Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 232. VIDEO CALL


__ADS_3

Selama berada di New Zealand, Mauren dan Bastian mengabadikan kebersamaan mereka, melalui rekaman video dan foto melalui kamera ponsel dan kamera digital yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.


Saat mereka makan di salah satu restoran, keromantisan itu pun mereka perlihatkan. Mauren membuka tas ranselnya, dialognya tangan suaminya dengan tisu basah. Tak ketinggalan mulut suaminya dia lap menggunakan tisu kering. Bastian bahagia mendapat perlakuan seperti itu. Dia juga mengambil tusuk kering untuk mengelap mulut istrinya.


Beberapa saat kemudian, ponsel Bastian mendapatkan notifikasi. Bastian mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya. Pria itu tersenyum ke arah Tuan Bernard. Ternyata pria itu mengirim video saat dia dan Mauren saling membersihkan mulut, serta video Bastian menyuapi istrinya.


"Siapa Mas, yang kirim pesan?"


Bastian tidak menjawab, dia hanya memperlihatkan video Mauren yang dikirim oleh Tuan Bernard.


Bastian lalu memposting video itu ke akun sosial media miliknya yang berlambang pink. dia ingin memperlihatkan pada dunia, bahwa dia adalah pria yang paling bahagia, memiliki istri yang cantik dan perhatian seperti Mauren.


Tak mau ketinggalan, Mauren juga memposting beberapa video dan foto ke akun halaman sosial media miliknya yang berlambang pink. Berbeda dengan bulan madunya bersama Bimbim, dulu dia hanya memposting foto dirinya sendiri. Tanpa ada Bimbim di sana. Kali ini mau rentak tampar aku memperlihatkan suaminya pada dunia. banyak foto suaminya bertebaran di akun halaman sosial media miliknya.


Sementara di tempat lain tepatnya di rumah Cynthia, tampak Riska sedang bertamu di rumahnya. Saat ini keduanya duduk di Gazebo samping rumah, karena tempat di sana adalah tempat yang paling enak untuk duduk bersantai. Angin saat sore hari terasa sepoi-sepoi, sebab di halaman depan dan samping rumah Cyntia terdapat banyak pepohonan.


"Tante Kenapa merestui Bastian menikah dengan gadis itu?"


"Tante terpaksa, Riska."


"Yah, tante, kalau begini bagaimana nanti aku bisa menikah dengan Bastian."


"Kamu tenang saja. Tante akan membuat mereka bercerai."


Mendengar hal itu, Riska tersenyum. "Terima kasih, ya Tante."Riska lalu memainkan ponselnya, dia melihat pembaharuan di akun sosial media berlambang pink miliknya. tangannya yang bebas dari ponsel mengepal kuat saat melihat video di akun sosial media milik Bastian.


"Ada apa, Riska?"


"Tante, coba lihat ini."Riska memperlihatkan ponselnya pada Cynthia. Melihat video itu, seharusnya Cynthia sebagai orang tua Bastian senang melihat putranya diperlakukan baik oleh istrinya, tapi ini malah sebaliknya.


Cynthia tidak senang melihat keromantisan yang ada di video itu. Dia tidak ingin putranya semakin tidak terpisahkan dari Mauren.


"Tante, coba lihat."Riska juga mengintip akun sosial media milik Mauren. Semakin panas saja dadanya melihat keromantisan yang diperlihatkan oleh Maureen.


"Sok pamer banget."sungut Riska.


"Sabar ya, Riska, mereka baru saja menikah dan Lagi bulan madu, Jadi wajar saja saat ini mereka terlihat romantis. Nanti lama-lama Bastian juga bosan sama istrinya."


Riska mengangguk. "Tante, sekarang sudah jam 05.00 sore, sebentar lagi Om akan pulang. Lebih baik aku pulang dulu. Nanti aku akan main ke sini lagi." ucap Riska setelah dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru, Riska? suami tante sekarang jarang pulang sore,"ucap Cynthia yang merasa keberatan ditinggal oleh Riska. sebab Dia masih butuh teman untuk ngobrol.


"Sebentar lagi mama pulang dari rumah sakit. Mama juga di rumah sendirian, Tante."


Cynthia tidak bisa menahan Riska lagi. diyakini termenung seorang diri. Sebab Dia baru saja membaca pesan dari suaminya yang mengatakan malam ini tidak pulang karena ada urusan di luar kota.


"Kok kamu sekarang jarang pulang mas? weekend juga sering ketemu klien."keluh Cynthia dalam hati.


Di waktu dan tempat berbeda, sejak mengetahui kenyataan yang diungkap oleh Bimbim, Mario sekarang menjadi sosok yang pendiam. Dia sekarang hidup dalam penyesalan. Menyesal karena tidak memperjuangkan Mauren saat status mau menjadi janda.


Hatinya semakin sakit saat melihat kemesraan Mauren dan Bastian di dalam akun sosial media milik mantan kekasihnya. harusnya dia yang berada di posisi Bastian. Mendapatkan Mauren seutuhnya dan merenggut indahnya bulan madu saat ini.


