Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 45. DIA BUKAN MAMA KU.


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah tepatnya di kota San Diego California, setelah menyelesaikan sarapannya Dora duduk di balkon apartemennya, sambil ditemani dengan secangkir kopi latte.


Dora kemudian mengambil ponselnya yang sejak tadi dia letakkan di atas meja. Dia teringat dengan temannya yang bernama Amor. Mengingat hari ini hari Minggu, jadi Sudah dipastikan saat ini sahabatnya itu sedang libur bekerja.


Dora membuka aplikasi berwarna hijau dan mencari nomor kontak yang bernama Amor. tanpa ada keraguan, wanita itu langsung menekan sambungan video call dengan temannya itu.


Kring ....


Kring ....


Kring ....


Kring....


Cukup lama penggilan terhubung namun Amor belum juga menerima panggilan video darinya.


"Masa jam segini Amor sudah tidur siang?" tanya Dora dalam hati.


Saat Dora meletakkan ponselnya, tiba-tiba dia mendengar pada suara anak kecil yang berbicara.


"Siapa Pa? Mama? tanya Mauren memastikan ucapan ayahnya yang baru saja mengatakan bahwa Mama Dora menelpon.


Richard mengerahkan ponsel Amor ke arah wajah putrinya.


Melihat wajah seorang wanita di layar ponsel, Wanita itu sangat cantik. Dia tampil dengan rambut panjang lewat sebahu.


"Mauren!!ucap Dora terkejut karena tiba-tiba yang ada di hadapannya adalah wajah putrinya.


Mauren lalu mendorong ponsel itu ke arah Papanya. "Bukan Pak, dia Bukan Mamanya Mauren." ucap Mauren sambil mengalihkan pandangannya.


Kini yang nampak di layar ponsel Dora adalah di wajah pria yang sudah 5 tahun belakangan ini, tidak pernah dilihatnya lagi. Terlihat pria dan wanita itu saling berpandangan. keduanya saling terdiam, mulut mereka seolah terkunci untuk beberapa saat.


Sebuah desiran halus muncul dari dalam diri Richard. Wanita yang dulu dirindukannya kini terlihat di depan matanya. Ingin rasanya Dia membelai wajah yang semakin cantik itu.

__ADS_1


Di ujung telepon, Dora terkejut melihat wajah Mauren kini berganti dengan wajah Richard. Kini wajah pria yang sangat ia benci kembali dilihatnya lagi, setelah 5 tahun tidak dilihatnya. Wajah pria itu tidak ada yang berubah, masih sama seperti yang dulu saat di kampus dulu.


Bahkan jika disandingkan dengan dirinya, mereka nampak selisih umur 2 tahun saja.


"Ehem... Ehem... Amor berdehem." keduanya kini tersadar keterpakuannya. "Mana Mauren? Saya ingin bicara dengannya." tanya Dora dingin.


Richard lalu mengalihkan ponsel itu ke depan Mauren. Namun, anak kecil itu menunduk sambil mendorong tangan Papanya. "Nggak mau Pa, Tante itu bukan mama Mauren." ucap Mauren yang dapat di dengar oleh Dora di ujung telepon.


"Mauren, Ini Mama, Coba lihat mama sayang!


Mauren masih menunduk. Justru Mauren menggelengkan kepalanya.


lalu Richard mengalihkan kembali ponsel itu ke wajahnya. "Mauren nya nggak mau, Dora."


Dora tidak menanggapi ucapan Richard. "Mauren!!! Mauren!! ini Mama Dora, nak Hiks....Hiks...hiks."


Mauren tetap tidak mempedulikannya. Richard lalu mengembalikan ponsel itu pada Amor.


"Dora!! Panggil Amor.


"Dora Kamu jangan sedih, ya wajar kalau anak kamu tidak mengenali kamu. Karena sejak kecil kan dia belum pernah ketemu kamu." Amor berusaha memberi pengertian.


"Apa dia membenciku, Amor?" hiks.... hiks.."


"Aku juga nggak tahu Dora, mungkin karena dia tidak mengenalimu saja.


Tiba-tiba seorang pelayan restoran datang menghampiri meja mereka. Pelayan itu menyajikan makanan yang sudah dipesan oleh mereka.


"Dora, nanti kita sambung lagi ya. Aku mau makan siang dulu."


Sambungan video itu terputus.


Setelah sambungan video itu terputus, Dora beranjak dari duduknya dan meninggalkan balkon. Wanita itu berlari ke arah ranjangnya.

__ADS_1


Di sana dia menumpahkan air matanya Kembali. Sakit rasanya ditolak oleh putrinya yang sudah dilahirkannya. Padahal kata Mama Nadia, Nyonya Alena pernah mengatakan bahwa di dalam kamar Mauren terdapat banyak foto-foto dirinya. Tapi kenapa tadi putrinya masih saja tidak mengenalinya?


"Andai saja di San Diego urusannya sudah selesai, pasti hari ini juga dia akan kembali ke Bangkok.


Di restoran terlihat Richard dengan telaten menyuapi putrinya makan. Karena kalau Mauren makan sendiri, pasti akan belepotan yang sudah pasti akan mengotori baju anak kecil itu. Perlakuan Richard terhadap putrinya itu tidak lepas dari perhatian dua wanita yang duduk di seberangnya.


"Sudah Pa, Mauren sudah kenyang." tolak Mauren saat Papanya ingin menyuapinya kembali.


Setelah menyelesaikan makanannya mereka siap untuk keluar dari restoran itu.


"Makanan kalian biar saya saja yang membayarnya." ucap Richard dan dia beranjak dari duduknya.


"Terima kasih Pak." ucap Moresette.


"Mauren, tante pulang dulu ya. Nanti, kita jalan-jalan lagi ke mall kalau mamanya Mauren sudah selesai sekolahnya." ucap Amor lirih.


"Kapan tante?


"Sebentar lagi."


"Ayo Mauren kita ke kasir." ajak Richard yang sudah memegang tangan putrinya.


"Pak, kami duluan ya. Terima kasih traktirannya." pamit Amor.


Richard hanya mengangguk.


Sepulang dari mall, Mauren langsung masuk ke dalam kamarnya. Ketika sudah berada di dalam kamarnya, anak kecil itu langsung mengambil album foto Dora, yang diletakkan Richard di atas lemari. Lemari itu tingginya seukuran tubuh anak kecil itu, sehingga dia dengan mudah mengambilnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2