Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 145. BERSIKAP DINGIN


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan larut malam, sebagian besar tamu sudah meninggalkan lokasi acara resepsi pernikahan Antonius dan juga Riana. Termasuk Richard dan para sahabat. Mereka sudah satu jam yang lalu meninggalkan ballroom hotel.


Malam ini Antonius dan Riana menginap di hotel. Tuan Bernando awalnya ingin langsung pulang ke rumah, tetapi dilarang oleh Nyonya Nadia. Karena besannya malam ini menginap di hotel. Maka dari itulah Nyonya Alena merasa tidak enak meninggalkan besannya.


"Sayang, kok kamu dari tadi diam?"tanya Antonius setelah keduanya masuk ke dalam kamar, Dia mendekati istrinya yang berdiri di depan cermin rias.


"Awas Kak, Aku mau mandi."Riana menebus tangan suaminya yang baru saja menurunkan resleting gaun pengantinnya.


Antonius duduk di pinggir ranjang, dia menangkup kedua kepalanya. Pria itu bingung melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba berubah dengan terhadapnya.


"Riana kenapa, ya? apa dia marah karena Heni datang ke pesta? pasti Dia mengira aku mengundang wanita itu. Padahal aku tidak mengundangnya. Wah ini tidak bisa dibiarkan, bisa gagal aku menggarap sawah malam ini "ucap Antonius dalam hati.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Tampak Riana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan setelan piyama panjang bermotif bunga-bunga. Kepala wanita itu dililitkan dengan handuk berwarna putih. Agar rambutnya yang masih basah itu tidak menetes di lantai kamar.


"Sayang."Antonius menghampiri istrinya.


"Kakak cepat mandi sana!"seru Riana dia melangkah ke arah meja rias untuk mengeringkan rambut panjangnya.


Antonius yang mendapat perintah mandi itu dengan semangat menyebarkan langkahnya menuju kamar mandi.


Hanya butuh waktu 15 menit saja Antonius sudah menyelesaikan mandinya. Pria itu keluar kamar mandi dengan menggunakan selembar handuk yang melingkar di bagian pinggangnya. Antonius lalu melangkah ke arah koper untuk mengambil pakaian.


Setelah mengenakan baju kaos oblong dan celana kain, yang panjangnya selutut. Antonius menghampiri istrinya yang masih duduk di depan meja rias. "Sayang kok sikap kamu dingin banget sama kakak? apa kamu marah karena tadi ada Heni?"tangan pria itu sambil membelai rambut panjang istrinya.


Riana bergeming


"Sayang, kalau kamu marah karena mengira Kakak mengundang Heni, itu salah! Kakak nggak mengundang dia. Nomor ponselnya saja kakak tidak punya. Dia itu pergi dengan temannya, Kebetulan Kakak mengundang temannya." Antonius menjelaskan panjang lebar berharap istrinya tidak marah lagi dengannya.


Riana membelikan badan ke arah suaminya. "Kak, tolong jujur sama aku, dulu waktu Kakak pacaran dengan wanita itu kakak ngapain aja?


Antonius menautkan alisnya. "Ya paling cuman jalan di Mall, Makan, nonton "

__ADS_1


"Bukan itu maksudku Kak."


Antonius baru saja paham Ke mana arah pembicaraan istrinya. "Kakak nggak ngapa-ngapain sayang. Paling pegang tangan saja. Sama kayak Kakak ke kamu. Kita pacaran berbulan-bulan Kakak sudah ngapain aja sama kamu?"


Riana membenarkan Apa yang diucapkan oleh Antonius. Selama ini Antonius hanya memegang tangan nya saja. Riana lalu menceritakan tentang apa yang diucapkan oleh Heni padanya beberapa jam yang lalu.


"Dia bohong Sayang, jangankan main di ranjang menciumnya saja Kakak nggak pernah."


Antonius lalu meraih tangan Riana. Wanita itu berdiri di depan suaminya.


"Malam ini kakak tidak ingin memegang tangan kamu saja sayang."ucapnya sambil menatap lekat mata milik istrinya.


"Kakak mau memegang semuanya." bisiknya di telinga Riana. Hembusan nafas Antonius di telinga wanita itu membuat bulu-bulu halus istrinya berdiri.


Antonius meraih pinggang yang ramping itu agar merapat ke arahnya.