Tak berbeda jauh dari Mario, Bimbim yang sedang berada di ruang kerja juga melihat postingan di akun sosial media milik Bastian dan Mauren. Walaupun sudah mengikhlaskan, tapi setumpuk penyesalan masih belum hilang.


Bayangan Beberapa bulan yang lalu saat dia pergi berbulan madu dengan Mauren kembali terlintas di kepalanya. Andai saja waktu itu dia tidak membawa Aulia, dan memperlakukan Mauren benar-benar sebagai istri, sudah pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti yang Bastian lakukan saat ini.


***


Malam ini di rumah keluarga Bernando sedang ada acara makan malam. selain keluarga kecil Richard dan Antonius, kakek Bernando juga mengundang keluarga kecil Cornel.


Setelah makan malam, Dora kembali mengambil ponselnya. dia dan suaminya sedang berada di ruang tengah, berkumpul di tengah orang-orang yang diundang makan malam oleh kakek Bernando.


"Dari tadi sore mas melihat kamu selalu senyum-senyum saat melihat ponsel, Memangnya ada apa?"tanya Richard dengan suara lirih.


"Aku juga suami yang romantis."


"Romantis apa? yang ada cuman mesum."


"Kalau aku nggak mesum, nggak bakalan ada Mauren dan Andika, sayang."


"Iya, sangking mesumnya, sampai nekat main di tenda."bisik Dora.


"Hahaha... kamu sampai sekarang masih ingat peristiwa di tenda."Richard tidak bisa menahan tawanya. membuat perhatian orang-orang yang ada di sana beralih padanya.


Kring... kring...


"Mas, ini Mauren meminta sambungan video call."Dora bergegas menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Mauren.


layar ponsel diarahkan Dora pada orang-orang yang ada di sana. semua orang melongok melihat Bastian sedang mendusel dusel hidung mancungnya pada pipi Mauren.

__ADS_1


"Ini Bastian apa dia tidak tahu kalau Maureen sedang melakukan sambungan video call?"tanya Dora


"Sepertinya dia tidak tahu,"sahut Cornel yakin.


Di New Zealand, tepatnya di atas kapal pesiar, Mauren dan Bastian sedang menikmati pemandangan kota.


"Mas, Aku menelpon mama."


"Iya, sayang."pria itu tidak memperhatikan ponsel yang dipegang oleh Maureen. dia duduk di samping istrinya. Kedua tangannya mendekap tubuh wanitanya. Bastian menatap gemas wajah istrinya, apalagi bagian pipi istri yang terlihat menggemaskan, sehingga akhirnya pria itu menciumi Bibi istrinya sampai pipi itu berubah menjadi merah.


"Mas! aku lagi video call sama mama."tegur Mauren.


Bastian menghentikan aktivitasnya. dia menoleh ke arah ponsel istrinya. pria itu seketika terkejut, sebab di layar itu bukan hanya ada mama mertua saja, melainkan juga ada Papa mertua, kedua orang tuanya, bahkan juga ada kakek Bernando yang terlihat membetulkan posisi kacamatanya.


Orang-orang yang ada di ruang tengah seperti menonton adegan romantis pada sebuah drama Korea, sebab Dora memegang ponselnya dengan posisi diperlihatkan ke orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Sa... sayang, kamu Kenapa baru bilang kalau lagi video call. Aku kira kamu cuman telepon biasa, bukan video call."ucap Bastian lirih.


"Kalian lagi di mana, sayang?"tanya Dora.


"Kami lagi di kapal pesiar, Ma."Mauren mengarahkan kameranya ke arah pemandangan sekitar.


Kamera kembali diarahkan seperti semula. Cornel tidak berkata apa-apa. Pria itu hanya melihat ke arah Bastian. Nampak kebahagiaan terpancar dari wajah putranya. Cornel ikut bahagia melihat putranya yang sekarang lebih banyak tersenyum.


"Bastian, Kok diam?"Celetuk Moresette. Cornel langsung menyenggol dengan istrinya.


"Habis ini kalian mau ke mana, Bastian?"Cornel mencoba mengalihkan pertanyaan istrinya.


"Mau pulang ke hotel. kami sudah hampir seharian jalan-jalan. besok lanjut wisatanya lagi, Pa."


"Kak, di sana jam berapa? kok masih siang?"Laura ikut menimpali.


Bastian melihat jam tangannya. "Jam 05.00 sore."


"Sudah dulu ya, kami mau turun dari kapal."ucap Mauren sebelum mengakhiri panggilannya.


"Ini baru namanya bulan madu. bukan seperti yang dulu, bulan madu membawa pacar."ujar kakek Bernando .


"Pa, yang sudah berlalu jangan diungkit lagi. sekarang cucu kita sudah hidup bahagia dengan suaminya yang sekarang."nenek Nadia memperingatkan.

__ADS_1


"lebih baik kita doakan semoga setelah pulang dari New Zealand, cucu kita langsung hamil."ucap Nyonya Nadia kepada sang suami.


bersambung..


__ADS_2