Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 131. RUANG OPERASI


__ADS_3

"Dani, Terima kasih ya kamu sudah menjaga Mauren sampai sejauh ini."Dora menatap darah Dhani yang duduk selonjoran di ruang tengah. Punggungnya dia sandarkan pada dinding sofa. Nampak sekali pria itu kelelahan dan mengantuk. Sebab di sana dia tidak bisa tidur.


"Saya minta maaf Bu, karena terlambat menjemput Mauren."


"Tidak ada apa-apa Dan, bagaimana saat kalian disekap? apa mereka menyakiti atau menyiksa kalian?"


Dani lalu menceritakan kejadian saat dia dan Mauren dikurung dalam markas. Mereka yang awalnya tegang mendengarkan, langsung tertawa saat mendengar tingkah konyol Mauren. Saat di markas, Mauren malah bernyanyi dan berbuat kelucuan.


"Dani, lebih baik kamu istirahat di kamar tamu. nanti aku ambilkan baju ganti untuk kamu."


"Iya Bu, terima kasih."Dani beranjak dari duduknya. setelah berpamitan pada orang-orang yang ada di ruangan itu, dia langsung melangkah ke kamar tamu.


Sementara di tempat, tepatnya di sebuah rumah sakit. Saat ini Richard dan Tuan Nicholas sedang duduk di depan ruang operasi. Keduanya menunggu Arga yang sedang menjalani operasi untuk membuang timah panas yang bersarang di dalam tubuh pria itu.


"Lebih baik kamu pulang saja. Biar papa yang menjaga Arga. Wajah kamu pucat gara-gara habis mendonorkan darah untuk Arga."


"Enggak Pa, aku nggak bisa meninggalkan Arga sebelum aku tahu kondisinya. saat ini dia sedang berjuang di ruang operasi."


Tuan Nicholas lalu menghela nafas panjang.


Setelah menjalani operasi selama kurang lebih dua jam, dokter keluar dari ruang operasi. Richard dan Tuan Nicholas langsung beranjak berdiri dari duduknya, dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi teman saya Dokter?"


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan belajar. Pelurunya sudah kami keluarkan. beruntung peluru tersebut tidak mengenai organ vital pasien."tutup dokter tersebut sambil tersenyum, masih terlihat mimik wajah lelahnya.


Richard dan Tuan Nicholas saling berpandangan. "Alhamdulillah."ucap keduanya.


"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Bapak bisa kebagian administrasi untuk menyiapkan kamarnya."

__ADS_1


"Sebelum pasien dioperasi, saya sudah memesan kamarnya dokter."sahut Tuan Nicholas.


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit mau kembali ke ruangan saya."


Tak lama setelah dokter berlalu pergi, terlihat dua orang perawat mendorong banker Arga keluar dari ruang operasi.


Richard dan Tuan Nicholas langsung meliputi branker yang didorong menuju ruang perawatan. Saat ini kondisi Arga masih belum sadar. karena dia masih berada dalam pengaruh obat bius.


"Papa lebih baik pulang ke rumah. Biar aku yang menjaga Arga. besok pagi aku akan pulang untuk mengganti pakaian dan melihat anak-anak, terutama Mauren."


Tuan Nicholas menyetujui usulan Richard. Dia harus istirahat, sebab besok dia harus bekerja.


"Kamu juga istirahat. Jaga kesehatan. Mama akan ke sini untuk menggantikan kamu menjaga harga besok."Tuan Nicholas menepuk pundak Richard, lalu melangkah keluar ruang rawat inap Arga.


Setelah kurang lebih 30 menit Tuan Nicholas mengemudikan mobilnya, akhirnya pria paruh baya itu sampai di halaman rumah Richard. Dia ingin mengajak istrinya pulang ke rumah.


"Iya Pa. Kasihan Papa pasti capek dan ngantuk.


Akhirnya pria paruh baya itu memutuskan menginap di rumah Richard.


Sebelum dia masuk ke dalam kamar, pria itu menceritakan kondisi Arga. Tuan Bernando lalu mengusulkan untuk menyewa seorang perawat, merawat Arga.


"Arga nanti biar saya saja yang merawatnya. kasihan dia tidak mempunyai keluarga. Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri."tutur Nyonya Alena yang diangguki oleh suaminya.


"Ma, Bagaimana kalau kita suruh Rani saja yang merawat Arga?"


"Kok Rani, dia akan bekerja Dora."protes Antonius, sebab Rani sangat membantu sekali dalam meringankan pekerjaannya


"Kak, Arga dan Rani itu saling suka. Kalau Rani yang merawatnya, pasti Arga akan bahagia dan lebih semangat untuk sembuh."

__ADS_1


Antonius lalu menatap Tuan Bernando, seolah meminta pendapat. Yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya saja.


"Kak, suamiku berhutang nyawa kepada Arga. jadi aku ingin membalasnya dengan mendekatkan Rani pada Arga."Dora membujuk kakaknya.


Antonius lalu membuang nafas kasar. "Iya. besok aku antar Rani ke rumah sakit."


"Nah gitu dong Kak."


"Papa, Ternyata wanita itu yang menculik Mauren adalah orang yang sama yang mencelakai Dora dan Mas Richard dulu."tutur Nyonya Alena.


"Besok pagi Papa ke sekolah Mauren untuk meminta rekaman CCTV itu, untuk memberikan bukti kepada pihak kepolisian untuk memberatkan hukuman mereka." ucap Tuan Nicholas.


****


Beberapa jam kemudian, jari tangan Arga bergerak. Richard yang melihat itu terlalu mendekat ke arah ranjang Arga. Kelopak mata pria itu perlahan terbuka.


"Alhamdulillah Arga, kamu sudah sadar."Richard tersenyum senang.


Richard melihat Arga beringsut ingin bangun. "Kamu berbaring saja, tidak usah duduk. jangan banyak bergerak dulu, jahitan di pundak kamu nanti terbuka."Richard menahan lengan Arga.


"Iya, tuan. Terima kasih sudah membawa saya ke sini."


"Ngomong apa sih kamu. Ini sudah jadi kewajibanku. Apalagi aku sudah berhutang nyawa sama kamu."ucap Richard kepada Arga. Keduanya saling melempar senyum.


Bersambung.


sambil menunggu karya ini up kembali, yuk Mampir ke karya teman emak.


__ADS_1


__ADS_2