Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 38. MENITIPKAN BABY MAUREN


__ADS_3

Setelah berjalan beberapa meter, kini Nyonya Nadia sudah sampai depan pintu ruangan Nyonya Alena.


"Assalamualaikum."Nyonya Nadia memberi salam.


"Waalaikumsalam,"sahut nyonya Alena sambil melangkah ke arah pintu.


"Mari masuk Bu."


Nyonya Nadia menoleh ke arah belakang.


"Pak, letakkan saja koper itu di samping pintu. setelah itu Bapak bisa menunggu saya di luar."


"Baik nyonya."


Setelah selesai berbicara pada sang sopirnya, Nyonya Nadia kembali menoleh ke arah Nyonya Alena. Sedangkan Nyonya Alena dari tadi, perhatiannya tertuju pada bayi perempuan yang ada dalam gendongan Nyonya Nadia.


"Mari Bu, silakan duduk."Nyonya Alena mempersilahkan nyonya Nadia duduk di sofa yang tersedia di ruang kerjanya.


"Oh iya Bu, terima kasih."lalu Nyonya Nadia melangkah ke arah sofa yang ada di ruangan itu.


"Ibu mau minum apa, biar asisten saya siapkan."


"Air putih saja, Bu."


Nyonya Alena lalu melirik ke arah Lara. Wanita itu langsung melangkah ke samping ruangan itu, dia langsung mengambil sebuah gelas dan satu botol air putih kemasan.


Setelah menuang air itu ke dalam gelas, Lara lalu membawanya Dan meletakkan gelas itu di meja dekat Nyonya Nadia duduk. Kemudian Dia pamit untuk keluar dari ruangan itu.


Kini di ruangan itu hanya ada mereka bertiga. Nyonya Alena, Nyonya Nadia, dan baby Mauren. Kedua wanita paruh baya itu saling diam sesaat. Namun, Nyonya Alena mencoba untuk memulai obrolan di antara mereka.


"Emmm.... Kalau boleh tahu ada apa ya Ibu mengajak saya bertemu!"tanya nyonya Alena.


"Begini bu, maksud kedatangan saya ke sini, Saya mau menitipkan bayi ini pada ibu."

__ADS_1


Pandangan Nyonya Alena lalu beralih ke arah bayi mungil yang sedang tertidur pulas.


"Bayi? Saya tidak paham maksud perkataan ibu yang mengatakan menitipkan bayi."nyonya Alena masih bingung.


"Ibu Alena, bayi yang ada di dalam gendongan saya ini adalah anak Dora. cucu saya dan cucu Ibu juga."


Nyonya Alena terkejut. "Mmm.. maksudnya bayi ini anak Richard, Bu?"wajah wanita paruh baya itu mulai menegang.


Nyonya Nadia mengangguk.


Nyonya Alena lalu beranjak dari duduknya. Dia berpindah duduk di samping nyonya Nadia, diusapnya bayi mungil itu. "cantik sekali."


"Iya Bu, cantik seperti Dora."sahut Nyonya Nadia sambil tersenyum.


"Ibu kenapa tidak mengatakan pada kami kalau Dora hamil anak Richard? padahal walaupun Dora tidak hamil pun, Richard ingin sekali menikahi Dora. Bahkan kami sudah pernah datang ke rumah ibu untuk melamar Dora, Tapi sayangnya waktu itu Ibu dan Dora sudah tidak ada lagi di rumah. Dan suami Ibu juga tidak menerima niat baik anak saya."


"Bukannya saya tidak ingin mengatakannya pada ibu, tetapi waktu itu Dora memang keras tidak ingin menikah dengan Richard. Karena Dora marah pada Richard yang sudah merusak hidupnya."


"Saya benar-benar minta maaf, jika perbuatan anak saya menghancurkan kehidupan anak ibu. Tapi saya mohon, Tolong sampaikan pada Dora, bahwa Richard tidak sepenuhnya bersalah. Karena pada waktu malam kejadian itu, Richard dalam pengaruh obat perangsang, akibat dijebak oleh salah satu mahasiswinya sendiri yang bernama Irene. Dan asal Ibu tahu Irene itu juga dalang dibalik kecelakaan waktu itu.


"Terus di mana wanita itu sekarang?


"Dia sudah mendekam di penjara. Saya dengar dia divonis hukuman lima belas tahun penjara. Karena telah melakukan perencanaan pembunuhan dan juga menjebak Richard kala itu, sehingga wanita itu kena pasal berlapis


"Alhamdulillah kalau wanita itu sudah dipenjara, Karena saya takut dia akan mencelakai anak saya lagi." ucap Nyonya Alena


"Ngomong-ngomong Dora ke mana Bu, kok anaknya mau dititipkan? Kenapa tidak menikah saja dengan Richard."


Dora melanjutkan pendidikannya di luar negeri Bu. Sekitar empat tahun lagi dia akan kembali. Kita doakan saja, semoga anak kita berjodoh. Karena kasihan bayi ini kalau tidak memiliki orang tua yang lengkap."


"Iya Bu, Yang penting Ibu mau membantu Richard supaya Dora mau memaafkannya.


"Iya Bu, masalah itu serahkan saja pada saya. yang terpenting Ibu bantu saya mengasuh cucu kita ini dengan baik. Saya tidak bisa mengasuhnya, karena suami saya tidak mengizinkannya. Ibu tahu sendiri kan, Bagaimana suami saya?"

__ADS_1


Nyonya Alena tersenyum "Iya bu, saya sangat senang sekali bisa mengasuh bayi ini. Karena dari dulu saya memang sudah sangat menginginkan seorang cucu.


"Syukurlah, kalau ibu mau menerimanya. Nanti saya akan sering datang ke rumah ibu untuk menengok cucu saya.


"Iya Bu, Ibu bisa datang ke rumah kami kapan saja Ibu mau."


"Ini Bu, bayinya."Nyonya Nadia menyerahkan bayi itu pada Nyonya Alena


Nyonya Alena dengan senang hati menerima. tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar jelas di telinga kedua wanita paruh baya itu.


"Oek....oekkk... bayi itu terbangun dari tidurnya.


"Jangan nangis ya, Sayang. ini Oma Alena, Oma kamu juga." ucap nyonya Alena bayi itu langsung terdiam menatap Omanya.


"Siapa nama bayi ini Bu?


" Dora memberi nama bayi ini dengan nama Mauren. Tapi misalnya Richard mau menambahkannya lagi, silakan saja Bu."


lalu nyonya Nadia mencium bayi itu dan beranjak dari duduknya. "Saya pamit pulang dulu ya Bu."


Nyonya Alena juga beranjak dari duduknya. "Iya Bu, terimakasih banyak. Karena Ibu sudah mempercayakan bayi ini pada kami."


"Sama-sama Bu, saya percaya anak ini akan bahagia hidup bersama Papanya. Sampaikan salam saya pada Nak Richard. Katakan padanya, jangan lelah menunggu Dora. Karena saya yakin Dora pasti akan memaafkannya.


Usai mengatakan itu, Nyonya Nadia melangkah ke arah pintu. "Bu Alena, ini koper milik Mauren."jari telunjuk Nyonya Nadia mengarah ke arah koper yang ada di samping pintu dalam ruangan.


"Iya Bu, terimakasih banyak, Maaf saya nggak bisa mengantar Ibu sampai di depan." ucap Nyonya Alena


"Nggak apa-apa Bu." sahut Nyonya Nadia sambil mengembangkan senyumnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2