
Setelah sampai di ruangannya, Arga menghubungi HRD. dia melaporkan tindakan yang dilakukan Aulia terhadap Mauren selaku putri dari pemilik perusahaan.
Tepat jam 10.00 pagi, setelah mendapatkan laporan dari Arga, dan keterangan Atalia Aulia dipanggil ke ruang HRD. Sebelum tiba di ruang HRD, Wanita itu sudah merasa khawatir. apalagi ketika mengingat kalimat yang dilontarkan oleh Arga.
Dengan perasaan takut dan cemas, Aulia mengetuk pintu itu.
"Masuk! ucap salah seorang wanita yang usianya sudah tidak terlalu muda lagi kira-kira usianya sekitar 45 tahun. Wanita itu bertugas sebagai HRD di perusahaan milik Richard.
Beberapa menit yang lalu, wanita itu meminta kepada salah satu office boy untuk memberitahukan kepadanya agar Aulia menemuinya di ruang kerjanya.
Dengan perlahan Aulia membuka pintu ruangan itu. "Duduk!"seru wanita itu. Aulia lalu duduk di, tepatnya berada di hadapan meja kerja wanita itu.
"Apa kamu tahu mengapa saya panggil kamu ke ruangan saya ini?"tanya wanita itu dengan sorot mata tajam.
Aulia menggeleng, dia pura-pura tidak mengetahuinya.
"Baru saya lihat data kamu di sini. Ternyata kamu belum genap 1 bulan bekerja di sini. yang membuat saya heran, Kenapa kamu berani sekali mendorong Ibu Mauren? tidak mungkin kan kamu tidak mengetahui siapa sosok Ibu Mauren di kantor ini?"ucap wanita itu dengan tegas.
Aulia bergeming, kepala wanita itu terlihat menunduk. Dugaannya memang benar, kalau dia dipanggil ke ruang kerja HRD ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi.
"Baru Pak Arga menghubungi saya, melaporkan perbuatan kamu ini sekitar satu jam yang lalu. Apa yang kamu lakukan ini sangat fatal. Pak Arga tidak bisa mentoleransi tindakan kamu. Jadi, mohon maaf kalau saya harus mengatakan, mulai hari ini kamu bukan karyawan di perusahaan ini lagi."ucap wanita itu kepada Aulia.
Kepala Aulia yang awalnya menunduk kini kembali tegak. dia terkejut kalau tindakannya tadi pagi langsung mengakibatkan dirinya jadi berhenti dari pekerjaannya. Dan saat ini dia pengangguran. Dia mengira dirinya hanya akan mendapat surat peringatan saja.
"Bu, Kenapa saya langsung dihentikan? harusnya ada tahapan-tahapan dulu sebelum memecat seorang karyawan."Aulia protes.
"Apa mbak Aulia lupa, di perusahaan ini kamu statusnya masih training. Andai kamu sudah mencari karyawan kontrak pun, kamu tetap akan dipecat tanpa melalui tahapan surat peringatan. Sebab Apa yang kamu lakukan itu sudah sangat fatal. masih untung kamu tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib oleh Pak Arga. Kalau tidak, kamu sudah mendekam di penjara."tutur sang HRD. Lalu dia membuka laci meja kerjanya. wanita itu mengambil amplop berwarna putih. Dan menyodorkannya kepada Aulia. "Ini gaji kamu selama bekerja di sini."sang HRD memberikan amplop putih berisi uang 2000 Bath
__ADS_1
Aulia menerima amplop berisi uang tersebut.
"Baiklah, tugas saya sudah selesai. silakan kamu ke masih bareng-bareng milik pribadi kamu yang ada di meja kerja. Semoga di luar sana kamu bisa menemukan pekerjaan yang lebih baik lagi."
Aulia tidak menyahut, dia langsung beranjak berdiri dari duduknya, dan keluar dari ruang kerja sang HRD.
Setelah keluar dari ruangan itu, tangan satunya yang tidak memegang amplop itu nampak mengepal kuat. "Awas kamu Mauren, di sini kamu bisa lah berkuasa. Tapi tidak di luar sana. Aku akan memberikan perhitungan sama kamu."Dendam di hati Aulia kian membuncah. Dia benar-benar ingin melampiaskan dendamnya terhadap Mauren.