"Kakak mau pegang ini." jari jempolnya mengusap alat tutur istrinya.


Antonius mendekatkan wajahnya dikecupnya kening istrinya.


Dalam hitungan detik, kain bagian atas Antonius sudah dia loloskan. Tangan kanan pria itu mulai memisahkan kancing baju dari lubangnya. Semenit kemudian, kelima kancing itu sudah terlepas. Riana langsung menutupi bagian kain yang celahnya mulai terbuka itu. Namun, usaha Riana sia-sia sebab telapak tangan yang lebih besar dari itu dengan cepat kilat meloloskan kain itu


Kain yang melingkar di bagian pinggang juga sudah Antonius turunkan ke bawah. Hingga menyisakan kain-kain kecil saja yang masih menempel pada mereka.


Alat tutur itu kembali bertaut sambil keduanya melangkah menuju peraduan panas. Ketika keduanya sudah berdiri di sisi peraduan, Antonius menuntun tubuh ramping itu, dan meletakkannya tepat di tengah-tengah.


Antonius menatap lekat ke arah Riana, membuat istrinya bersemu merah dan menutup area atas yang sudah tidak tertutup kain kecil.


"Buka sayang, kakak ingin berlabuh di sini." Antonius menjauhkan tangan Riana.


Riana terlonjak kaget, matanya menbeliak sesaat. Namun, akhirnya dia pejamkan seiring dengan jembakan tangannya pada rambut suaminya.


Tangan kanan yang kekar itu kembali meloloskan kain terakhir mereka. Sampai mata Riana menangkup sesuatu, hingga tanpa dia sadari kedua kakinya dirapatkan, karena pikirannya mulai membayangkan kengerian itu.

__ADS_1


"Kak!"


"Apa sayang?"


"Aku takut."ucap Riana cemas


"Tapi Kakak nggak bisa berhenti sayang, kakak harus menggarap sawahmu malam ini juga."


Cup!


Antonius melabuhkan ciumannya di kening sang istri.


"Kakak mulai ya, sayang?"bisiknya di telinga istrinya.


Ruang ber-AC itu, tak cukup membuat keduanya bebas dari keringat. Peluh dengan begitu bebas meluncur di pelipis pria itu, seiring dengan usahanya untuk mencangkul lebih dalam lagi.


Mata Riana sudah tak sanggup terbuka. Cengkraman tangannya, pada kain putih peraduan itu berpisah ke punggung petani dengan begitu semangat menggarap sawahnya.


Tak sadar kuku-kuku yang sedikit panjang itu menancap di punggung si petani, tapi pria itu tidak menghiraukannya. Baginya rasanya sakit di punggung tertutupi oleh rasa nikmat yang ingin dia gapai sebentar lagi.


Cangkulan itu semakin dalam, materi anak yang awalnya terpejam itu tiba-tiba terbuka lebar. Karena petani sudah berhasil mencangkul harta karun di dalam sana.


Butiran bening lolos di sudut matanya. Antonius mengecup kembali kening yang basah istrinya, sambil tersenyum pun kemenangan. Petani itu menghentikan cangkulnya, dia diamkan cangkul itu di dalam sana. Sawah yang digarap mulai terasa seperti kubangan, sebab air irigasi yang berwarna merah tiba-tiba mengalir.


"Jangan menangis sayang, maafkan kakak yang tidak bisa berhenti sampai di sini."


Melihat Riana sudah kembali tenang, petani itu mulai kembali mencangkul lebih dalam lagi. Riana kembali merasakan rangkulannya sawahnya yang awalnya gersang itu, kini kembali becek. Hingga akhirnya lahar itu menyiram bagian terdalam sawah itu. Mata keduanya terpejam, merasakan air irigasi yang begitu hangat mengalir di dalam sana.


"Terima kasih sayang." Antonius menghempaskan tubuhnya di samping istrinya, sambil satu tangannya dia lingkarkan di perut istrinya. Mata pria itu terpejam dengan senyum penuh kepuasan. Riana menatap ke arah suaminya. Tidak ada perasaan menyesal di hatinya kehilangan sesuatu yang sudah dijaga selama ini. Karena yang mengambil sesuatu itu adalah suaminya sendiri.


Bersambung...


Sambil menunggu karya ini update kembali, yuk mampir kekarnya teman emak.

__ADS_1



__ADS_2