satu hari ini.
__ADS_1