Apalagi setelah hubungannya dengan Bimbim semakin merenggang akhir-akhir ini. membuat dirinya kehilangan ATM berjalannya.
Andai saja hubungannya dengan Bimbim masih dekat, dia tidak akan Jika saja dia pengangguran. Tapi masalahnya sekarang, hubungannya dengan Bimbim sudah tidak memiliki kejelasan lagi. Bahkan Bimbim sudah enggan bertemu dengannya.
Kebutuhannya selama ini dipenuhi oleh Bimbim, sehingga Aulia merasa terlena. Dia merasa hidupnya sudah enak, karena Bimbim menafkahinya walaupun hubungan keduanya belum ada ikatan pernikahan.
Oleh karena itu, Aulia merasa dirinya terancam dan tidak akan dapat hidup enak lagi, jika Bimbim memutuskan hubungan dengannya. Sehingga, emosi Aulia tidak terkendali. Dia selalu menyalahkan Mauren, kalau mau rela penyebab renggangnya hubungan keduanya. Walaupun memang itu benar adanya. Tapi bukan berarti, Dia bebas menyelakai Mauren.
"Sudahlah Pa, aku baik-baik saja. bagi aku ini luka biasa saja."
"Kamu pulang saja ya, Mauren. istirahat di rumah. Nanti Pak sopir yang akan mengantarkan kamu pulang."
"Iya, Pa. aku akan istirahat dulu di rumah 1 hari."
"Anak pintar."Richard mengusap kepala putrinya.
Setelah keluar dari ruang kerja Mauren, Richard memanggil Arga ke ruang kerjanya.
"Ada apa, Tuan. Ada yang bisa harga bantu? tanya harga ketika dirinya sudah tiba di ruang kerja Richard.
__ADS_1
"Arga, segera kamu blokir akses Gadis itu agar dia tidak bisa bekerja di perusahaan manapun di kota ini!"perintah Richard yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.
"Baik, Tuan. Apa ada lagi yang harus saya lakukan pada gadis itu?"
"Cukup itu saja dulu. misal di luar sana dia masih mengganggu Mauren, Kita akan ambil tindakan lebih lanjut."ucap Richard kepada sang asisten.
Mauren dibantu oleh Atalia berjalan sampai ke teras perusahaan. Gadis itu akan diantar oleh supir perusahaan. "sepertinya kaki kamu terkilir Mauren."
"Iya, Lia. aku rasa juga begitu."
Baru saja Mauren dan Atalia sampai di teras, Aulia juga sampai di teras. Setelah keluar dari ruang HRD wanita itu berpamitan terlebih dahulu dengan teman-temannya. Makanya dia baru saja keluar dari kantor.
"Heh .. baru begitu saja langsung main pecat. bisanya cuman memanfaatkan kekuasaan orang tua saja."sindir Aulia.
Mauren dan Atalia saling berpandangan. pasalnya keduanya tidak tahu mengenai pemecatan Aulia.
"Oh, rupanya ada yang baru saja dipecat. dan dia tidak terima,"balas Atalia menyindir Aulia.
"Heh, aku tidak ada urusan dengan kamu,"Aulia menatap geram Atalia.
"Sudah Lia, tidak usah kamu ladeni perempuan ini. Itu Pak sopir sudah datang. kamu bantu aku masuk ke mobil."perintah Mauren. Dia sudah muak berhadapan dengan Aulia.
"Sombong sekali kamu, Mauren. di kota ini bukan hanya perusahaan keluarga kamu saja, masih banyak perusahaan besar yang siap menerima aku menjadi karyawan di sana."ucap Aulia dalam hati saat mengayunkan langkah menuju area parkir roda dua.
Dia tidak tahu, sebagaimana berpengaruhnya Richard, Tuan Nicholas, Tuan Bernando, dan juga Antonius selaku kakak kandung dari Dora. Andai saja dia tahu, dia tidak akan berani berbuat semena-mena terhadap Mauren.
bersambung...
__ADS_1